84792_13396.jpg
nasional tempo.co.id
Politik · 3 menit baca

Mempertanyakan Kemurnian Idealisme Mahasiswa Saat Ini

Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kata idealisme? Sebuah kata yang memiliki arti keyakinan dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia, terutama mahasiswa. 

Belakangan ini mahasiswa di beberapa daerah Indonesia ini sedang giat-giatnya melakukan demonstratsi dengan tuntutan bermacam-macam. Ada yang menuntut harga cabai mahal, kedelai mahal sehingga tempe menjadi setipis ATM karena kekurangan bahan baku. 

Yang lain menuntut perbaikan ekonomi karena anjloknya rupiah terhadap dolar Amerika. Mereka pun menyuarakan keinginan mereka dengan suara yang lugas dan lantang seperti penyanyi yang dibayar mahal oleh sebuah acara stasiun tv.

Namun inti dari semua tuntutan mereka adalah satu, yaitu ganti presiden jungkring yang bernama Joko Widodo. Salah satu kota atau daerah yang tervirus aksi itu adalah tempat saya menimba ilmu, yaitu kota Medan. Mahasiswa dari gabungan beberapa kampus di kota Medan membentuk aliansi untuk melakukan demo di depan gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan.

Demo ini pun berakhir ricuh dan terpaksa harus dibubarkan paksa oleh petugas. Truck water canon dikerahkan, gas air mata dilepaskan, dan polisi pun membubarkan paksa kelompok mahasiswa itu. Hinaan-hinaan pun menghujani kinerja polisi ini. Tak tanggung-tanggung kata-kata yang tidak pantas pun harus polisi terima hanya karena melakukan tugas sesuai denga SOP. 

Yang membuat konyol adalah kata-kata kotor itu terlontar dari mulut mahasiswa yang demo tadi dengan alasan membela dan menyuarakan aspirasi rakyat. Saya tidak yakin kalau rakyat Indonesia menitipkan kata-kata kotornya kepada mahasiswa-mahasiswa ini. Tidak berhenti sampai di situ, gerakan-gerakan yang menyebut generasi 98 pun bermunculan di beberapa media sosial.

Saya mempertanyakan posisi dan kapasitas para mahasiswa ini dalam demo tersebut, di mana antara ucapan dan perbuatan terlihat jelas perbedaannya. Jika generasi 98 membela dan menuntut hak mereka sebagai manusia dan warga negara di sebuah negara besar seperti Indonesia, maka generasi 98 versi 18 ini justru jauh dari kata membela. Semua seperti memiliki kepentingan yang jauh dari kata perjuangan murni. 

Hal inilah yang membuat saya miris melihat kapasitas idealisme mahasiswa saat ini. Terlalu banyak bicara tanpa data, dan cenderung melupakan 1000 kebaikan hanya karena 1 kekurangan. Ingat bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan selagi masih berlabel manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan.

Inilah yang menyebabkan bahwa di setiap era pemerintahan itu pasti memiliki dua sisi antara kekurangan dan kelebihan. Ini adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi, beriringan, dan sulit terpisahkan. Dan untuk menentukan apakah pemerintahan itu berhasil atau tidak harus memakai data yang riil sebagai acuan objektivitas.

Bukan malah menilai dengan kemahatauan perorangan yang justru itu bersifat subjektif. Inilah kadang yang membuat mahasiswa salah kaprah dalam menyikapi suatu permasalahan. Mereka (mahasiswa) cenderung mengedepankan sikap keterburu-buruan dan idealisme, sedangkan idealisme mereka belum benar-benar teruji oleh kehidupan ini.

Ingat bahwa sesuatu yang tidak matang akan membawa dampak  baik dan buruk dalam tubuh kita. Ketika suatu perjuangan dengan dasar idealisme tanpa diiringi dengan logika berpikir yang jernih, maka yang akan terjadi adalah kemunduran pola pikir. 

Baca Juga: Mahasiswa Sesat

Pendidikan itu kan proses memanusiakan manusia, yang artinya ada pembentukan karakter, disiplin, kemajuan berpikir, dan kemampuan menimbang yang benar dan salah. Lantas, jika pendidikan itu gagal mendidik manusia tadi, yang katanya maha tapi justru kelakuan dan perilaku tidak mencerminkan sama sekali, bukankah itu suatu kemunduran berpikir dari orang-orang yang seharusnya pemikir?

Bangsa Indonesia ini tidak kekurangan orang pintar. Hanya saja terlalu banyak di negeri ini yang hanya pintar mencari kesalahan orang lain sehingga lupa untuk membangun bangsanya sendiri yang sudah jauh tertinggal dari bangsa lain. Bersikap kritis itu adalah suatu bukti kemajuan demokrasi dengan disertai menyampaikan pendapat. Tapi kita harus betul-betul paham kondisi dan situasi saat kita mau mengkritik seseorang itu.

Ada posisi yang harus kita lihat, ada langkah yang harus kita pertimbangkan, memikirkan baik dan buruk dari kritik yang kita sampaikan. Dan lagi, sepertinya para petinggi bangsa kita ini yang dulunya juga pernah mahasiswa harus kembali belajar mengenai etika dan sopan santun saat mengkritik. Saya rasa akan sangat jauh lebih penting mahasiswa zaman sekarang ini memikirkan cara untuk membantu negara tercinta ini.

Daripada turun ke jalan, merusak fasilitas umum, mengganggu aktivitas masyarakat, dan bahkan memaki-maki aparatur negara, ingat kawan bahwa melaksanakan tak segampang mengucapkan. Anda boleh saja bising di jalan-jalan raya dengan tuntutan berbagai macam. Yang harus anda ingat bahwa pemerintah mati-matian mewujudkan semua yang ada di pikiran kalian itu. Bahkan sebelum kalian memikirkannya, mereka (pemerintah) sudah mempertimbangkannya.

Sadarlah kawan bahwa bersuara tidak harus berteriak, dan melawan tidak harus memukul. Kami dalam dunia pertanian sering mengatakan ini dengan keseimbangan.

Mari kita jadi pelopor kemajuan bangsa ini, bukan malah pelopor untuk kemajuan ego kita.