“Pada umumnya orang tak tahu balas budi, besar mulut, berpura-pura, takut bahaya, dan rakus. Selama bisa memuaskan orang seperti itu, mereka jadi benar-benar tunduk kepadamu....”

Pemimpin dipilih oleh rakyat tentunya menghabiskan dana kampanye yang tidak sedikit, pemimpin/penguasa terpilih dengan jalan demokrasi telah dinanti dengan tugas berat. Melaksanakan amanah dan mempertahankan kekuasaan sampai akhir masa jabatannya usai.

Untuk mendapatkan kekuasaan di periode selanjutnya, para penguasa pun cerdik mencari simpati dan dukungan untuk bisa terpilih kembali di periode selanjutnya. Nah, di bumi Nusantara yang dikenal dengan budaya korupsi ini mempertahankan kekuasaan saja tidak mudah, apalagi mendapatkan kekuasaan periode selanjutnya!

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara mempertahankan kekuasaan. Di bawah ini penulis uraikan beberapa cara para penguasa mempertahankan kekuasaannya, seperti:

Penguasa tidak segan-segan mengeluarkan kue manis dengan jumlah yang banyak kepada aktor dan aktris yang bermulut besar untuk menutup mulut dan ditugaskan sebagai pendengung suara pemerintahan untuk memikat hati rakyat.

Agar dicintai masyarakat, program pro rakyat dikeluarkan dan memajukan daerah dengan pembangunan-pembangunan nyata yang memanjakan masyarakat.

Mempertahankan kekuasaan bisa juga datang dari kepribadian seorang pemimpin itu sendiri, ia mempunyai aura karisma. Pemimpin dengan aura karisma biasanya punya pengikut yang banyak, dihormati, dicintai, pendapat-pendapatnya dihargai, dan dipatuhi segala perintahnya.

Karisma pemimpin tak lepas dari kepribadian dan gagasan yang cemerlang, daya tarik seorang pemimpin yang berkarisma tak hanya mempertahankan kekuasaan, tapi juga bisa melanjutkan kekuasaan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Hari ini, dalam politik tidak ada yang namanya cinta; yang ada kepentingan. Cinta telah hilang dari seorang pemimpin, lebih mementingkan diri sendiri. Dari itu, menurut hemat penulis, ada cinta dari seorang pemimpin dapat memberi kekuatan dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin.

Cinta memberi ketulusan tanpa pamrih, tak kenal rasa takut, tak dapat disuap dengan proyek-proyek menggiurkan, tak dapat diintimidasi oleh siapa pun, baik lawan politik maupun temannya sendiri di lingkaran kekuasaan: terutama suara-suara yang dapat melemahkan kekuasaannya.

Rasa cinta dari seorang pemimpin memberi kekuatan dalam menjalankan amanah dan energi yang dikeluarkan benar-benar untuk kepentingan rakyat.

Nah, dari uraian di atas timbul satu pertanyaan: Mempertahankan kekuasaan lebih bagus mana dicintai atau ditakuti?  Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita dengar pernyataan Niccolo Machiavelli di bawah ini,

Lebih bagus dicintai daripada ditakuti atau lebih ditakuti daripada dicintai? Sebaiknya sama-sama ditakuti dan dicintai, karena sulit mendapatkan keduanya sekaligus, jauh lebih biak ditakuti daripada dicintai, jika salah satu harus dipilih. Sebab bisa dikatakan bahwa pada umumnya orang tak tahu balas budi, besar mulut, berpura-pura, takut bahaya, dan rakus; selama kamu memuaskan orang seperti itu, mereka jadi benar-benar tunduk kepadamu; mereka akan rela mati bagimu, rela menyerahkan harta, hidup, dan anak-anak mereka kepadamu. Bila bahaya mendekat, mereka berontak dan orang lebih mudah melawan dia yang berusaha dicintai daripada dia yang berusaha ditakuti; karena cinta bertahan berkat rangkaian kewajiban yang bersifat keakuan dan berhenti sesudah dipenuhi; tapi rasa takut tetap bertahan karena selalu ada ancaman hukuman.

Dari pernyataan Machiavelli di atas dapat ditafsirkan bahwa manusia mempunyai sifat-sifat yang bisa berubah, penguasa yang awalnya dicintai oleh rakyatnya bisa saja berubah ketika keadaan tak lagi memihak pada dirinya. Namun, penguasa yang ditakuti; dalam keadaan apa pun rakyat tetap tunduk kepada penguasa.

Namun, ketika ada rasa takut kepada penguasa maka kebebasan/kemerdekaan tak dapat dinikmati oleh rakyat. Penguasa yang didasari rasa cinta/dicintai oleh rakyat lebih bertahan lama dibandingkan dengan paksaan atau dengan kekerasan.

Raja Firaun yang dikenal bengis dan memperbudak dengan paksa manusia ketika itu, tak bertahan lama dalam dinasti kekuasaannya. Kerajaannya runtuh dan ia pun binasa karena merasa paling hebat.

Beda halnya dengan sosok Nabi Muhammad Saw, pemimpin politik berkarisma yang berangkat dari energi cinta bisa mempersatukan kelompok yang bertikai dan berselisih di Madinah dan menjadikan Madinah sebagai kota aman dan nyaman bagi siapa saja.

Uraian singkat ini, ingin menegaskan bahwa setiap penguasa mempunyai cara dan strategi yang unik dalam mempertahankan kekuasaannya: entah itu cara baik atau cara yang tidak bermoral dan cara dicintai atau ditakuti.

Di alam demokrasi berwarna hedonis dan pragmatis sekarang ini, tidak mudah bagi seorang penguasa/pemimpin mempertahankan kekuasaannya, godaan datang dari segala sudut dan penjuru baik dalam bentuk harta kekayaan maupun wanita. Lain lagi dengan para penjilat dan para pengkritik yang sama-sama tumbuh subur.

Hati manusia tak selamanya sama, ia bisa berubah. Manakala kue manis tak lagi manis, ia akan berontak. Manakala proyek tak sesuai penjatahan, ia akan berulah. Manakala putih tak lagi putih, ia akan bernoda. Dan manakala cinta tak lagi cinta, ia akan benci. Jika seperti ini, bagaimana mempertahankan kekuasaan?

Hal ini, penguasa yang punya ambisi perlu kiranya mempertimbangkan perkataan Prof. Salim Haji Said yang disampaikannya dalam acara Karni Ilyas Club, Prof. Salim mengatakan “Kalau anda punya ambisi, jaga baik-baik nama anda, jangan salah melangkah, langkah yang salah itu pasti akan dimanfaatkan oleh lawan politik anda.”

Lawan politik tentu saja ingin menggoyang kekuasaan yang sedang berjalan, tapi dalam politik tidak ada kawan dan lawan sejati yang ada hanyalah kepentingan. Dalam sebuah syair disebutkan bahwa,

            Waspadalah terhadap musuh anda sekali

            Namun waspadalah terhadap teman anda seribu kali

            Karena bisa jadi teman itu akan berbalik

            Dan ia membinasakan anda dengan suatu bahaya.