Resesi ekonomi sudah di depan mata. Bahkan secara teknis Indonesia sudah mengalami resesi ekonomi.

Indonesia tidak sendirian. Beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brazil, dan India adalah negara-negara yang juga terancam resesi jika pada September ini pertumbuhan ekonominya masih minus. 

Perekonomian Indonesia pada September atau triwulan III ini diperkirakan masih minus 1 persen, setelah pada triwulan II kemarin mengalami pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen.

Badan Pusat Statistik menerbitkan survei terkait dampak Pandemi COVID-19 terhadap dunia usaha dengan responden 34.559 perusahaan, dengan rincian 25.256 usaha menengah kecil (UMK), 6.821 usaha menengah besar (UMB) dan 2.482 pertanian. 

Dalam survei tersebut, pelaku usaha yang paling terdampak pandemi adalah usaha-usaha di sektor akomodasi dan makan-minum, jasa lainnya dan transportasi dan pergudangan. Meskipun demikian, hampir semua sektor usaha mengalami penurunan pendapatan yang bervariasi antara 20% sampai dengan 80%.

Badan Pusat Statistik dalam laporan komponen pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto pada triwulan II menunjukkan bahwa sektor yang masih tumbuh positif adalah pertanian, informasi dan komunikasi serta pengadaan air. Dalam kondisi sulit, tampaknya bisnis yang terkait dengan kebutuhan primer masih mampu bertahan. 

Dalam survei dari PPMB FEB Univ Muhammadiyah Surakarta pada bulan Juli 2020, ada informasi menarik terkait dengan meningkatnya konsumsi makanan dan obat herbal untuk meningkatkan imun.

Dalam kondisi resesi, pilihan bagi pebisnis adalah melakukan strategi bertahan dan juga mengidentifikasi peluang-peluang yang bisa digali dari ceruk pasar (market niche) yang ada. Pelaku usaha saat ini mendapatkan tantangan yang luar biasa berat untuk bertahan dalam kondisi perekonomian seperti ini. 

Penurunan daya beli masyarakat dan kondisi pandemi yang menyebabkan mobilitas manusia dibatasi menjadi penyebab utama penurunan pendapatan perusahaan. Bagaimana pelaku usaha mensikapi hal ini dan strategi bisnis apa yang harus dilakukan?

Efisiensi Biaya

Dalam kondisi penurunan permintaan karena penurunan daya beli konsumen, maka pilihannya adalah melakukan efisiensi. Efisiensi yang paling mudah dilakukan adalah efisiensi biaya. Efisiensi biaya dilakukan dengan mengurangi atau menghilangkan biaya paling tinggi. 

Biaya paling tinggi dalam usaha besar dan menengah adalah biaya tenaga kerja. Hal ini yang melatarbelakangi perusahaan besar dan menengah yang terdampak pandemi melakukan pengurangan jam kerja, membuat penjadwalan kerja secara bergilir (shift) dan pada akhirnya melakukan pemutusan hubungan kerja, meskipun bersifat temporer.

Efisiensi biaya juga bisa dilakukan dengan mengurangi biaya produksi. Perubahan proses bisnis dengan mengurangi waktu penyelesaian sebuah produk atau proses bisnis adalah bentuk dari efisiensi biaya produksi. Penggunaan teknologi bisa mengurangi biaya produksi, misalnya mengaktifkan penggunaan marketplace untuk mengurangi biaya tenaga pemasaran atau bisa juga mengurangi biaya distribusi.

Perusahaan juga bisa melakukan identifikasi ulang segmen pasar dengan menganalisis ceruk pasar (market niche) yang selama ini tidak diperhatikan. Beberapa perusahaan di bidang MICE (Meetings Incentive Conference and Exhibition) terutama yang terkait dengan event organizer pelatihan, mulai masuk ke segmen pelajar dan mahasiswa dengan penawaran pelatihan soft skill untuk memperkuat kompetensi mereka. 

Sebelum masa pandemi, perusahaan-perusahaan tersebut lebih banyak masuk ke segmen pelatihan untuk karyawan dan manajer, namun saat ini mereka mulai masuk ceruk pasar lain untuk bertahan hidup.

Perusahaan juga mengharapkan stimulus dari pemerintah untuk bertahan di tengah ancaman resesi. Stimulus yang diharapkan adalah pengurangan atau penundaan pembayaran pajak, restruktukturisasi pinjaman perusahaan di perbankan, keringanan tagihan listrik untuk usaha dan kemudahan pinjaman modal usaha bagi usaha kecil menengah. 

Beberapa ide untuk memberikan stimulus ini misalnya adalah adanya rencana untuk penerapan pajak 0 persen bagi mobil baru. Kebijakan ini dimaksudkan untuk membantu pemulihan bisnis otomotif di Indonesia yang mengalami penurunan cukup dalam.

Strategi bertahan dalam situasi saat ini targetnya bukan lagi meningkatkan kinerja melainkan mempertahankan bisnis agar tetap hidup dengan optimisme bahwa pada waktu-waktu yang akan datang kondisi ekonomi mengalami perbaikan. Optimisme yang perlu dijaga adalah suatu saat penularan COVID 19 bisa dikendalikan dan  kehidupan akan berjalan normal kembali.  

Inovasi Bisnis

Dalam survei yang dilakukan BPS terkait dampak pandemi COVID 19 terhadap dunia usaha, ternyata ada 17 persen pelaku usaha yang sudah menyiapkan pengembangan atau diversifikasi usaha. Hal ini berarti dalam kondisi perekonomian yang terancam resesi, ada pelaku usaha yang cukup optimis melakukan inovasi bisnis. 

Kita bisa melihat contoh beberapa usaha dibidang makanan dan minuman baik restoran maupun katering yang melakukan diversifikasi usaha dengan membuka layanan delivery (pengiriman) ke rumah pelanggan dan juga menyediakan makanan beku serta bahan mentah untuk jasa home cooking.

Perusahaan di bidang akomodasi dan makan minum adalah salah satu sektor usaha yang terdampak parah oleh pandemi COVID 19. Mereka inilah yang saat ini melakukan pengembangan usaha untuk bertahan. 

Beberapa hotel melakukan diversifikasi dengan menyediakan jasa menyewakan kamar untuk kepentingan co-working space bagi pekerjaan-pekerjaan ekonomi kreatif, misalnya web desain, software developer, dan penulis dengan paket yang menarik. Beberapa hotel di Solo dan Jogja juga mulai mengembangkan bisnis kafe wedangan dengan konsep outdoor sehingga masih memenuhi syarat protokol kesehatan.  

Hal yang menarik dari strategi bisnis untuk bertahan di masa resesi adalah keputusan perusahaan untuk memperkuat aktivitas dan infrastruktur pemasaran digital. Berdasarkan survei BPS tentang dampak pandemi COVID 19 terhadap pelaku usaha, pelaku usaha yang sudah melakukan aktivitas pemasaran digital sejak sebelum pandemi mengalami penurunan penjualan yang lebih sedikit.

Pemasaran digital sebagai sebuah strategi bisnis ternyata berdampak positif bagi perusahaan untuk mencegah penurunan bisnis mereka di masa pandemi ini.