Setelah lebih dari satu setengah tahun  ditutup karena pandemi Covid-19, akhirnya secara bertahap perkuliahan tatap muka kembali dibuka. Berbagai universitas satu persatu mulai membuka kampusnya dengan protokol kesehatan yang ketat. 

Bagi generasi milenial mahasiswa S1 angkatan  2020-2021 seperti anak saya, ini adalah pengalaman pertama merasakan duduk di bangku kuliah dalam arti yang sebenarnya. 

Menjelajah kampus yang selama ini hanya mereka kenal secara visual, mengenal dosen-dosen dan teman-teman seperjuangan yang selama ini hanya mereka kenal secara virtual.

Bagi para mahasiswa khususnya yang tinggal di luar kota, momen ini menjadi awal bagi mereka untuk hidup mandiri. Mereka harus mulai memasuki dunia kost-kostan yang penuh tantangan. 

Generasi millennial yang biasa hidup dalam pengawasan orang tua, harus mulai menata hidupnya sendiri dan menjadi survival di perantauan.  Pastinya banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk mendukung kelancaran dan kesuksesan dalam menempuh studi. 

Kemampuan untuk mengatur keuangan, pola hidup dan pola pikir menjadi keharusan bagi para mahasiswa pejuang kost-kostan.

Biaya Pendidikan

Ketika memilih kampus dan program studi yang dituju pastinya sudah ada kesepakatan antara anak dengan orang tuanya. Artinya biaya pendidikan yang menjadi tanggung jawab orang tua ini sudah dapat diperhitungkan sebelumnya dan disesuaikan dengan kemampuan orang tua mendanai pendidikan hingga mahasiswa lulus. 

Mulai dari sumbangan pendidikan atau uang pangkal dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayar per semester. Biaya-biaya ini masih ditambah dengan pengeluaran untuk buku-buku, peralatan dan kebutuhan praktek laboratorium.

Walaupun sudah diperkirakan sebelumnya, para milenial bisa membantu orang tuanya untuk meringankan biaya pendidikan. Saat ini banyak institusi yang menawarkan bea siswa pendidikan bagi mahasiswa kurang mampu ataupun mahasiswa berprestasi.

Kesempatan ini dapat digunakan sebaik-baiknya, bahkan layak menjadi salah satu agenda kompetisi para mahasiswa pejuang kost-kostan untuk membantu meringankan beban orang tuanya. Selain itu kecanggihan teknologi saat ini memungkinkan berkurangnya biaya buku dengan adanya berbagai modul atau buku-buku digital. 

Hal ini dapat membuat mahasiswa lebih irit, dana bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain atau ditabung untuk hal-hal yang lebih berguna di masa depan.

Biaya hidup

Berbeda dengan mereka yang telah bekerja, sumber keuangan utama para mahasiswa pejuang kost-kostan ini berasal dari orang tuanya. Mereka harus mampu mengatur uang dari orang tuanya untuk biaya hidup, yang biasanya didapatkan secara rutin di awal bulan. 

Biaya kost, biaya makan, kebutuhan pribadi dan transportasi menjadi komponen utama bagi biaya hidup. Mereka harus bisa mengaturnya agar tidak boros dalam pengeluaran, tapi juga agar tidak terlalu irit hingga membuat mereka sakit. 

Apalagi di masa pandemi ini, dibutuhkan berbagai suplemen tambahan untuk menambah daya tahan tubuh. Sehingga hidup sehat tetap harus menjadi prioritas.

Generasi milenial ini bisa mulai belajar menghitung pengeluaran hariannya. Berapa biaya makan tiga kali sehari, dan berapa biaya transport pulang pergi kampus. 

Mereka juga bisa memperkirakan kebutuhan pribadi bulanan, termasuk mengalokasikan uangnya untuk jajan dan rekreasi. Mereka harus bisa berhemat, menahan diri dari budaya konsumtif dan berfoya-foya dengan uang orang tuanya. 

Terlalu boros di awal bulan akan membuat mereka terlalu ngirit di akhir bulan. Bahkan berdasarkan pengalaman, beberapa terpaksa diet keras atau makan makanan yang tidak sehat karena keterbatasan uang kiriman. Hal ini yang harus dicegah agar mereka tidak menjadi sakit.

Pola Hidup

Para mahasiswa pejuang kost-kostan wajib untuk hidup dengan sikap disiplin dan tanggungjawab. Mereka harus mampu membagi waktu kesehariannya dengan baik.  Kapan waktu untuk kuliah, mengerjakan tugas, bersosialisasi, belajar, istirahat, makan, tidur dan beribadah. 

Mereka harus bisa bertanggung jawab pada diri sendiri dan fokus pada cita-citanya. Hal-hal yang mengganggu di luar target pencapaian dapat diabaikan terlebih dahulu. Terbatasnya kemampuan orang tua dalam mendanai pendidikan patut menjadi pertimbangan. 

Dan ini menjadi alasan kuat bagi mereka untuk berjuang, berupaya lulus tepat waktu dan tentunya dengan hasil yang memuaskan.

Selain itu hidup mandiri di perantauan juga akan membuat mereka menyadari kerasnya kehidupan. Mereka bukan hanya harus berjuang untuk kelancaran dan kesuksesan studinya, tapi juga berupaya mengatur hidup agar kebutuhan sehari-harinya dapat terpenuhi dengan baik. 

Ketidakdisiplinan dalam mengatur keuangan misalnya, akan membuat mereka keteteran. Atau bila mereka tidak bertanggung jawab pada tugas kuliah juga akan membuat studinya bermasalah. 

Apalagi bila mereka terlena dengan pergaulan tak tentu arah, akan semakin jauh dari pencapaian cita-citanya. Maka kontrol diri terhadap pola hidup dengan kedisiplinan dan tanggung jawab menjadi sangat penting.

Pola Pikir

Para mahasiswa pejuang kost-kostan ini perlu belajar sabar dan tenang menghadapi masalah. Kedewasaan mereka akan diuji ketika mereka harus menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang tua. 

Pola pikir yang positif akan sangat membantu mereka untuk bisa survive dalam perjuangannya. Mereka juga perlu dipersiapkan ketika menghadapi kondisi force majeure atau sakit, minimal tahu bagaimana cara mendapatkan pertolongan pertama. Mereka harus dibekali dengan pengetahuan tentang bagaimana menjaga kesehatan badan dan pikiran. 

Olah raga teratur dan bersosialisasi akan mencegah mereka dari stres dan kejenuhan rutinitas sehari-hari.

Disinilah sebenarnya pentingnya komunikasi, baik dengan orang tua, dosen maupun teman. 

Walaupun penting untuk bisa menyelesaikan masalah sendiri, tapi juga penting untuk mengkomunikasikan masalah saat mereka merasa tidak mampu. Walaupun hidup mandiri di kost-kostan, bukan berarti mahasiswa hidup sendiri.

Lingkungan akan memberikan dukungan yang diperlukan, bila ada keterbukaan sikap ketika terjadi masalah. Apalagi orang tua yang tentunya akan selalu memberikan dukungan bagi anak-anaknya dalam suka dan duka. 

Pola pikir yang sehat akan mendukung para mahasiswa pejuang kost-kostan ini untuk berkembang secara positif sebagaimana mestinya. (IkS)