Freelancer
2 bulan lalu · 280 view · 3 min baca menit baca · Politik 55318_34997.jpg
ANTARA Foto

Mempermalukan Diri Sendiri

Fenomena yang saat ini terjadi adalah terkadang kita merasa diri paling benar, padahal di mata orang lain itu tidak benar. Kita berteriak menyuarakan kebenaran, tetapi bagi orang lain itu salah. Itu sering terjadi dalam kehidupan kita.

Tanpa sepengetahuan kita, bahwa orang yang beranggapan dirinya benar, padahal bagi orang lain tidak, maka pada saat itu dia telah mempermalukan dirinya sendiri. Dia tak sadar akan itu, tetapi terus menyuarakan kebenaran menurut dirinya sendiri. Ini menjadi pengamatan saya juga dalam pemilu kali ini.

Cobalah saudara sekalian lihat capres Prabowo dan para pendukungnya mengatakan mereka menang dengan jumlah suara 62 persen, tapi apa? Nyatanya mereka menurut hasil real count sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) mereka kalah.

Belum lagi, Prabowo yang waktu lalu menyuarakan dirinya menolak hasil penghitungan suara oleh KPU. Mereka berdalih bahwa pemilu 2019 curang. Ini juga disuarakan dengan lantang. 

Sadarkah kita bahwa Prabowo dan pendukungnya telah mempermalukan dirinya sendiri? Sadarkah kita rasionalitas rakyat dikelabuhi, padahal hasil sebenarnya tidak demikian? Inilah yang sangat memprihatinkan.

Diri sendiri dan juga rekan-rekannya berani bersuara, padahal rakyat sudah melihat mereka masih kalah. Mereka tidak malu bahwa rakyat bisa jadi nyinyir di ruang publik maupun media sosial sampai menghujat mereka. Sungguh kutak menyangka akan seperti ini.

Menolak sama dengan mempermalukan


Nah, ketika terjadi sorakan menolak hasil pemilu, maka saat itu telah terjadi mempermalukan diri sendiri. Banyak narasi-narasi yang dibangun untuk mengajak masyarakat sependapat dengan tim Prabowo-Sandi, tetapi ketika media cetak maupun elektronik mengeluarkan rilis terbaru atas hasil penghitungan suara tingkat nasional, maka saat itu rakyat tahu bahwa Prabowo-Sandi untuk sementara waktu masih kalah dari Jokowi-Amin.

Tinggal sekitar empat hari lagi kita mendapatkan hasil resmi KPU yang patut kita tunggu. Tetapi, menjelang pengumuman resmi tersebut, kita melihat dan mendengar adanya narasi belum bisa menerima hasil rekapitulasi tersebut. Masih ada narasi mengatakan ada kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif.

Bahkan, adanya usaha ingin “people power” atau sudah diganti dengan diksi “gerakan kedaulatan rakyat”. Apa pun namanya, tetap saja itu tidak diperkenankan. Jangan membuat istilah-istilah lain tetapi artinya tetap sama, yakni mau memobilisasi massa bahkan dapat berujung pada makar.

Marilah kita lihat pernyataan dari Amien Rais bahwa beliau berharap tak ada yang menghalangi penggunaan istilah itu. Dia mengatakan, jika nantinya ada yang menghalangi pendukung Prabowo dengan tagline barunya “kedaulatan rakyat”, penghalang itu akan digilas (detik.com, 15/5).

Tengoklah diksi itu begitu memancing amarah rakyat. Mendengarnya dan membacanya saja kita sudah jengkel, bagaimana kalau benar-benar dilakukan? Maka, terjadilah mempermalukan diri sendiri.

Pihak yang ikut dalam “people power” maupun “kedaulatan rakyat” yang digaungkan itu, percayalah rakyat akan mengolok-olok tindakan itu dan berkata “sudah kalah, tetapi masih belagu”. Tindakan itu adalah sangat memalukan. Rakyat sudah disadarkan bahwa jika ada kecurangan pemilu, maka adukan ke Bawaslu atau uji ke Mahkamah Konstitusi.

Jadi, ketika lari dari aturan hukum yang ada, berarti diri sendiri sudah dipermalukan. Tetapi, kalau masih tetap dilakukan aksi yang tidak perlu tersebut, maka rakyat akan mengatakan “urat malu sudah putus”.

Sanksi sosial akan diberikan oleh rakyat kepada pihak-pihak yang ikut dalam aksi “kedaulatan rakyat” itu. Rakyat akan marah dan melihat bahwa capres Prabowo tidak bisa menerima kekalahan. Beliau mau menangnya saja, sehingga memainkan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya. Ini sangat memalukan!

Hukum yang kita anut selama ini “dikangkangi” oleh pihak-pihak tersebut. Mereka tak sadar hukum, sehingga menggalang massa berbuat inkonstitusional. Jujur, ini sangat memalukan!

Kalau diteruskan juga, maka akan kacau negeri ini. Hukum sudah dipermainkan dan dianggap telah tiada. Yang terjadi kita mainkan hukum rimba, barbar, dan tindakan memakan sesama sendiri.

Delusi kemenangan telah menghinggapi capres yang kalah, sehingga memainkan politik delusi dengan sebutan “people power” atau “gerakan kedaulatan rakyat”.

Disadarkan

Jadi, agar tidak ada tindakan mempermalukan diri sendiri maupun delusi kemenangan, maka mari kita sadarkan kubu BPN Prabowo-Sandi dan pendukungnya yang ingin melakukan aksi menolak hasil pemilu.


Cara menyadarkannya adalah dengan menyuarakan dan mendesak mereka untuk tidak melakukan narasi-narasi kekacauan dan inkonstitusional.

Kita menyadarkan mereka dengan memberikan informasi, dalam bentuk lisan maupun tulisan, baik di media cetak maupun elektronik. Atau, tidak ikut dalam aksi mereka. Biarkan saja dua, tiga, atau empat orang yang menyuarakan kecurangan menurut versi mereka sendiri.

Mari juga kita sadarkan bahwa “people power” atau “kedaulatan rakyat” tidak dapat dijadikan alasan menolak hasil pemilu, melainkan “people power” biasanya dilakukan karena sebagian besar ketidakpuasan mayoritas masyarakat atas penguasa otoriter yang berkuasa lama, korup dan bertindak sewenang-wenang.

Ayo sadarkan mereka agar tidak terjadi mempermalukan diri sendiri di hadapan rakyatnya sendiri.

Artikel Terkait