Dalam dunia militer, lazimnya kita mengenal 3 angkatan, yaitu Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Sebuah negara tidak bisa hanya mengandalkan satu angkatan saja dalam berperang maupun mempertahankan kedaulatannya. Letak geografis menjadi penentu. Jika wilayah suatu negara memiliki laut, tentu Angkatan Laut dan Angkatan Udara harus menjadi garda terdepan militer negara tersebut.

Sejarah mencatat Inggris pernah menguasai 22 persen wilayah bumi karena membangun angkatan lautnya dengan baik. Angkatan Laut Inggris menjadi paling digdaya di era kolonialisme sehingga ada motto “Britania Rules the Waves”. 

Amerika Serikat memenangkan perang dunia 2 di kawasan pasifik juga karena memiliki Angkatan Laut dan Angkatan Udara yang kuat untuk mengalahkan Jepang.

Kejayaan Negara Maritim Masa Lampau

Lantas bagaimana dengan Indonesia? 

Sebelum Republik Indonesia ada, terdapat Kerajaan Majapahit yang mengalami puncak kejayaan pada 1450-an. Wilayah kekuasaan Majapahit mencakup luas mulai dari Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Indonesia bagian timur. 

Pengaruh dan ekspansi Majapahit sampai pula ke negeri-negeri seberang dari semenanjung Malaya (Malaysia), Tumasik (Singapura), serta sebagian Thailand dan Filipina. Angkatan Laut Majapahit waktu itu sangat kuat sehingga disebut sebagai Talasokrasi atau Kemaharajaan Bahari.

Kejayaan tersebut tak lepas dari penguasaan teknologi kapal laut yang memang saat itu menjadi satu-satunya transportasi laut yang menghubungkan daerah-daerah kekuasaannya dan kapal Jong Majapahit sangatlah disegani. Menurut Irawan Djoko Nugroho dalam bukunya Majapahit Peradaban Maritim (2011), jumlah armada Jong Majapahit ketika itu mencapai 400 kapal, lebih besar daripada armada kapal yang dimiliki Voc (Belanda), Eic (Inggris), Spanyol, dan Portugis pada tahun sesudahnya (1674).

Popularitas Nusantara mulai meredup ketika para penguasa melupakan lautnya. Dominasi niaga laut Jawa berakhir saat Panembahan Senapati memberontak terhadap Kerajaan Pajang. Lebih dari itu, Panembahan Senapati malah membubarkan dan menelantarkan armada laut yang selama ini menjadi kedigdayaan Nusantara.

Panembahan Senopati mengisolasi Jawa dari luar. Akibatnya, dominasi negara maritim yang pernah berjaya itu terus meredup. Apalagi para penerus Panembahan Senapati senantiasa menakuti rakyatnya agar tidak melaut dengan kisah angker Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan Jawa. Perilaku Raja yang meminggirkan negara maritim dan melupakan sejarah kejayaan Majapahit mengakibatkan Nusantara kian terpuruk.

Militer Indonesia disegani Dunia

Pada masa pemerintahan Bung Karno, arah politik Indonesia lebih condong ke blok timur untuk melawan Belanda dalam pembebasan Papua. Laksamana Martadinata mengatakan, “Uni Soviet adalah satu-satunya negara yang siap membantu Inonesia dengan syarat-syarat yang dapat diterima Indonesia.”

Uni Soviet memberikan bantuan sangat besar dalam membangun Angkatan Laut dan Angkatan Udara Indonesia yang nilainya mencapai 2,5 milyar USD.

Angkatan Laut Indonesia pernah memiliki satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia saat itu, yaitu KRI Irian. Sebuah kapal perang yang memiliki bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Bandingkan dengan kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas sigma hanya berbobot 1600 ton.

Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey yang memiliki penembak peluru kendali, ditambah 2 kapal sebagai pasokan suku cadang. Kesemuanya pensiun begitu Bung Karno jatuh, sedangkan satu buah dijadikan museum.

Angkatan Udara Indonesia pernah menjadi angkatan udara paling ditakuti di dunia. Indonesia memiliki ratusan pesawat tempur canggih, yaitu 20 pesawat pemburu supersonic MI6-21, 30 pesawat MI6-15, 49 pesawat tempur high-subsonic MI6-17, dan 10 pesawat supersonic MI6-19.

Pesawat MI6-21 fishbed buatan Soviet adalah salah satu pesawat supersonic paling canggih masa itu. Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis TU-16 Tupoler. Ini membuat Indonesia menjadi salah satu dari hanya 4 negara yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Inggris.

Bung Karno dalam biografi Omar Dani, Pergunakanlah Hati, Tangan, dan Pikiranku: Pledoi Omar Dani (2001), Bung Karno menginginkan semua angkatan kuat. “Kita musti mempunyai Angkatan Darat yang kuat, Angkatan Laut yang kuat, Angkatan Udara yang kuat. Ketiga-tiganya harus sekuat mungkin.”

Menganakemaskan Angkatan Darat

Peristiwa G-30S/PKI mengubah arah politik dan kebijakan Indonesia. Jatuhnya Bung Karno membuat Angkatan Darat menjadi kekuatan yang paling dominan di Republik Indonesia. Kebijakan pemerintah Orde Baru lebih menganakemaskan Angkatan Darat, kebijakan pertahanan lebih mengutamakan perkembangan Angkatan Darat daripada angkatan lain.

Asvi Warman Adam, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan, “Pada masa Suharto, Angkatan Udara menjadi anak tiri dan Angkatan Darat dinomorsatukan.” AURI benar-benar dikebiri, banyak pesawatnya dilarang terbang dan pabrik roket ditutup. Angkatan Udara yang di masa Sukarno menjadi kekuatan tempur menggentarkan, praktis kehilangan daya.

Angkatan Laut Indonesia lebih beruntung dari Angkatan Udara karena tidak dikebiri oleh Suharto. Alutsista Angkatan Laut tetap diperbarui oleh Orde Baru dengan penambahan beberapa KRI dan kapal selam. Namun, Angkatan Laut tidak mempunyai pengaruh politik sekuat Angkatan Darat walau Orde Baru menerapkan Dwi Fungsi ABRI.

Tidak pernah ada Panglima ABRI dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara di masa Orde Baru. Semua panglima ABRI berasal dari Angkatan Darat. Hanya Sudomo, perwira Angkatan Laut yang pernah menjadi panglima Komando Pemilihan Keamanan dan Ketertiban.

Reformasi TNI 

Saat masuknya Indonesia ke masa reformasi, terjadi reformasi ditubuh ABRI. TNI dipisahkan dengan Polri dan dihapuskannya Dwi Fungsi ABRI. TNI dan Polri dikembalikan kembali tugasnya untuk mengurusi pertahanan dan keamanan. Tidak boleh lagi ikut campur masalah politik.

Panglima TNI tidak lagi hanya dipilih dari Angkatan Darat, sudah ada 2 panglima TNI dari AL dan 2 dari TNI AU di masa reformasi. Rekonsiliasi di tubuh TNI sudah berlangsung, stigma atas TNI AU sudah habis terkikis.

Tantangan militer Indonesia saat ini adalah memperkuat semua angkatan bersenjatanya, baik Angkatan Darat, Laut, dan Udara. Posisi Indonesia yang strategis dan berada dalam ancaman konflik Laut China Selatan memaksa Indonesia harus waspada dan siap berperang. Indonesia sebagai negara maritim harus sadar, fokus saat ini adalah memperkuat TNI AL dan TNI AU yang harusnya menjadi kekuatan uatama di negara maritim.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengatakan ‘Si Vis Pacem Parabellum”. Bila ingin perdamaian maka bersiaplah untuk berperang. Komitmen Prabowo adalah memodernisasi alutsista Indonesia. Sejauh ini Prabowo sudah mengincar pesawat Sukhoi dari Rusia dan pesawat jet Rafale, kapal selam Scorpone, dan kapal perang Gowind dari Prancis.