Memiliki seorang anak adalah amanah yang sangat besar, Allah SWT menitipkan anak kepada setiap orangtua untuk dapat mendidiknya menjadi manusia sholeh dan sholehah yang cinta kepada Allah SWT dan cinta kepada Rasulullah SAW.

Menerapkan pola asuh yang baik dapat melahirkan anak yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. 

sebaliknya pola asuh yang tidak baik tentunya akan berdampak buruk pada diri mereka. Maka tidak heran jika banyak ditemui anak yang memiliki adab yang buruk seperti bullying, berbohong, mencuri, memukul dan lain sebagainya.

Lebih lanjut banyaknya anak di bawah umur yang sudah berani menonton video seksual dari berbagai platform media sosial seperti youtube, instagram, twitter, dan telegram di luar pantauan orangtua. 

Begitulah gambaran generasi saat ini, namun anak tidak dapat disalahkan karena mereka hanyalah sebagai korban, justru ini merupakan evaluasi bagi orangtua bagaimana seharusnya mendidik dan mengasuh anak dengan pola asuh yang baik dan benar berdasarkan ajaran Islam.

Pepatah Arab berkata “مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ” yang artinya “Barangsiapa yang menanam dia akan menuai.” 

Kata mutiara tersebut memberikan arti bahwa setiap orangtua perlu waspada dan berhati-hati atas apa yang mereka lakukan, karena di setiap perbuatan yang telah dicontohkan dan digambarkan oleh orangtua maka akan melekat pada diri seorang anak.

Dalam hal ini anak merupakan bentuk copy paste dari orangtua, segala macam perbuatan yang dilakukan oleh anak merupakan cerminan dari orangtua. Maka disini saya akan membahas apa saja pola asuh yang baik berdasarkan ajaran Nabi dan Rasulullah SAW dalam ajaran Islam.

pertama Quality time bersama keluarga, kebersamaan keluarga merupakan suatu hal yang sangat berkesan dan sangat berharga serta tidak dapat tergantikan. Kebahagiaan anak dengan keluarga adalah kebahagiaan nomor satu.

Quality time bersama keluarga dapat membentuk hubungan yang harmonis antara ayah, ibu, maupun anak, dapat membentuk keluarga yang saling memahami kondisi satu sama lain, mensupport satu sama lain, saling peduli, saling bertukar cerita, memahami kekurangan, menghargai pendapat.

Sehingga dengan quality time hubungan keluarga akan lebih hangat, harmonis, serta kecintaan keluarga semakin bertambah.

Dengan ini, anak akan beranggapan bahwa keluarga adalah faktor utama yang harus selalu didahulukan dibandingkan kepentingan lainnya.

Kedua tidak pilih kasih, salah satu peran orangtua yang sangat diharapkan oleh setiap anak adalah memberlakukan anaknya dengan adil ataupun tidak pilih kasih. Perilaku pilih kasih akan berdampak pada diri anak sampai ia dewasa.

Seorang anak akan merasa bahwa keberadaannya tidak dihargai, merasa tidak percaya diri, merasa kesepian, dan merasa keberadaan keluarga tidak dapat memahaminya.

Maka tak heran jika anak yang kurang akan perhatian orang tua akan memiliki sifat introvert, sering memendam permasalahan sendiri, serta susah bergaul. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

فَاتَّقُوا اللَّهَ ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kepada Allah dan bersikap adillah kepada anak-anakmu.”

Ketiga penuh kasih sayang, sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada buah hatinya. Banyak orangtua yang mengeluh dengan anak yang kurang menyayanginya

Namun semestinya ia mengevaluasi diri apakah ia telah memberlakukan anaknya sebagaimana yang ia harapkan kepada anak atas dirinya?, hal ini berkaitan dengan sabda Rasul yang berbunyi:

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barangsiapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayang,”

Oleh karenanya Rasulullah SAW bersamaan dengan sabdanya memberikan teguran kepada setiap orang bahwa jika ingin disayang maka harus menyayangi orang lain. 

Hal tersebut juga berlaku salah satunya bagi orangtua terhadap anaknya, jika ia ingin senantiasa disayang dan dihormati oleh anaknya maka semestinya ia selalu menyayangi anaknya.

Keempat mengajarkan dasar-dasar Islam sejak kecil, selain membentuk rasa kasih sayang pada anggota keluarga, mendidik dasar-dasar agama sejak kecil sangatlah penting.

Sebagai orangtua tidak hanya menanamkan rasa cinta anak kepada keluarga namun juga rasa cintanya pada Islam dan Allah SWT beserta RasulNya.

Hal ini merupakan kewajiban yang harus didahulukan dibandingkan segalanya, sudah semestinya dalam diri seorang muslim mendahulukan kecintaan Allah dibandingkan kecintaan lainnya. 

Dalam hal ini melalui riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” 

Kelima memberikan suri tauladan yang baik, orangtua merupakan figur yang paling dekat dengan anak. Kepribadian orang tua akan dicontoh lebih dahulu oleh seorang anak. 

Maka tidak heran jika terdapat ungkapan “Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya,” yang memberikan arti bahwa akhlak dan kepribadian seorang anak adalah cerminan orang tua.

Hal tersebut disebabkan oleh waktu anak yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tuanya dibandingkan lingkungannya. Oleh karenanya sebagai orangtua harus hati-hati dalam menjaga sikap di hadapan buah hatinya

Terutama pada masa golden age adalah masa di mana anak selalu menirukan apa yang diajarkan dan dilihat dari orangtuanya.

Keenam mengajarkan shalat dan puasa, sholat adalah ibadah yang wajib. Sholat sangat berpengaruh kepada akhlak. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

إنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar (Q.S Al-Ankabut: 45)

Selanjutnya dalam hal berpuasa pun tak kalah pentingnya terutama puasa di bulan Ramadhan. Orangtua dapat mengajarkan puasa kepada anaknya seperti puasa setengah hari. Puasa dipercaya mampu menanamkan akhlakul karimah.

Hal tersebut dikarenakan dengan puasa seorang anak terlatih untuk senantiasa takut kepada Allah, dapat mengendalikan emosi, melatih kesabaran, mananamkan sikap istiqamah, melatih sikap amanah, dan memaafkan kesalahan orang lain.

Ketujuh mengajarkan akhlak mulia, dalam membentuk akhlak yang baik pada anak, terlebih dahulu sebagai orang tua menghindari pola asuh yang kasar seperti membentak, memarahi, memukul, dan lain sebagainya. Karena hal tersebut akan berdampak pada psikologis dan adab seorang anak. 

Diibaratkan ketika seseorang menggambar di atas kertas dengan pensil secara halus maka akan menjadikan gambaran yang rapih dan indah, namun jika ia lakukan dengan kasar dan penuh ketidaksabaran justru akan menjadikan kertas yang sobek dan tidak dapat disatukan kembali seperti sedia kala. 

Hal yang sama jika mendidik anak dengan kasar maka akan menjadikan anak yang temperamental serta tidak menghormati orangtua sedangkan jika mendidiknya dengan sabar dan penuh tanggung jawab maka akan menjadikan anak yang berbakti kepada orangtua memiliki sikap tenang, stabil, dan kalem.