94147_12704.jpg
Rumah Harta Gono-gini, Bagaimana Hukumnya? - Blog 99.co Indonesia | Ulasan & Berita Seputar PropertiBlog 99.co Indonesia | Ulasan & Berita Seputar Properti
Hukum · 3 menit baca

Memperebutkan Harta Gono-Gini

Arti kata harta menurut KBBI adalah barang (uang dsb) yang menjadi kekayaan; barang milik seseorang. Mendengar kata “harta” sepertinya akan muncul berbagai asumsi/pemikiran yang timbul di pikiran kita. Harta merupakan salah satu aset yang dapat menunjang kehidupan yang nantinya bisa diwariskan kepada anak maupun cucu kita kelak. Zaman sekarang ini harta bisa dibilang bisa dalam jumlah yang sedikit bisa juga dalam jumlah yang banyak. Seseorang memperoleh/mendapatkan harta lantaran adanya kerja keras dalam membuka usaha ataupun kerja mati-matian.

Membina suatu hubungan yang baik tanpa adanya masalah apalagi sampai menuju keretakan merupakan dambaan setiap orang. Namun tidak semua orang bisa merasakan hal seperti itu. Oleh karena itu, banyak pasangan suami istri yang menempuh jalan perceraian. Saat ini, perceraian telah banyak terjadi di kalangan masyarakat kita ini. Banyak hal yang menjadi alasan seseorang untuk melakukan perceraian. 

Bisa saja lantaran alasan ekonomi, tindakan kekerasan maupun tekanan batin yang begitu mendalam. Apalagi yang menjadi sorotan banyak orang saat ini adalah peceraian di kalangan selebritis.Selain hak asuh anak, Harta gono gini merupakan hal yang bisa dibilang sangat penting lantaran harta yang dulunya milik bersama kini harus dibagi dua. Seringkali setelah pasangan suami istri melakukan proses perceraian, mereka bisa berdebat dan mempermasalahkan tentang harta gono gini.Perceraian memang menjadi hal yang paling dihindari, tapi tidak dapat dielakkan demi kebaikan bersama. Segala sesuatu yang berhubungan dengan harta gono gini harus segera diselesaikan sebelum resmi bercerai.

Istilah “harta gono-gini” pada dasarnya tidak dikenal dalam UU Perkawinan kita. Dalam UU Perkawinan setidaknya dikenal 3 (tiga) jenis harta yaitu harta bersama, harta bawaan dan harta perolehan. Adapun pengertian masing-masing harta tersebut.Pertama, harta bersama adalah harta yang diperoleh selama perkawinan dan harta ini merupakan harta yang dikuasai bersama selama perkawinan.

Kedua, harta bawaan adalah harta yang dibawa oleh masing-masing pihak sebelum proses perkawinan dilakukan dan harta ini dikuasai oleh masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain, Ketiga, harta perolehan adalah harta yang diperoleh dari hadiah atau warisan. Harta ini dikuasai oleh masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Untuk membedakan antara harta bersama dan harta bawaan sebenarnya bisa dibilang cukup mudah yaitu dengan cara membandingkan tanggal yang tercantum pada sertifikat atau nota pembelian dengan tanggal perkawinan. Hal ini telah diatur dalam Pasal 35Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang bunyinya: Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama (ayat 1).Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain (ayat 2).

Setelah pemisahan harta bawaan dan harta bersama, maka pembagian harta gono-gini bisa dilakukan dengan porsi sama rata, sesuai dengan yang tertulis dalam KHI Pasal 97 (bagi umat muslim) dan KUHPerdata Pasal 28 (bagi nonmuslim). Pembagian tersebut berlaku apabila pasangan suami-istri tidak memiliki perjanjian perkawinan atau pranikah.

Dalam contoh kasus dari kalangan selebritis yaitu Farhat Abbas dan Nia Daniati sudah resmi bercerai. Namun sepertinya Farhat Abbas belum puas. Pengacara yang doyan berkicau di Twitter ini melayangkan gugatan harta gono-gininya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Senin (10/8/2015). Diakui Farhat, dirinya dan Nia memiliki aset bersama bernilai kisaran Rp 40 miliar. Merasa punya hak, Farhat pun resmi menggugat mantan istrinya tersebut. (https://www.liputan6.com/showbiz/read/2290258/).

Kemudian, kasus terkini yang sedang ramai diperbincangkan dan lagi-lagi masih dari kalangan selebritis yaitu Istri Sule yang tidak mendapatkan harta gono gini sepeser pun. Hakim menolak permintaan Lina soal harta gono gini. Hal tersebut disampaikan Abdurahman T Pratomo SH. "Dalam putusan itu telah mengabulkan gugatan ibu Lina, tapi juga menolak gugatan sebagian. Gugatan yang ditolak oleh majelis hakim berkaitan dengan mut'ah. Karena yang menggugat cerai adalah istrinya, Lina tidak mendapat harta sedikit pun dari Sule," tuturnya.Menurutnya mut'ah itu memang biasa diajukan dan merupakan standar gugatan.

Mut'ah, kata Abdurrahman, adalah pemberian tali kasih selama berumahtangga. Karena yang menggugat adalah pihak Lina sebagai istri, sehingga Lina tidak mendapat mut'ah dari Sule.

"Karena pengugatnya yang mengajukan pihak istri, mut'ah bagi istri yang menggugat tidak diberikan," ujarnya

Melihat dari kedua kasus tersebut terkadang individu memiliki persepsi serta tingkat ke-egoisan yang berbeda-beda. Di pihak laki-laki mungkin karena dia merasa dia lah kepala keluarga yang selama ini mencari nafkah. Di pihak perempuan mungkin mereka juga merasakan hal yang sama dikarenakan suaminya tidak bekerja.                                                                        

Maka dari itu, untuk mengatasi permasalahan harta gono gini ini secara adil dan tentram sebaiknya menghitung jumlah harta secara menyeluruh, melakukan konsultasi dengan kuasa hukum seperti pengacara, melakuka pembagian secara adil dan mengikuti proses yang ada sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.