65840_74709.jpg
henken.com
Budaya · 4 menit baca

Mempercayai Tuhan atau Persatuan?

Persatuan Indonesia, sebagaimana termaktub jelas dalam doktrin Pancasila kita, adalah penunjukan atas dasar kebangsaan. Bukan berarti persatuan Indonesia yang terbayangkan secara sederhana itu adalah dominasi penyeragaman yang menghendaki peleburan diversitas, melainkan persatuan yang terbentuk dari perbedaan-perbedaan yang diniscayakan dan dikonstruk dalam identitas nasional.

Sesuatu yang sangat unik sebenarnya. Kita dibiarkan untuk berbeda lantas mendeklarasikan diri sebagai satu kesatuan. Tak heran jika kemudian persatuan Indonesia akan selalu mengalami proses ikhtiar yang panjang.

Membicarakan persatuan Indonesia adalah membicarakan tentang prinsip hidup bersama dalam rumah besar kebangsaan. Heterogenitas budaya, agama, suku dan ras, adalah suatu yang membutuhkan tak sekadar kesadaran luhur untuk merawatnya, tapi juga meruwatnya. Namun, hal ini tentu akan menjadi sesuatu yang mustahil apabila ego primordialisme senantiasa menguat, terutama di waktu-waktu menjelang kontestasi politik.

Menyadari pembentukan sejarah, proses pembentukan bangsa Indonesia tak pernah lepas dari penyerbukan silang budaya. Gerak sejarah Nusantara membuktikan hal tersebut.

Sekitar awal abad masehi, sistem pemerintahan dan masyarakat tua banyak dipengaruhi oleh percampuran kebudayaan unsur pribumi dan unsur Cina. Tapi tidak lantas kemudian nusantara tercinakan sebagaimana negara-negara hellenistik terjadi pada peradaban kuno. Unsur-unsur Cina tersebut malah ternusantarakan.

Demikian pula dengan kedatangan Hindu-Budha lantaran komunikasi perdagangan lintas perairan dari Hindustan, tak juga mampu untuk mengindianisasi nusantara. Pengaruh Islam pun demikian, tak juga mampu mengarabisasi nusantara, bahkan untuk sekadar Jawa. 

Kolonialisme yang membawa Kristen, Komunisme dan Liberalisme pun tetap hanya menjadikan Indonesia kaya akan budaya serapan. Ini membuktikan jika eksistensi Indonesia tak menghendaki peleburan untuk menghapus unsur-unsur lama, tak juga menolak unsur-unsur asing yang mendorong perkembangan zaman. Melainkan menghendaki hibridasi antar berbagai kebudayaan Indonesia.

Sejak jauh-jauh hari, sebenarnya para penggagas negeri ini sudah memikirkan apa konsekuensi dari persatuan akan keberagaman yang berisi penuh dengan bermacam kepentingan dan bagaimana solusi bila kelak terjadi polarisasi. Sebab upaya menuju konflik lebih potensial dibandingkan kehendak berafinitas. 

Maka, sebagaimana yang dikatakan Yudi Latif, ketika menyusun butir ketiga Pancasila tentang Persatuan Indonesia, para pendiri negara ini memberikan basis idealitas untuk membangun komunitas imajiner bersama. Sedangkan pada butir keempat yang menjadi wadah dari Persatuan itu, diberikan basis realitas yang menyejarah terbentuknya fakta eksistensi nusantara kita.

Upaya permusyawaratan yang memiliki genealogi historis turun-temurun dari nenek moyang kita, hakikatnya, berasal dari keluhuran rasa harmoni dan kepercayaan akan sesama. Rasa harmoni ini mengambil bentuk, seperti menjauhi konflik, keterbukaan dan persaudaraan, merekatkan ratusan suku yang telah mendiami Indonesia.

Dan, tentu saja, rasa harmoni ini tidak akan pernah tercipta tanpa adanya rasa saling percaya akan sesama. Takkan mungkin jika kita tak memiliki rasa percaya sesama akan bersedia duduk satu ruangan untuk bersua suara. Ekspektasi akan ancaman, intimidasi dan koersivitas dalam permusyawaratan tentu sangat dimungkinkan, namun lenyap akibat rasa percaya pada suatu nilai universal, yaitu permufakatan.

Tetapi jika kemudian rasa kepercayaan ini mulai diperbenturkan, dikonfrontasikan, antara rasa percaya pada manusia dan pada Tuhan, manakah yang lebih tinggi kedudukannya? Maka di sinilah persatuan itu mulai dipermainkan dengan lakon sandiwara. 

Apakah ada pengandaian dalam kredo agama, Tuhan mengambil musuh besarnya manusia? Tentu tidak. Terlalu hina bagi Tuhan untuk sekadar berival dengan manusia, terlebih lagi meminta manusia untuk memusuhi sesama manusia atas dasar keberimanan pada-Nya. Di sini, tentu saja, nampak gelagat khas politik yang telah berkelindan mengelilingi kredo agama.

Dalam konteks sosial, apabila kuasa tengah diperebutkan, maka identitas primordial akan menguat. Keluarga, suku, ras, dan agama akan menjadi daya kohesivitas yang sangat menentukan sekaligus menjadi basis konflik.

Terjadinya konfrontasi antara rasa percaya pada manusia atau pada Tuhan, sebenarnya akibat tidak terefleksikannya kepercayaan itu secara transenden, tidak melampaui. Ia hanya sampai pada bentuk mitos yang serba sakralisasi dan irrasional sehingga berujung pada bentuk antagonisme semata. 

Tak ada pilihan selain memilih. Sedang pilihan yang ditawarkan pun hanya dua: kalau tidak benar, maka salah. Potret manusia monochrome yang tak lebih dari hitam dan putih.

Seharusnya antara nilai-nilai ketuhanan dan kemanusian itu melebur ke dalam dimensi epifani, tapi justru malah sengaja dipolarisasi hingga membentuk rangkaian oposisi biner yang saling mendominasi. Dan, tentu saja, sikap antagonisme ini akan menumbalkan persatuan.

Hari ini, misalnya, kita lihat bagaimana agama menjadi jalan untuk terjadinya konfrontasi tersebut. Agama sudah tidak lagi hanyut meresap secara kultural, menjelma dalam kemanusiaan dan menyatu dengan masyarakat. Tapi, dipaksa berdiri secara formal, seakan-akan tujuan agama hanyalah normatisasi dunia demi terciptanya orde langit.

Dan, tentu saja, untuk mengembangbiakkan kultur konflik ini, harus diciptakan media yang tepat, yaitu persatuan. Kita dibuat selalu mendamba persatuan, namun selalu disusupi permusuhan.

Bahkan banyak yang berlindung di balik jubah agama dengan menyebut dirinya paling patriot dalam mengecapi keindonesiaan, padahal seorang hipokrit dalam berbhineka. Bertudung klaim sejarah sebagai kontributor terbesar bagi bangsa ini seakan-akan kelompok lain tak pernah menorehkan jasa. Stabilitas konflik terus dijaga intensitasnya yang sebenarnya merupakan bagian dari kepura-puraan demi mengangkangi persatuan Indonesia. 

Kepura-puraan ini hanyalah bentuk dari rasa ketidakpercayaan pada orang lain sebagai suatu eksistensi yang harus dan senantiasa ada. Takkan mungkin kita mampu untuk membentuk nasionalisme kita hanya dengan selalu mempercayai diri kita sendiri, kelompok kita sendiri, tanpa pernah sekalipun terbesit atau bahkan secara tak sengaja orang yang selalu kita anggap salah dan asing itu ternyata berperan sangat vital bagi kehidupan berbangsa kita. 

Maka, sebenarnya, mulailah menetapkan nasionalisme kita sebagaimana nasionalisme yang dicetuskan oleh Gandhi, kemanusiaan.