Menjadi mahasiswa adalah suatu keistimewaan. Para pelajar di perguruan tinggi ini mempunyai kesempatan dan tanggung jawab besar sebagai penggerak perubahan. Perguruan tinggi merupakan ruang di mana dialektika keilmuan digerakkan secara progresif.

Karena ilmu pengetahuan adalah instrumen utama dalam memandu peradaban, maka peran mahasiswa sebagai penggerak dialektika ilmu sangat dibutuhkan. Sejarah telah membuktikan, perubahan suatu peradaban tidak lepas dari kontribusi dan mobilisasi mahasiswa. Perguruan tinggi menjadi kompas sejarah masa lalu dan masa depan. 

Sekilas tentang sejarah perguruan tinggi, Akademia adalah sebutan sekolah yang paling terkenal dan paling panjang umurnya dalam sejarah kuno. Sekolah ini didirikan di Athena pada masa Plato, sekitar abad ke-IV SM.

Sekolah ini mengajarkan filsafat sampai paruh pertama abad ke-VI M, sebelum kaisar Justinian menutupnya. Meski demikian, apa yang dilakukan oleh Justinian belum sepenuhnya menutup sekolah Akademia tersebut. Meski kemudian banyak para filsuf Akademia yang hijrah, namun sekolah tersebut tetap hidup.

Akademia bisa berumur panjang berkat sistem yang dibuat oleh pendirinya, Plato. Sebelum sekolah tersebut didirikan, ada banyak sekolah di Yunani, sebagaimana banyak sekolah di Timur kuno. Kita telah mengetahui sekolah Phytagorisme yang muncul dua abad sebelumnya, seperti juga kita telah mengetahui adanya sekolah-sekolah kaum naturalis.

Pada abad ke-V SM, muncul juga sekolah Sophisme. Sekolah ini mempunyai tugas khusus, yakni mengajarkan retorika dan tata bahasa. Dengan begitu, sekolah Sophisme telah mempersiapkan orang-orang Yunani untuk memangku jabatan-jabatan publik yang muncul bersamaan dengan kelahiran demokrasi.

Sesungguhnya, sekolah-sekolah Yunani tersebut muncul karena adanya kebutuhan yang mendesak, yaitu untuk mencetak ahli hukum dan pemimpin. Persoalan hukum adalah pusat perhatian akal.

Sekolah-sekolah itu mempersiapkan para pelajarnya menjadi pendeta dan pelayan biara yang hanya dapat dilakukan dengan memahami rahasia, tujuan serta fungsi agama dalam masyarakat.

Selain itu, sekolah tersebut mempersiapkan pelajarnya untuk dapat melaksanakan urusan-urusan duniawi dengan mengetahui ilmu hitung, ilmu dagang, ilmu ekonomi dan ilmu-ilmu lainnya.

Dilihat dari latar belakang munculnya sekolah/perguruan tinggi, yaitu mencetak generasi-generasi penerus peradaban dan dapat berkontribusi di masyarakat, ini menjadi ukuran penting dalam tradisi keilmuan.

Abad keemasan Islam, ketika peradaban manusia begitu tertata, juga kebangkitan Eropa (Renaissance), semuanya dimotori oleh kemajuan ilmu pengetahuan.

Lalu, bagaimana dengan mahasiswa abad ini? Pada dasarnya itulah kenapa status mahasiswa diciptakan. Tapi, apakah realitas sekarang, khususnya di Indonesia, sama dengan zaman Yunani kuno?

Sementara itu, latar belakang berdirinya perguruan tinggi di zaman sekarang, apalagi swasta, sangat beragam. Ada yang melulu dipicu oleh faktor finansial, faktor gengsi, dll. Semuanya bukanlah faktor yang muncul dari kebijaksanaan.

Manajemen lembaga kampus sangat menentukan output mahasiswanya. Ini berlaku juga bagi perguruan tinggi negeri. Meskipun negara mengharapkan kelahiran mahasiswa generasi pembaharu, tapi tak akan mudah terwujud bila pengelolaan, birokrasi dan sistem kemahasiswaan masih tidak relevan.

Bisa dikatakan relevan apabila sistem tersebut dapat sejajar dengan perkembangan zaman.

Pola pikir tekstual sudah tidak relevan bagi keadaan bangsa Indonesia saat ini. Perguruan tinggi sebagai penggerak, tentunya harus punya kemampuan memobilisasi bangsa. Jangan sampai masalah kedisiplinan saja masih kalah oleh pedagang di Tanah Abang.

Ini bukan bicara status, tapi bicara keharusan pada status tersebut. Zaman terus berubah dan masyarakat terus maju. Apabila perguruan tinggi tidak meng-upgrade sistem mereka, maka peran institusi sebagai lembaga intelektual akan terus mengalami penyusutan.