Dalam kajian ilmu Manajemen Pemasaran, penentuan merek (branding) serta desain kemasan (packaging) merupakan strategi utama dalam memperkenalkan produk ke pasar. Merek yang kuat, simpel dan mudah diingat dan dituliskan akan menjadi sebuah modal kuat bagi sang pemasar.

Tidak percaya, lihatlah merek-merek terkenal di sekitar kita. Merek-merek tersebut biasanya paling sering dipalsukan. Sebab, alasan konsumen membeli bukan lagi kepada fungsinya, tapi karena ingin memiliki merek tersebut. Seperti merek Louis Vuitton (LV) atau Prada dan lain sebagainya.

Meskipun sangat jarang kita temukan produk aslinya di tengah masyarakat, namun tetap saja merek-merek tersebut dipalsukan dan dijual. Kenapa dipalsukan? Karena konsumen ingin mereknya, bukan sekedar tas saja.

Bahkan ada beberapa merek yang saking terkenalnya, sehingga produk saingan pun dipanggil dengan merek tersebut. Seperti Honda, di tempat saya di Sumatera Barat, meskipun yang dikendarai itu Yamaha atau Suzuki, tetap saja disebut Honda. Honda Mio, Honda Satria dan lain-lain.

Hal yang sama terjadi pada Aqua, Rinso dan seterusnya. Yang paling legendaris tentunya Odol yang sebenarnya merupakan merek dagang pasta gigi di jaman penjajahan Belanda dulu. Sekarang, sedikit sekali orang yang tahu bahwa Odol sebenarnya adalah sebuah merek.

Saking kuatnya sebuah merek, hak atas penggunaan merek itu sendiri juga bisa diperjualbelikan. Inilah yang dinamakan dengan hak cipta merek. Merek-merek terkenal dan mendunia seperti Coca Cola ataupun Apple sudah dihargai ratusan juta dolar. Uang sebesar itu bukan untuk membeli produknya hingga sekian banyak gudang, namun hanya untuk izin penggunaan merek saja.

Begitu pula dengan kemasan. Terkadang konsumen bisa lupa bahwa produk yang dibelinya itu sebenarnya mahal karena kemasan yang menarik. Bandingkanlah harga sekantong Chitato dengan kerupuk kentang goreng hasil produksi UKM yang dibungkus dengan plastik polos dan dilampirkan kertas kecil, akan sangat terasa harganya mahal sekali. Jika dibandingkan harga per gramnya, Chitato pasti jauh lebih mahal. Kemasannya gemuk, isinya sedikit.

Merek dan kemasan yang hebat dapat juga meningkatkan citra dari produk yang dijual. Seperti ayam goreng KFC, kopi Starbucks dan lain-lain. Kedua perusahaan tersebut adalah contoh yang baik tentang bagaimana pentingnya merek bagi sebuah produk yang biasa-biasa saja.

Kopi di Starbucks sebenarnya tak ubahnya kopi biasa yang diproses secara lebih baik dan rapi, kemudian diberikan kemasan dan merek yang kuat. Jika di warung harga kopi adalah lima ribu rupiah, di Starbucks secangkir kopi bisa dihargai sampai lima puluh ribu rupiah.

Namun sayangnya, pemahaman dan pemaksimalan penentuan merek dan kemasan belum dianggap sebagai prioritas oleh mayoritas pelaku UKM di berbagai daerah Indonesia. Dengan menjamurnya berbagai usaha kecil yang dirintis oleh masyarakat, rasanya baru ada beberapa saja yang memiliki merek yang kuat serta kemasan yang menarik.

Pelaku UKM kita sepertinya masih belum berani untuk menentukan sebuah merek yang berbeda dengan merek-merek usaha sejenis yang sudah ada sebelumnya. Seperti misalnya, menggunakan kata makmur, jaya, berkah, dan lain sebagainya.

Salah satu contoh di daerah, jika pembaca berkunjung ke Los Lambuang di Kota Bukittinggi Sumatera Barat, lihatlah hampir semua merek kedai nasi kapau merupakan nama pemiliknya, dengan imbuhan Uni atau Hajjah. Misalnya Uni Lis, Uni Cah, Hj. Anna, Hj. Mes  dan seterusnya.

Bagi yang sering berkunjung tentu tidak masalah karena sudah biasa. Namun bagi yang baru datang ke Los Lambuang pasti akan cukup kebingungan. Karena semua kedai penampilannya sama, gaya penjualnya sama, setting tempatnya sama, kemasan sama, dan mereknya hampir-hampir sama. Pernah seorang teman saya yang pertama kali berkunjung ke Los Lambuang, berkali-kali menelpon untuk memastikan, “tadi katanya nasi kapau yang enak uni yang mana ya?”

Pemberian merek produk yang diambil dari nama pendiri atau pemilik sebenarnya bukan monopoli usaha nasi kapau saja. Masih banyak lagi yang lain seperti nama toko, nama keripik sanjai, dan seterusnya. Pernah satu kali saya membeli roti di yang memiliki merek Roti Bakar. Ternyata rotinya tidak dibakar dulu sebelum diserahkan ke konsumen, namun kebetulan saja penjual ya bernama Pak Bakar.

Demikian juga dengan merek-merek produk lainnya. Seperti kios jualan pulsa harus diakhiri dengan kata “cell” atau warnet dengan akhiran “net”. Atau seluruh kedai isi ulang air galon menggunakan warna biru dan lampu neon. Tata letaknya juga mirip semuanya di manapun kita membeli.

Padahal dengan banyaknya usaha yang menjamur saat ini, semestinya merek dan kemasan digunakan agar konsumen bisa membedakan kita dengan pesaing-pesaing dekat kita. Sehingga merek yang unik dan kemasan yang menarik dapat menjadi kekuatan.

Untuk itu perlu dipikirkan sebuah merek yang unik, kemasan standar internasional, slogan yang kuat serta logo yang menarik bagi produk-produk yang ditawarkan. Seringkali pelaku UKM lupa, bahwa dalam memulai niaga, sebenarnya merek dan kemasan adalah hal pertama yang perlu dipikirkan secara serius. Karena merek dan kemasan itulah yang akan menjadi pembeda antara produk yang kita tawarkan dengan pesaing-pesaing yang sudah lama berdiri sebelum kita.

Tuntutan untuk meletakkan merek dan kemasan yang baik juga semakin mendesak, mengingat sudah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Artinya, dalam waktu dekat Indonesia akan dibanjiri oleh produk-produk dari negara-negara ASEAN.

Untuk itu, sebenarnya diperlukan sebuah pelatihan atau penyuluhan oleh pemerintah mengenai bagaimana pemberian merek dan pembuatan kemasan yang menarik dari UKM. Kita ingin nantinya, agar produk-produk rumahan UKM kita dapat bersaing dan bahkan mampu pula menginvasi pasar di negara-negara tetangga.

Bayangkanlah kerupuk sanjai dijual di mall Singapura dalam kemasan seperti produk-produk indofood. Atau bayangkan batu akik dari berbagai daerah Indonesia dipamerkan di pameran Royal Jewelry Brunei Darussalam. Atau galamai Payakumbuh dipasarkan di Malaysia dengan iklan televisi seperti iklan produk cokelat.

Semuanya itu tidak ada yang tidak mungkin, selama ada pemahaman yang kuat mengenai pentingnya merek dan kemasan. Semoga bermanfaat.