Beberapa waktu yang lalu, Jentera menerbitkan artikel ilmiah saya berjudul Hegemoni dalam Novel Memoires D'Hadrien Karya Marguerite Yourcenar. Artikel tersebut kemudian dirujuk oleh Siti Fatimatus Zahro ketika menyajikan Hegemoni Kekuasaan dalam Novel Si Anak Badai Karya Tere Liye: Pendekatan Teori Hegemoni Gramsci dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia (SENASBASA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kemarin malam, Dar Halevy Feldman dari program Department of Politics and Government Ben-Gurion University memohon naskah pracetak kajian ilmiah tentang Kim Kardashian yang sedang saya kerjakan bersama staf saya. Naskah tersebut saya terbitkan lebih dulu sebagian melalui INA-Rxiv, layanan pracetak untuk Indonesia.

Melalui pengalaman singkat tersebut, saya merasa bersyukur bahwa artikel ilmiah yang sedianya ditulis untuk jurnal nasional mendapat apresiasi akademik. Selama ini saya memang lebih hobi untuk menerbitkan artikel ilmiah melalui jurnal nasional, ketimbang internasional. Dari semua artikel yang terindeks oleh Google Scholar, lebih banyak yang arahnya untuk jurnal nasional ketimbang jurnal internasional dan ‘internasional’.

Beberapa orang memang menyayangkan mengapa saya memiliki pilihan demikian. Namun, mereka yang menyayangkan gagal paham bahwa di balik hobi ini, tersirat visi untuk memperbaiki kualitas jurnal nasional. Karena itulah saya membantu para pengelola jurnal nasional, dengan mengirimkan artikel ilmiah berkelas internasional ke jurnal mereka.

Saya menyadari bahwa mengelola sebuah jurnal ilmiah nasional tidaklah mudah. Apalagi untuk meningkatkan kualitasnya. Inilah problem intrinsik dari sebuah jurnal nasional. Sudah barang tentu penyebabnya sangat logis.

Jika seorang peneliti berhasil mendapatkan penemuan penting di bidangnya, jelas ia akan mengirimkan hasilnya ke jurnal internasional. Karena jika diterima untuk dipublikasikan di jurnal internasional tersebut, maka penghargaan yang mengiringinya, baik dari komunitas bidangnya maupun institusinya. Inilah alasan mengapa hal ini jauh lebih baik ketimbang jika hasil penemuan itu dipublikasikan di jurnal nasional.

Sebaliknya, jika penemuan tadi tidak terlalu spektakuler, maka target jurnalnya pun diarahkan pada jurnal nasional. Akibat dari lingkaran setan ini: jurnal nasional akan selalu merana karena memublikasikan hasil-hasil penemuan yang tidak terlalu penting sehingga jurnal tersebut akan sangat miskin kutipan (citation) dari jurnal lain atau bahkan dari jurnal itu sendiri.

Pada akhirnya, jurnal nasional menjadi tidak memiliki faktor dampak (Impact Factor; IF). Hal sebalikya terjadi di jurnal kelas internasional.

Mengubah sebuah jurnal nasional menjadi jurnal internasional jelas sangat sulit karena harus memutus lingkaran setan tadi serta melompati jurang perbedaan yang sangat lebar. Namun, sekali saja jurnal tadi diyakini oleh para ilmuwan di bidangnya sebagai habitat alami tempat diskusi ilmiah formal dan tertulis dilakukan, maka jurnal tadi berhasil melompati jurang perbedaan antara jurnal nasional dan internasional.

Tampaknya, jurnal himpunan profesilah yang memiliki peluang untuk melakukan hal ini karena para anggota himpunan dapat sepakat menjadikan jurnal tertentu sebagai jurnal standar mereka. Jika himpunan profesi ini berskala regional, maka peluang akan makin besar. Apalagi jika berskala internasional.

Namun, bagaimana dengan jurnal yang meliput beberapa atau bahkan banyak bidang ilmu? Jawabannya jelas sangat sulit. Namun tidak mustahil. Jurnal Nature dan Science yang memiliki faktor dampak sekitar 50 merupakan jurnal gado-gado di bidang sains.

Kasus jurnal-jurnal Nature dan Science mungkin tidak dapat dipakai sebagai bahan pelajaran dalam mengubah sebuah jurnal menjadi jurnal internasional. Namun, beberapa jurnal yang dikelola secara ‘bisnis’, mulai dari kemunculannya hingga memperoleh faktor dampak dapat dijadikan sebagai pelajaran.

Dari hasil diskusi bersama beberapa kolega, terlihat paling sedikit ada dua usaha signifikan yang telah dilakukan jurnal tersebut.

Pertama, jurnal-jurnal tersebut sangat memperhatikan aspek sistem daring (online). Sistem daring membuat semua proses yang diperlukan, mulai dari pengiriman naskah, proses penjurian, serta penerbitan, menjadi sangat efisien. Selain itu, jurnal dapat diakses dari seluruh manca negara, dari Timur hingga Barat, dari kutub Utara hingga kutub Selatan.

Kedua, seluruh pengelola jurnal ‘bekerja keras’ mempromosikan jurnal ke mana saja. Hal kedua ini juga sangat ditunjang oleh akses internet serta hubungan, baik ke tokoh-tokoh bidang ilmu ataupun himpunan profesi.

Jadi, tidak heran jika kita sering menjumpai undangan untuk ‘menulis makalah’ di kotak pos (mailbox) kita dari berbagai jurnal yang tidak kita kenal. Bahkan, undangan untuk menjadi juri (reviewer atau referee) ataupun menjadi anggota dewan editor juga tidak mustahil kita terima.

Jurnal-jurnal tersebut sudah melakukan studi yang memperlihatkan bahwa mereka tidak dapat bergantung pada uang dari pelanggan jurnal, namun mereka dapat hidup dari para penulis makalah. Makalah-makalah diterbitkan dengan cara open system, dapat diunduh para pembaca secara gratis.

Biaya yang muncul dibebankan pada penulis makalah. Tentu saja kita tidak harus melakukan hal ini. Karena jika penulis harus membayar mahal, mungkin akan muncul pertanyaan tentang kualitas dan reliabilitas jurnal.

Karena Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menerapkan sistem akreditasi pada jurnal nasional di Indonesia, maka aspek ini pun tidak boleh dilupakan. Jurnal yang terakreditasi tentu saja sangat menguntungkan penulis makalah, terutama bagi staf pengajar di Indonesia karena memiliki poin penilaian cukup tinggi dalam hal kenaikan pangkat.

Dengan demikian, kita juga berusaha untuk meningkatkan nilai akreditasi yang telah diperoleh selama ini. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, meski karena sifat jurnal yang agak multi disiplin sangat sulit untuk meraih nilai A. Namun, aspek keinternasionalan jurnal tetap merupakan hal terpenting bagi kita.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk internasionalisasi jurnal ini. Pertama adalah mengundang para tokoh-tokoh ilmuwan dunia yang terkait untuk menulis hasil penelitian mereka atau review di bidang mereka. Tentu saja hal ini tidak mudah. Namun jika berhasil, dampaknya akan sangat terasa terutama dalam hal kutipan (citation).

Langkah kedua adalah menggunakan juri-juri (referees) regional hingga internasional. Langah ini tentu akan meningkatkan reputasi jurnal di mata para peneliti, meski harus diimbangi juga dengan upaya peningkatan kualitas naskah yang masuk.

Akhirnya, para pengelola jurnal pun (editor) harus bekerja keras mempromosikan jurnal, meski kita sadar bahwa para pengelola ini sudah bekerja secara sukarela tanpa pamrih. Promosi dapat dilakukan di konferensi-konferensi, pameran pendidikan dan penelitian, melalui surat elektronik langsung ke para peneliti, atau dengan cara iklan konvensional.