84151_14933.jpg
eurosport.com
Olahraga · 3 menit baca

Mempelajari Kisah Cinta Zidane dan Real Madrid

Semua orang suka bicara cinta; apa pun konteksnya, dan sejauh apa ia mengupasnya. Bicara cinta seringnya bikin kesemsem dan tersipu malu. Walaupun tidak jarang pula justru menghasilkan miris dan perih.

Tetapi kalau bicara cinta, paling mentok-mentok contoh kisah yang diambil ialah kisah Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Atau yang ketimuran ala Layla Majnun. Ini-ini saja contohnya.

Padahal, menurut saya, kisah-kisah cinta ini sudah terlalu lawas dan membosankan. Walaupun tentu, tetap ada hal yang bisa dipetik. Tapi mengapa kita tidak mencoba mencari kisah cinta yang lebih relevan dan anyar dengan kehidupan masa kini? Kisah cinta Zinedine Zidane dengan Real Madrid, misalnya, yang baru beberapa hari lalu memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka.

Kisah cinta keduanya dimulai ketika manajer sebelumnya, Rafael Benitez, harus didepak oleh Sang Presiden, Florentino Perez. Ya, Real Madrid di bawah kuasa Perez memang terkenal sering gonta-ganti pasangan. Tak cocok sedikit, Perez tak segan untuk menendang pasangan dari klub yang dikuasainya. Tak peduli apakah hubungan mereka sedang manis-manisnya atau bahkan produktif mengukir prestasi. Jika tak suka, Perez bisa mengusir kapan saja.

Setelah Benitez angkat koper dari Bernabeu, Perez menjodohkan Real Madrid dengan Zinedine Zidane, yang sebelumnya menjadi manajer tim cadangan Real Madrid, Real Madrid Castilla. Dengan nama besar Real Madrid, tugas berat ada di pundak Zidane. Ditambah Zidane yang notabenenya masih minim pengalaman untuk menangani sebuah tim, jelas hal ini membuat sebagian orang ragu akan hasil kemampuannya membersamai sebuah tim.

Namun tanpa diduga, dengan dedikasi penuh cintanya, Zidane mampu membuktikan kepada khalayak. Bahwa ia mampu mendampingi dan ngemong sang kekasih, Real Madrid, dengan sebaik-baiknya.

Sebagai hasil, 9 trofi pun ia dapatkan dalam jangka waktu kurang dari 3 tahun. Plus, raihan rekor 3 trofi Liga Champions berturut-turut dan sederet rekor lainnya menjadi bukti ketulusan cintanya.

Kesabarannya dalam membangun bahtera di Santiago Bernabeu juga menampakkan hasil positif. Ia lebih suka membina bibit-bibit unggul akademi ketimbang harus mengeluarkan banyak uang untuk mencari jalan alternatif guna merengkuh prestasi.

Hal seperti ini jelas berbeda dengan para pendahulunya, yang lebih senang berbelanja dan bermewah-mewahan. Ia hanya menghabiskan dana sekitar 70 juta Euro dan justru lebih banyak memberi jam terbang kepada pemain muda akademi berbakat seperti Lucas Vazquez, Borja Mayoral, dan Marcos Llorente.

Trofi Liga Champions ketiga dalam masa pengabdiannya menjadi bukti atas cinta Zidane kepada Real Madrid yang tulus luar biasa. Namun, di tengah suka cita yang sedang memuncak, di tengah perayaan dan kebahagiaan para penikmat kisah cinta mereka, secara mengejutkan Zidane menyatakan undur diri, berpisah dengan Real Madrid yang dicinta.

Keputusannya bukan berarti tanpa alasan. Ia berujar bahwa setelah tiga tahun bersama, Real Madrid butuh sesuatu yang baru. Butuh perubahan dan arahan yang baru agar Los Galcticos bisa meneruskan tren kemenangan.

Terdengar klise dan egois memang. Alasannya bernada sama seperti “kamu terlalu baik buat aku” yang sering dilontarkan muda-mudi. Itu sebagai alasan untuk pergi di tengah hubungan yang tengah dirundung keharmonisan yang sedang memuncak.

Walaupun Guillem Balague dalam skysports.com menuturkan bahwa alasan utama Zidane mengajukan talak dengan Real Madrid tidak mutlak seperti apa yang diucapkan pada konferensi pers. Melainkan karena nada sumbang yang diucapkan Bale dan Ronaldo terkait masa depan mereka pada pers selepas selebrasi trofi Liga Champions ke-13.

Balague juga menambahkan, bahwa terdapat jarak antara Zidane sebagai pelatih kepala dan para pemain yang menghasilkan komunikasi yang kurang sehat sebagai implikasinya. Hal inilah yang memperkuat alasannya untuk segera pergi, demi menjaga keutuhan Real Madrid ke depannya.

Ya, apa pun alasannya, keputusan itu sudah bulat dipilih Zidane untuk berpisah dengan Real Madrid. PR berat tidak hanya untuk para pemain dan para fans yang ditinggalkan. Namun, PR terberat sesungguhnya ada di pundak penerus tahta si kepala plontos satu ini.

Hampir mustahil ada sosok yang berani menawarkan diri untuk mengisi pos kosong tersebut. Momok 3 trofi Liga Champions berturut-turut menjadi hantu yang siap membayangi satu-dua performa buruk yang dijalani.

Belum lagi para fans Real Madrid yang masih belum move on jelas akan banyak menuntut dan membandingkan dengan sang mantan ketika sedikit saja selip dilakukan. Namun, jika mengejar Liga Champions keempat dirasa sulit, mengobatinya dengan bermain positif dan menikung titel La Liga yang sekarang dipegang Barcelona menjadi obat yang cukup ampuh. Sebab ini pula yang menjadi kekurangan Zidane di musim pamungkasnya.

Biar bagaimanapun, semoga saja Real Madrid segera mendapatkan pengganti terbaik yang siap mendapatkan gempuran dari media dan fans yang akan terus membandingkan. Dan teruntuk segenap penggemar Real Madrid, selamat menikmati hati yang terluka karena ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.