Penulis
1 bulan lalu · 58 view · 5 menit baca · Media 37202_85939.jpg
Dok. Tabrani Yunis

Potret Majalah Anak Cerdas dan Hutan Aceh

Nama lengkapnya Tabrani Yunis. Profesinya adalah guru dan sekaligus dosen di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Saya mengenalnya sekitar 3 tahun lalu.

Dia rajin menulis di media cetak maupun online, lokal maupun nasional. Tulisan-tulisannya, umumnya, bertemakan pendidikan, literasi, dan entrepreneurship.

Apa yang ditulisnya bukan retorika semata, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata. Dalam dunia pendidikan, dia mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE), di mana dia kini menjadi direkturnya.

Dalam dunia entrepreneurship, selain mengajar, dia mendirikan gallery potret yang menjual segala kebutuhan anak-anak, kerajinan tangan, maupun ATK serta souvenir cantik lainnya.

Tabrani Yunis mendirikan dua majalah: Potret (2003) dan Anak Cerdas (2013).

Kedua majalah itu masih terbit, meskipun kadang terlambat. Sebabnya karena persoalan dana. Tujuan dia mendirikan majalah bukan untuk komersial, tetapi untuk literasi dan pendidikan.

Dalam usaha itu, Tabrani tak segan turun ke kampung-kampung melatih dan membina calon penulis. Motivasinya mampu menggerakkan orang-orang menulis di kedua majalah itu, tak terkecuali anak-anak SD.

Majalah Potret versi cetak bertemakan isu-isu perempuan. Sebagian besar penulisnya juga perempuan. Ini satu-satunya majalah perempuan versi cetak yang beredar di Aceh.

"Dengan begitu banyaknya persoalan terkait perempuan, diharapkan perempuan mau menulis di media itu." Demikian pernyataan sekaligus harapannya yang diungkapkan kepada saya.

Sementara itu, majalah Anak Cerdas lebih fokus pada dunia literasi dan pendidikan anak-anak. Salah satu yang melatarbelakangi lahirnya majalah ini ialah soal kesempatan mendapat bacaan layak bagi anak desa dan kota.

Menurutnya, kesempatan anak-anak di kampung dan perkotaan dalam akses pendidikan juga sangat berbeda. Bukan hanya fasilitas, bahan bacaan antara anak desa dan kota juga sangat jauh berbeda. Padahal sama-sama anak bangsa.

Kontrasnya akses pendidikan anak-anak di daerah dengan anak-anak perkotaan seperti di Jakarta telah mendorong Tabrani Yunis melakukan perubahan. 

Belakangan ini, pasca lahirnya media daring dan faktor anggaran, penerbitan majalah Anak Cerdas maupun Potret mengalami persoalan serius. Meski memiliki versi online, namun ia tetap ingin mempertahankan versi cetak kedua majalah tersebut.


Ketika saya tanyakan kenapa masih menggunakan versi cetak, apa jawabnya?

"Ada beberapa alasan. Pertama, anak-anak masih suka membaca majalah dalam bentuk fisik. Kedua, bisa dibaca dan digunakan kapan saja tanpa harus menggunakan alat komunikasi seperti handphone serta internet dan listrik. Ketiga, menghindari anak dari penggunaan gawai pada usia dini. Keempat, Anak Cerdas adalah satu-satunya majalah anak yang terbit di Sumatra."

Dari jawaban Tabrani, kita tahu bahwa anak-anak menyukai majalah versi fisik. Saya punya bukti yang menguatkan pernyataan Tabrani.

Keponakan saya berusia 3 tahun sangat menyukai smartphone, nyaris kecanduan. Dia menggunakan handphone untuk bermain game dan nonton film.

Beberapa bulan lalu, dia sakit. Selama sakit, dia banyak melakukan aktivitas menggambar di atas kertas, yang membuatnya ketagihan. Kini, ia lebih memilih menggunakan kertas ketimbang smartphone

Saya sepakat dengan Tabrani Yunis, anak-anak harus diselamatkan dari kecanduan gawai.

Usaha mengenalkan majalah Anak Cerdas sekaligus membina kemampuan literasi anak-anak yang dilakukan Tabrani Yunis sangat positif dan patut didukung. Para penulis muda binaannya diharapkan dapat mengirimkan karya berupa esai, opini, artikel, cerpen, puisi, dan lukisan serta karya lainnya yang dianggap bermanfaat.

Sekolah-sekolah yang dikunjungi Tabrani Yunis mendapatkan majalah Anak Cerdas atau Potret secara cuma-cuma, selain pelatihan menulis serta motivasi untuk menulis.

Harus diakui keteguhan seorang Tabrani Yunis dalam mempertahankan versi cetak majalah-majalah tersebut. Jangankan di Aceh, di Jakarta saja sudah banyak majalah yang tak memiliki versi cetak.

Barangkali majalah anak versi cetak di Jakarta pun sudah banyak yang gulung tikar. Majalah Anak Cerdas versi cetak memang salah satu solusi bagi kecanduan gawai yang dialami anak-anak. 

Kehadiran majalah Anak Cerdas merupakan peluang bagi anak-anak untuk berkarya dan membaca karyanya sendiri. Kontennya juga sangat mendidik akhlak anak-anak.

Ada kolom olah otak, mewarnai, dan jenis lainnya yang tidak jauh dari unsur dunia anak, bermain sambil belajar. Bahkan karya mereka juga boleh tulisan tangan, menggunakan pensil atau pulpen

Bukankah anak-anak perlu melatih kemampuan menulis tangan? Di dalam majalah Anak Cerdas, anak-anak akan dapati itu. Bukan hanya afektif, kognitif, akan tetapi juga psikomotorik. 


Sangat disayangkan bila satu-satunya majalah anak versi cetak di Sumatra ini kemudian hilang karena dana. Meski saya optimis pendiri majalah ini tidak akan rela hal itu terjadi.

Pihak majalah Anak Cerdas butuh dana yang tak sedikit untuk proses desain hingga cetak. Sementara pemerintah tampaknya kurang antusias, barangkali karena tidak berbau politis.

Program yang sedang dijalankan Tabrani Yunis bersama teman-temanya saat ini adalah menyebarkan virus literasi ke seluruh Aceh. Meski menggunakan uang pribadi, namun hati senang karena anak-anak kampung mau berkarya di majalah Anak Cerdas.

Tentu kita sangat jarang melihat anak-anak Sekolah Dasar menulis puisi, cerpen, artikel dengan tulisan tangan di atas kertas. Kenikmatan itu yang menurut Tabrani Yunis tidak didapati banyak orang.

Majalah Anak Cerdas memberi warna baru dalam dunia literasi kita. Melalui majalah versi cetak, anak-anak bisa pula diajarkan cara menghargai lingkungan. 

Takdir lingkungan ditentukan manusia dan sebaliknya lingkungan menentukan pula takdir generasi yang akan datang. Gerakan mencintai lingkungan, terutama hutan kita, harus diajarkan sejak dini. Anak-anak bisa memulainya dengan mencintai kertas.

Bila rasa cinta pada kertas dapat tumbuh sejak dini, anak-anak nantinya bisa lebih menghargai hutan sebagai tempat dihasilkannya kertas. Perilaku manusia dewasa yang destruktif dan koruptif dapat lenyap seiring tumbuhnya generasi cinta kertas.

Bukan berarti anak-anak tak boleh mengenal kemajuan zaman, namun perlu keseimbangan atas kesenjangan yang sedang terjadi. Anak-anak bisa berkarya tanpa harus melibas kesehatan dan masa depannya.

Namun di balik idealisme seorang Tabrani mempertahankan majalah-majalahnya, ada yang sangat miris terjadi di Aceh. Deforestasi di Aceh terus terjadi. Hutan-hutan Aceh mulai hilang dan tergantikan dengan tambang maupun perkebunan kelapa sawit. 

Data Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HakA) menyebutkan, seluas 15.071 hektare (ha) hutan Aceh mengalami kerusakan (deforestasi) sepanjang tahun 2018. Akibatnya, luas tutupan hutan Aceh menyusut menjadi sekitar 3.004.352 ha. 

Potret hutan Aceh yang memprihatinkan tersebut anehnya terjadi ketika pabrik kertas di Aceh telah tutup. Bahkan, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang menjadi sumber air bagi masyarakat Aceh juga mengalami deforestasi yang mencengangkan. Tutupan hutan di KEL Aceh hingga Desember 2018 tersisa 1.799.715 ha lagi.

Deforestasi yang terjadi di Aceh sudah sangat memprihatinkan. Sementara pabrik kertas milik negara hingga kini belum beroperasi. Bagaimana kemudian PT KKA yang merupakan BUMN bisa kembali beroperasi tanpa impor bahan dari daerah lain. 

Padahal bila PT KKA bisa kembali beroperasi dengan sendirinya akan membantu media cetak maupun kebutuhan Aceh akan kertas. Tingginya biaya cetak menjadi sebab tutupnya media-media versi fisik. Percetakan di Aceh kalah bersaing karena harus mengimpor dari daerah lain. Hal ini berbeda ketika PT KKA masih beroperasi.

Dengan demikian, kerusakan hutan bukan hanya berdampak pada ekosistem lingkungan, akan tetapi juga berdampak pada hal lain. Rusaknya hutan mengakibatkan PT KKA kehilangan bahan dan kehilangan pasar hingga tutup. PT KAA tutup diikuti tutupnya percetakan-percetakan. Akibatnya, untuk mencetak majalah maupun koran harus ke Provinsi lain.

Situasi itulah yang terjadi pada majalah Potret dan Anak Cerdas milik Tabrani. Percetakan yang tersisa di Aceh harganya sangat mahal. Sistemiknya dampak deforestasi hutan di Aceh harus segera dihentikan.


Artikel Terkait