Peneliti
1 tahun lalu · 178 view · 4 menit baca · Pendidikan 63665.jpg

Memotret CMBBS Sebagai Pusat Penguatan Pendidikan Karakter

Ketika Banten melepaskan diri dari Provinsi Jawa Barat dan resmi menjadi provinsi baru pada Tahun 2000 di era Megawati Soekarno Putri, Banten segera melakukan pembangunan baik secara fisik maupun nonfisik. Salah satu pembangunan yang dikedepankan untuk mengejar ketertinggalan adalah pembangunan sumber daya manusia yang handal, yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi untuk kemajuan Banten itu sendiri.

Butuh waktu yang tak sedikit untuk mempersiapkan rumusan sumber daya manusia. Hampir empat tahun setelah provinsi Banten berdiri maka muncullah wacana untuk mendirikan sebuah sekolah  tingkat menengah unggulan di Banten sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia untuk mencetak putra-putri Banten yang tak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional, juga spiritual. Sebuah pribadi yang ideal nan islami.

Juli 2005, Sekolah Menengah Atas  sebagai SMA unggulan Banten resmi berdiri dan beroperasi dengan mengambil nama Sekolah Menengah Atas Cahaya Madani Banten Boarding School atau sering disingkat, untuk memudahkan dalam menyebutya, yakni SMA CMBBS. Di awal tahun pelajarannya baru merekrut 46 siswa yang diambil dari lulusan terbaik SMP seluruh Banten, sebagai angkatan pertama.

Prestasi yang ditorehkan peserta didiknya sangat luar biasa sejak tahun pertama beroperasi, sehingga SMA CMBBS mampu membuktikan dan bisa mensejajarkan diri dengan sekolah-sekolah yang sudah ada di Provinsi Banten. Tepatnya tanggal 31 Juli 2007 SMA CMBBS resmi menjadi sekolah negeri dengan SK Gubernur Prov. Banten No. 421.3/Kep.Sos-Huk/2007.

Sejak terbitnya SK Gubernur tersebut, sekolah ini berubah status menjadi SMA Negeri CMBBS dengan jumlah peserta didik sebanyak 155 orang dengan 6 rombongan belajar. SMAN CMBBS terus menerus melaksanakan pengembangan sehingga visi dan misi, target sekolah dan harapan masyarakat Banten terhadap SMAN CMBBS dapat terealisasi.

SMAN CMBBS menerapkan boarding school system (sekolah berasrama). Peserta didik dan pengelola tinggal 24 jam di lingkungan kampus SMAN CMBBS sehigga diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan proses pendidikan, pengajaran dan pembinaan karakter dan mentalitas peserta didik. SMAN CMBBS dijadikan sebagai “Center for Excellence: The Right Place to Build Personality, Learn and Face the Future.”

Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Pendidikan karakter di sekolah merupakan sebuah program yang kembali digalakkan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebenarnya pendidikan karakter tersebut sama sekali bukan barang baru dalam dunia pendidikan. Namun, ia selama ini belum terimplementasi sebagai praksis pendidikan yang terinternalisasi juga terukur.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy (30/7), mengatakan bahwa sekolah berasrama dinilai layak menjadi salah satu model sekolah yang baik untuk penguatan pendidkan karakter (PPK). Bobot pendidikan karakter di asrama dapat mencapai 70 persen. Peserta didik bisa mengasah bakat kepemimpinan, kewirausahaan, seni dan juga olahraga. Ringkasnya, pendidikan karakter itu sangat mengasah potensi dan bakat non-akademik peserta didik.

Kini, sekolah berasrama di Indonesia terus tumbuh, menggeliat dan berkembang. Disamping juga sangat beragam basis garapannya. Ada yang berbasis keagamaan, pondok pesantren, sekolah ketarunaan, juga ada yang berbasis pendidikan khusus, salah satunya sekolah khsusus untuk sepak bola, misalnya.   

Sekolah berasrama (boarding school) menjadi bagian penting dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Di dalamnya ada penerapan pendidikan karakter yang dapat dilakukan secara maksimal. Masih menurut Pak Muhadjir, bahwa ke depan nanti rapor penilaian peserta didik tidak hanya rapor akademik, akan ditambah juga rapor kepribadaian. Rapor kepribadian tersebut ketika peserta didik berada di sekolah, keluarga, masyarakat dan lingkungan keagamaan.

Di tengah kondisi generasi muda bangsa yang banyak terjebak dan jatuh ke dunia hitam, narkoba selalu mengepung tanpa ampun setiap sudut negeri ini. Pornografi selalu mengintai kelengahan hasrat seksual para remaja dalam setiap gawainya, ditambah lagi dengan tindakan kekerasan, bully, menjadi pemandangan keseharian kita. Maka pendidikan berbasis karakter yang diimplementasikan di sekolah berasrama akan menjadi solusi alternatif mengusir tindakan negatif dan tercela di atas.

Di Provinsi Banten, satu-satunya sekolah menengah negeri yang berasrama (boarding school) adalah CMBBS. SMAN CMBBS yang berlokasi di bawah kaki Gunung Karang, Pandeglang, sangat mendukung kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam program penguatan pendidikan karakter, bahkan sebelum ada kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, SMAN CMBBS sudah mengimplementasikannya sejak ia berdiri.

Di samping kegiatan yang berbasis keagamaan, seperti; tahfizh al-Quran, tahfizh hadits, belajar Bahasa Arab, dll.  Di  SMAN CMBBS ini juga diadakan banyak kegiatan yang berbasis minat dan bakat peserta didik, antara lain; kelompok ilmiah remaja, pramuka, beladiri tapak suci, ICT, paduan suara, jurnalistik, musik tradisonal dan tari, sepak bola, futsal, bola basket, palang merah remaja, teater, paskibra, robotik, dan sejumlah kegiatan lainnya. Semua kegiatan di atas di bawah bimbingan para guru dan wali asuh asrama yang profesional.

Peran Serta  Orangtua dan Masyarakat

Orang tua siswa dan masyarakat mempunyai kontribusi penting juga dalam penguatan pendidikan karakter (PPK) di sekolah. Tak lain, agar program PPK tersebut lebih kuat dan optimal. Membangun kemitraan dengan orangtua, masyarakat, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dll., bertujuan untuk memperkaya sumber belajar di sekolah dan mendudkung PPK hingga bantuan dana serta sarana dan prasarana untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Sejatinya memang sekolah harus melibatkan peran orangtua untuk bersama-sama peduli terhadap perkembangan peserta didik. Orang tua tidak serta merta menyerahkan semua urusan pendidikan dan perkembangan peserta didik kepada sekolah.

Dengan demikian, sekolah dengan orang tua mempunyai ikatan emosional yang sama, sehingga ada penghubung antara orangtua dan guru. Orangtua bisa melihat perkembangan dan potensi akademik putra-putrinya lebih dekat dan akrab. Sedangkan bagi guru menjadi bahan refleksi untuk meningkatkan pelayanan dan kualitas pendidikan kepada siswa dan orangtua sekaligus.

Satu hal penting, Pemerintah Provinsi Banten, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, untuk terus mendukung total sekolah berasrama (boarding school) SMAN CMBBS tetap menjadi sekolah unggulan dan harapan masyarakat Banten dalam rangka program PPK di atas. Tanpa dukungan total pemerintah daerah terhadap eksistensi sekolah unggulan ini, pula terhadap  kesejahteraan para pengajarnya, maka asa tersebut hanya akan menjadi wacana tak berdaya yang ada dalam kertas belaka. Maju terus SMAN CMBBS!