Baru saja bersih-bersih lemari buku, saya menemukan sebuah album foto. Sebagian dalam album itu, berisi foto-foto lawas Bapak saya saat bertugas di Timor Timur (Timtim) pada awal tahun 1976. Saat itu, saya masih kelas 1 Sekolah Dasar, SD Bhayangkari Ranting 102 kota Malang.

Foto-foto ini menarik bagi saya untuk sedikit mengulas tentang sebagian sejarah Timtim waktu itu, yang sekarang menjadi negara bernama Timor Leste (Timles). Khususnya, ketika Timtim baru dalam pangkuan Ibu Pertiwi.



“Demokrasi telah ada di Timtim waktu itu…”

Ditinggal Sendiri karena Revolusi

Dalam catatan sejarah, pasca Revolusi Bunga Anyelir (Carnation Revolution/Revolução dos Cravos) di Portugis pada 25 April 1974, maka koloni mereka di Timtim yang berdekatan dengan propinsi Nusa Tenggara Timur Indonesia waktu itu, menjadi terpecah belah, membuat wilayah Timtim bagai tanah tak bertuan.

Portugis sibuk dengan revolusinya, meninggalkan tanah koloni lalu membiarkan rakyat Timtim menentukan nasib sendiri.

Aspirasi pun berkembang, lalu terakomodasi dalam tiga partai yang mewadahi aspirasi politik rakyat Timtim, yakni; Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente (Fretilin) yang berhalauan komunis, União Democrática Timorense (UDT) yang konservatif dan Associação Popular Democrática Timorense (Apodeti) yang memilih sikap agar Timtim bergabung dengan negara Indonesia.

Fretilin adalah partai politik terbesar dan memiliki program-program sosial kemasyarakatan yang populer bagi sebagian besar rakyat Timtim. Lalu UDT bergabung dan sejalan dengan Fretilin dalam berhaluan politik serta menentukan sikap bahwa Timor sebagai bekas wilayah koloni Portugis, adalah negara yang merdeka dan berdaulat.

Fretilin dan UDT pun lalu meninggalkan Apodeti sebagai partai politik yang pengikutnya tetap memiliki visi untuk berintegrasi dengan Indonesia. Demokrasi telah ada di Timtim waktu itu, meski ditinggal oleh negara induknya, Portugis.



“Sosok bunga yang dihormati dan memiliki nilai sakral…”

Bunga yang Sakral

Indonesia pun menjadi waspada akan keberadaan wilayah bekas koloni Portugis itu. Tak hanya karena posisi wilayah Timtim yang persis berdampingan. Namun juga karena Indonesia baru saja bersusah payah berhasil memberangus paham komunis.

Atas restu banyak negara yang juga khawatir dengan keberadaan paham komunisme di Asia Tenggara, maka operasi infiltrasi intelijen ke Timtim pun dimulai sejak 1969. Enam tahun kemudian, pada 7 Desember 1975 diputuskan oleh pemerintah Indonesia untuk menjalankan operasi militer, bersandi Seroja.

Seroja, mengambil nama bunga yang hidup dilingkungan perairan, memiliki nama lain yaitu Lotus dengan nama latin ilmiah Nelumbo nucifera. Sosok bunga yang dihormati dan memiliki nilai sakral dari tanahnya berasal, kawasan India.

Operasi Seroja yang meski sempat kehilangan unsur kejutan karena diketahui oleh pihak lawan, telah sukses menduduki kota Dili sebagai ibu kota Timtim. Operasi militer ini pun berlanjut hingga tahun 1978, dengan jumlah korban yang tak sedikit, baik bagi militer Indonesia maupun milisi Fretilin.

Banyak pertempuran berdarah-darah terjadi di wilayah yang sulit terjangkau dan menghadapi cara gerilya yang berada dalam hutan maupun di atas lereng cadas yang curam.



“Hingga terjadi peristiwa Santa Cruz…”

Porak-Poranda karena Insiden

Setelah Operasi Seroja dinyatakan berhasil, maka pemerintahan sipil pun dimulai dalam format sebagai negara Indonesia, dengan status baru bagi Timtim yang bukan sebagai koloni Portugis lagi, melainkan sebagai propinsi ke 27 Republik Indonesia.

Selama bergabung dengan Indonesia, pembangunan fisik dan sosial kemasyarakatan di Timtim, sangat lah luar biasa. Menempati peringkat satu anggaran belanja negara untuk pembangunan sebuah propinsi. Kebijakan yang demikian, agar terbangun pula citra positif bagi Indonesia dalam pandangan dunia. Juga tentunya mempertahankan pencapaian yang telah diraih dengan susah payah.

Pada pertengahan tahun 1980 hingga 1990-an. Timtim sempat menempati posisi terbaik. Dalam masa keemasannya, Timtim banyak menarik minat investor, terutama dari dalam negeri guna memutar roda perekonomian, serta menarik minat banyak orang Indonesia untuk bertempat tinggal di propinsi paling muda tersebut.

Juga, banyak simpatisan Fretilin baik di Timtim maupun di luar negeri waktu itu, yang luluh hati dan mulai bersimpati dengan pemerintah Indonesia, yang menunjukkan niatan tulus untuk memakmurkan propinsi ke 27-nya.

Hingga terjadi peristiwa Santa Cruz menjelang pertengahan bulan Nopember tahun 1991, yang membuat nama harum Indonesia dalam membangun Timtim, sontak porak-poranda dimata dunia internasional.

Bahkan Pak Ali Alatas, sang menteri luar negeri era orde baru pun lalu urung ditunjuk sebagai calon Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena insiden Santa Cruz.

Waktu itu, penanganan unjuk rasa di Indonesia cenderung selalu represif. Hingga ada perbaikan yang lebih tepat dalam menghadapi demonstrasi sipil, pasca reformasi tahun 1998.



“Tak usah menuruti amarah yang hanya dipicu oleh situasi politik semata.”

Terlepas karena Politis

Pemerintah Indonesia berganti dari orde baru ke orde reformasi tahun 1998, sekaligus mengalami pergantian sosok pemimpin negara.

Sang presiden pengganti, yang ditunjuk langsung oleh pendahulunya di istana negara, bukan melalui keputusan sidang DPR/MPR, pada kemudian hari menyetujui referendum bagi rakyat Timtim pada tahun 1999, di bawah pengawasan perwakilan PBB, dalam menjalankan misi di Timtim, dikenal sebagai United Nations Mission in East Timor, Unamet.

Meski dinilai curang karena perbedaan jadwal pelaksanaan referendum yang diinformasikan kepada sebagian rakyat pendukung Pro Integrasi Indonesia, hasil referendum yang memenangkan kubu Pro Timor Merdeka pun lalu dinyatakan sah oleh PBB.

Tentunya, banyak pihak yang kecewa. Terutama bagi banyak kalangan di Indonesia yang memandang keputusan tersebut telah memupus penghargaan atas banyak prajurit yang telah gugur di sana.

Tak lama setelah referendum yang memerdekakan Timtim menjadi Timles, sempat ada gerakan membakar sertifikat penghargaan telah berjuang dalam Operasi Seroja oleh para veteran yang pernah bertugas di Timtim.

Pada kisaran tahun 1999, saya pernah berpesan ke Almarhum Bapak saya, agar tak usah ikut-ikutan membakar penghargaan pernah menjadi bagian Operasi Seroja, karena itu simbol penghargaan oleh negara. Tak usah menuruti amarah yang hanya dipicu oleh situasi politik semata. Beliau pun memahami masukan saya.

Sebuah catatan seorang anak, yang Ayahnya selama hampir dua tahun sejak awal tahun 1976, pernah bertaruh nyawa menjalankan amanah dalam Operasi Seroja.

Al Fatihah untuk almarhum Bapak. Alhamdulillah mendapat karunia jalan hidup dalam sebaik-baiknya sejarah.

Anggota Brimob Kompi 5111 Malang Dalam Operasi Seroja. Circa 1976-1977.

Aparat Gabungan ABRI (TNI-POLRI) Dalam Operasi Seroja. Circa 1976-1977.