Syahdan, sejujurnya saya mendapat ilham untuk membaca dan menulis ketika saya menginjak Sekolah Menengah Akhir, tepatnya ketika saya mengenal guru kehidupan saya, Ramadwifa. Amat sangat terlambat saya menjadi manusia modern, pikir saya, ketika suatu waktu saya mengetahui, bahwa menulis dan membaca adalah sebuah budaya orang-orang modern dalam sejarah kemanusiaan.

Guru saya, Rakaibumi, adalah tipe manusia 'idealis' dalam menjalankan ruang-lingkup kehidupannya. Konon, dan memang konon, bahwa sikap idealismenya dia lakukan sejak dirinya menginjak Sekolah Menengah Atas, tepatnya ketika ia mengenal buku-buku sastra diperpustakaan. Konon, ia juga bolos sekolah, karena demi membaca dan menulis di sebuah 'saung' di belakang sekolah.

Ia memiliki karisma dan kesederhanaannya yang matang berkat keidealisannya. Sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya merasa nyaman, untuk semacam ngobrol ataupun diskusi di sekolah ataupun dalam lingkungan sekitarnya.

Acap kali juga ia melayani debat panjang dengan guru yang 'sok' cerdas, yang pada akhirnya guru yang 'sok' itu tumbang dengan argumen-argumen yang sarat dan tepat dari guru saya itu.

***

Saya mempunyai memorabilia dengan guru saya itu semasa sekolah. Ada beberapa rangkaian peristiwa yang masih saya ingat dari cara dia mengajar di lingkungan sekolah dengan 'idealis'-nya itu.

Hal tersebut adalah dalam halnya mengajar, ia mendidik 'kawan-kawan'[1]-nya dengan pola pikir untuk bisa berkerja keras. 

Seperti suatu ketika, dalam semester 1 kelas XII, terdapat bab yang membahas tentang novel sejarah. Ia kemudian menginstruksikan untuk membeli novel sejarah yang ditentukan, seperti Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Amba karya Laksmi Pamuntjak, dan Pulang karya Leila S. Chudori.

Bagi teman-teman saya waktu itu, membaca dan membeli buku adalah bagian paling 'cuma-cuma' dalam hidup. Sebab, mereka masih menganggap membaca dan membeli buku adalah beban dan bagian yang sia-sia dalam kehidupan.

Ketika semuanya sudah membeli buku, sebagian ada yang membuat saya ironis ketika melihat buku-buku teman saya. Jika saya lapiskan secara teori ekonomi, mereka yang kaum oppressed membeli buku-buku bajakan, sedangkan kaum ningrat membeli buku-buku orisinal.

Saya, walaupun termasuk kaum Oppressed, demikian saya tetap membeli novel orisinal yang berjudul Amba karya Laksmi Pamuntjak. Sebab, saya mengingat perkataan guru saya pada suatu hari, bahwasanya membeli dan membaca buku bajakan adalah sebuah dosa.

Setelah itu, guru saya memberi perintah untuk membaca novel yang dibeli oleh semua 'kawan-kawan' tersebut, untuk bisa diselesaikan dalam kurun waktu 2 minggu dan langsung dites secara lisan sebagai bentuk ulangan. Semua teman-teman saya sontak semuanya dan dibarengi dengan nada protes dengan raut muka kecewa, atas penugasan dari guru saya tersebut.

Nada-nada protes tersebut berbunyi:

Ah, Pak, mana cukup membaca untuk membaca buku tebal ini dalam dua minggu! Atau, Pak, gimana sih 'kan kita bukan tugas ini yang harus dikerjakan, banyak tugas-tugas yang harus kita kerjakan, Pak, mana cukup untuk menamatkan buku ini 2 minggu! Atau, Pak, Bapak ini tidak punya pri-kemanusiaan (kata seorang yang lagak humanis) dalam memberi tugas ini, kita jadi tidak bisa bermain, Pak, membungkuk terus untuk membaca mengejar target, membosankan!

Seketika itu dalam sekejap semua teman-teman diam, ketika guru saya berbicara dengan satire: "Hei Kawan-kawan semua! Kalian tahu Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, sampai Soe Hok Gie adalah orang-orang pembaca buku, mereka membaca buku untuk memerdekakan diri sendiri dan memerdekakan bangsa, serta melawan kaum-kaum yang otoriter yang jelas-jelas bertindak tidak adil kepada rakyat.

Sedangkan, kalian saya perintahkan membaca buku hanya cuma satu, itu pun bermanfaat buat kalian, tapi, malah banyak keluh-kesah. Belajarlah untuk menjadi manusia pekerja keras dan tanggung jawab.

Coba kalian baca kembali dalam sejarah Indonesia, Soekarno dan Hatta dipenjara oleh Kolonial Belanda mereka tetap membaca buku bahkan menulis dalam penjara. Tan Malaka dalam pelariannya, beliau lebih memilih membeli buku daripada membeli sebuah pakaian untuk sehari-harinya yang sudah usang. Soe Hok Gie, beliau membaca dan menulis dengan kata-katanya yang pedas, mengkritik dan menelanjangi Orde Baru dengan tulisannya, dan membaca pula pada intinya.

Saya perintahkan kalian membeli buku agar kalian punya kenang-kenangan ketika keluar dari sekolah ini. Dengan membeli buku juga, kalian belajar menghargai buku yang kalian beli sendiri. 

Sementara, saya perintahkan kalian membaca buku dalam waktu demikian, agar kalian bertanggung jawab dari apa buku yang kalian beli itu, agar kalian tahu isinya. Agar, dalam istilah orang Sunda, kalian tidak menjadi monyet ngagugulung kalapa (mempunyai sesuatu, tapi tak bisa melakukan)."

Ketika itu (saya masih ingat) bel berbunyi. Dan, seketika pembicaraannya tersebut selesai dan keluar dari kelas, seraya berkata: "Terima kasih, 'kawan-kawan', saya bahagia bertemu kalian. Assalamualaikum."

***

Itulah memorabilia san pelajaran berharga saya dari guru saya waktu itu, yang masih teringat jelas dalam benak saya. Tulisan ini saya persembahkan bagi guru saya khususnya, dan umumnya bagi pembaca semua. Terima kasih. Selamat Hari Guru!

Catatan:

[1] 'Kawan-kawan' adalah sapaan guru saya kepada murid-muridnya. Ia tidak ingin di sebut guru, sehingga Ia memanggil anak didiknya dengan sapaan 'Kawan-kawan'.