Hampir setiap pagi aku terbangun dengan tubuh yang lemas, tak ada lagi sesuatu yang menggairahkan untuk hidup. Hampir setiap kudengar gemerincing rantai sepeda tukang koran saat matahari terbit, mendengar guyuran air dari selang tetanggaku yang menyiram halamannya, mendengar burung-burung bergelantungan di mana mereka suka, merasakan udara sejuk dari pepohonan yang baik hati, dan meraba bantal serta seprai lembutku, aku merasakan bahwa sudah hilang sensasi akan dunia yang indah ini. 

Tapi aku percaya, dan akan terus percaya, bahwa semua makhluk di dunia ini baik dan penuh dengan kebaikan. Ada kalanya diriku hanya berpikir bahwa mereka semua adalah kompleksitas tertinggi yang membuat dunia ini ricuh, busuk, dan bersedih. 

Ada kalanya aku percaya bahwa di balik senyum kebohongan mereka hanya ada kepahitan masa lalu yang mendendam dan selalu membakar emosi untuk menghancurkan antar sesama. 

Tapi sekarang aku percaya bahwa itu hanyalah segelintir pembalikkan dari jiwa dan rasa yang mereka miliki. Di dalam lubuk setiap makhluk, selalu ada kebaikan.

Aku bangun dari kasurku lalu duduk di pinggiran ranjang. Aku mulai meraba sekitar, mencari tongkat kayu dan kacamata hitamku yang berbentuk bulat. Tongkat kayuku tersender di kaki ranjang, dan kacamataku tergeletak di atas meja jati kecil di sebelah ranjang. Aku terbatuk-batuk, tenggorokan terasa sangat kering pagi itu. 

Aku berdiri dan berjalan perlahan. Aku tidak akan lagi lupa di mana letak segelas air kuletakkan tadi malam, karena sudah berkali-kali aku memecahkan beberapa gelas karena kebutaan ini. Ya, maksudku aku sudah tak punya mata. 

Setelah meminum segelas air, kuletakkan kembali gelas itu di atas meja. Kusingkap gorden, kubuka jendela, dan kuhirup dalam-dalam udara pagi itu. Aku bisa merasakan dan mendengarkan semuanya: hangat matahari, suara para tetangga, bau masakan dari dapur sebelah, mobil-mobil yang sedang dipanaskan. Hah, sungguh menakjubkan.

Tak lama setelah itu aku beranjak ke kamar mandi, berendam dan menggosok tubuh berbulu ini (buluku berwarna coklat bercorak putih), lalu mengeringkan badan. Kupakai kaus putih bertuliskan ‘Tokyo’ dan celana jeans hitam, lalu duduk di depan mesin tik. Kutarik nafas perlahan, dan mulai mengetik:

“Beberapa minggu yang lalu aku mencongkel mataku karena tak sanggup lagi melihat penderitaan orang-orang, hewan-hewan, dan semua makhluk di sekitarku yang sudah lama hidup bersama. Selalu kubilang ke diriku sendiri bahwa aku percaya semua makhluk baik dan penuh kebaikan. 

"Mereka akan selalu bahagia dan selalu membagi senyuman kasih sayang ke lainnya. Hanya saja, jika melihat ada yang jahat, maka kita harus berpikir bahwa mereka sebenarnya baik. Mereka menjadi jahat karena adanya sedikit beban di atas pundak mereka yang berusaha manjadikan dunia ini seindah mungkin. Kejahatan bukanlah datang dari kegelapan, ia datang kepada kita dari cahaya putih yang meredup perlahan, tapi tidak akan mati.”

Kuteguk air putih yang sudah kupersiapkan sebelum mengerjakan hal sederhana ini, lalu tiba-tiba air mata perlahan mengguyur wajahku. Aku menangis. Menangis akan sesuatu yang bahkan kutakpahami. 

Ada sebuah abstraksi dari setiap memori yang bermunculan ke kepalaku. Potongan-potongan kejadian berlalu dan membuatku ingat akan banyak hal. Aku menangis dari rongga mataku yang kosong, yang sekarang hanya ditutupi oleh kacamata hitam yang seakan sia-sia. 

Tangisanku membuat sedikit gonggongan. Gonggongan kepedihan yang datang dari anjing muda yang buta karena kerusakan yang tak henti-hentinya menggerogoti setiap jiwa.

“Tekanan selalu bermunculan, entah dari mana pun mereka mau datang. Jiwa-jiwa perlahan merusak dan menghilangkan esensi-esensi manusiawi dan hewani. Kita semua baik, aku percaya itu. Tapi lubang-lubang hitam mulai bermunculan karena tekanan kecil yang ada di atas pundak kita lama-lama menggunung.”

Aku masih menangis, ada rasa sakit di jiwa ini.

“Tapi aku masih percaya bahwa kita dan mereka baik dan selalu memiliki kebaikan. Hanya saja, terkadang memang sulit untuk menaruh segunung tekanan dari atas pundak agar kembali menjadi baik.”

Kuberanjak dari kursi dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci muka. Kuambil jaket wol hitam dari lemari dan keluar dari rumah perlahan dengan tongkat kayuku. 

Kukira pagi ini akan cerah, tapi mendung mulai berdatangan. Aku bermaksud untuk berjalan-jalan dan menyapa tetangga. Lalu mungkin bisa menikmati pagi di samping danau dan memberi makan bebek-bebek yang belum bermigrasi sebelum musim dingin tiba. Tapi di tengah perjalanan dadaku mulai sesak dan aku mulai meneteskan air mataku lagi. 

Aku berlutut saking sakitnya dadaku ini. Aku terisak akan sesuatu yang belum aku pahami. Aku menangisi sesuatu yang abstrak. Gonggonganku mulai terdengar. Dan pada akhirnya aku melolong kencang sembari menengadahkan wajah dan moncongku ke langit yang gelap dan runyam. Aku melolong lagi dan lagi. Beberapa detik kemudian longlongan lain membalas. Rintik hujan mulai berjatuhan ke pemukiman kami.