Aspirasi rakyat Papua untuk memperoleh kemerdekaan lewat penentuan nasib sendiri kembali terungkap dalam dua buah buku yang baru-baru ini terbit. Buku-buku tersebut ditulis berdasarkan pengalaman dan penelitian para penulisnya saat hidup bersama rakyat Papua, baik di Papua maupun di pengungsian di Papua Nugini, juga di pengasingan di luar negeri lainnya.

Buku pertama, Papua Blood, A Photographer's Eyewitness Account of West Papua over 30 Years, ditulis oleh seorang fotografer profesional asal Denmark yang bersimpati pada aspirasi merdeka rakyat Papua. Dia adalah Peter Bang, seorang fotografer yang sudah melanglang buana untuk melakukan pemotretan penduduk-penduduk asli, termasuk untuk publikasi PBB.

Buku kedua ditulis oleh Profesor Antropologi Universitas Michigan, AS, Stuart Kirsch, berjudul Engaged Anthropology, Politics beyond Text. Buku ini merupakan karya lanjutan dari antropolog yang sudah malang melintang membantu perjuangan penduduk asli di kawasan Pasifik hingga Amazon, setelah beberapa karya ilmiahnya berdasarkan riset di Papua Nugini dan Papua.

Memoar Seorang Proponen

Peter Bang (60) menulis Papua Blood berdasarkan pengalamannya selama 30 tahun mengamati gerakan pro-kemerdekaan Papua di Papua. Dalam buku setebal 248 halaman yang terbit Maret lalu ini, Peter Bang memuat 200 foto hasil jepretannya maupun foto-foto lain yang diperolehnya dari berbagai sumber. 

Foto-foto tersebut dilengkapi dengan narasi yang juga ia tulis sendiri. Kesemuanya dihasilkan dari kunjungannya ke Papua dan hidup bersama rakyat Papua, termasuk bersama dengan suku Yali dan suku Dani.

Buku ini merupakan kesaksian fotografer dokumenter ini tentang aspirasi dan aksi rakyat Papua pro-merdeka. Ia menghimpunnya sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Cendrawasih pada 1986 hingga tahun 2016, ketika kekerasan terhadap Orang Asli Papua (OAP) ia nilai belum juga mereda.

"... Ketika saya pertama kali menyalakan pemantik saya di dalam rumah, semua laki-laki di sana meledak dalam teriakan terkejut dan setelah itu semua  menyentuhnya dan menemukan cara kerjanya. Mereka belum pernah melihat pemantik sebelumnya; mereka membuat api dengan menggunakan liana yang mereka gosokkan pada sepotong kayu kering." Demikian Peter Bang melukiskan kunjungan pertamanya di sebuah desa pedalaman Papua.

Dalam bagian lain buku ini, penulis belasan buku ini mengisahkan percakapannya dengan seorang pria yang menyatakan siap menumpahkan darahnya sendiri hingga tetes penghabisan demi memperjuangkan kemerdekaan Papua.

"Seorang pria berkata kepada saya bahwa dia sudah siap untuk pergi berperang dan berjuang sampai titik darah terakhir, dan bahwa dia bukan satu-satunya yang bersikap demikian," tulis Peter Bang.

Kepada Peter Bang, pria itu mengatakan rakyatnya tidak bisa terus hidup di bawah 'pemerintahan kolonial' yang mengendalikan mereka secara mengerikan. Penderitaan mereka, menurut pria itu, sudah cukup.

"Semua orang di desa itu, termasuk orang-orang tua, wanita hamil dan bahkan anak-anak kecil berteriak untuk kemerdekaan. Dan mereka semua pendukung yang sangat berdedikasi untuk berteriak Papua Merdeka," lanjut Peter Bang.

Peter Bang juga mengutip perkataan pria tersebut, yang berandai-andai bangsa di seluruh dunia membantu perjuangan mereka. Jika, kata pria itu, jutaan rakyat dari berbagai penjuru dunia bergabung dan bepergian ke Papua untuk berunjuk rasa secara damai, kemungkinan Papua akan segera merdeka.

Tetapi, ia menambahkan, rakyatnya tak punya waktu terlalu lama untuk bisa menunggu. "Jika tidak ada perubahan, dalam 20 tahun ke depan rakyat Papua akan punah." Demikian Peter Bang mencatat kesaksian pria yang menjadi narasumbernya.

Buku yang diterbitkan oleh Remote Frontliner yang berbasis di Copenhagen Denmark ini dapat digolongkan sebagai sebuah memoar tentang perjuangan rakyat Papua pro-kemerdekaan dari kacamata seorang proponennya. Penulisnya terlibat secara fisik dan emosional mendukung aspirasi merdeka Papua.

Secara substansi, isi kisah di dalam buku ini mengulang kembali argumen-argumen kesejarahan tentang mengapa ada rakyat Papua yang berjuang untuk penentuan nasib sendiri. Pendorong mereka memiliki aspirasi demikian adalah 'cacat' Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969, pelanggaran HAM serta diskriminasi terhadap Orang Asli Papua (OAP).

Hal-hal baru dari buku ini adalah pada detail pengalaman penulisnya bersama orang-orang Papua serta rekaman peristiwa dalam banyak foto.

"Sangat baik, ditulis dengan foto-foto yang luar biasa dan berharga dari budaya yang suatu hari akan hilang. Penulis mencerahkan dan menghibur sambil menyampaikan pernyataan yang sangat terlibat untuk kemerdekaan Papua," komentar Jorgen Bjerre, seorang wartawan, tentang buku ini.

Antropologi yang Terlibat

Sementara itu, dalam Engaged Anthropology, Stuart Kirsch meluangkan satu bagian dari bukunya untuk menceritakan pengalamannya bersama rakyat Papua ketika melakukan penelitian di perbatasan Papua dan Papua Nugini.

Pada awalnya, Kirsch melakukan penelitian antropologi di tepi Sungai OK Tedi di Papua Nugini pada 1989. Ia terlibat pada gerakan penduduk asli di sana melawan sebuah perusahaan pertambangan yang mencemari sungai tempat mereka berdiam.

Narasi utama bukunya sebetulnya adalah mengenai perlawanan rakyat PNG di sekitar Sungai OK Tedi.

Namun kemudian, ia memperoleh kesempatan berbicara dengan rakyat asal Papua di pengungsian di Papua Nugini tak jauh dari perbatasan. Mereka adalah bagian dari puluhan ribu yang melarikan diri dan menyeberang perbatasan pada 1984 akibat ketegangan politik di Indonesia.

Lewat buku yang diterbitkan oleh Univesity California Press pada Maret lalu ini, Kirsch menggambarkan apa yang disebut sebagai Engaged Anthropology, suatu genre antropologi yang lagi naik daun dalam satu dekade belakangan.

Engaged Anthropology adalah suatu disiplin antropologi yang berusaha melibatkan diri pada berbagai upaya keterlibatan publik dalam isu-isu sosial. Para antropolog dalam melakukan penelitiannya, terlibat dan ikut dalam membantu dan menggerakkan masyarakat yang ditelitinya untuk mencapai tujuannya.

Dalam buku ini, Kirsch menceritakan salah satu momen penting yang membuat dirinya bersimpati dan kemudian terlibat dalam memperjuangkan aspirasi rakyat Papua. Momen itu adalah saat usai sebuah ritual inisiasi yang diikutinya bersama dengan rakyat Papua di tengah hutan dan ia bercakap-cakap dengan para pengungsi Papua itu.

Pengungsi tersebut melontarkan pertanyaan kepadanya, yakni untuk apa penelitian yang dilakukannya. Apakah penelitian tersebut akan dipakai untuk membantu perjuangan rakyat Papua untuk dapat menentukan nasib sendiri atau, sebaliknya, akan dipakai untuk membantu pemerintah Indonesia.

Dari sana Kirsch memutuskan akan turut terlibat pada aspirasi mereka dan ia berusaha mencari cara memberikan bantuan dengan keahlian dan ilmunya. Salah satu bentuk keterlibatannya sebagai akademisi ialah menulis di media Papua Nugini dengan tujuan mengoreksi persepsi yang salah yang diciptakan oleh para akademisi dan wartawan.

Kirsch memandang perlu mengoreksi anggapan bahwa para pengungsi dari Papua yang menyeberang ke Papua Nugini adalah para 'penyeberang tradisional.' Mereka selama ini diklaim meninggalkan Papua demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan alasan ekonomi lainnya.

Menurut Kirsch, dari hasil risetnya berdasarkan wawancara yang ia lakukan, para pengungsi tersebut sama sekali bukan pencari keuntungan ekonomi, melainkan pengungsi politik. Menurut dia, para pengungsi tersebut tanpa kecuali mengidentifikasi diri mereka dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan mengemukakan bahwa tujuan mereka adalah kemerdekaan Papua.

Dengan menjernihkan hal ini, Kirsch ingin menumbuhkan simpati rakyat PNG terhadap para pengungsi dari Papua.

"Saya prihatin dengan kegagalan pengamat luar untuk mengambil perspektif pengungsi dan tujuan mereka dalam laporan mereka untuk mengambarkan situasi di perbatasan Papua Nugini," tulis peraih gelar Ph.D dari University of Pennsylvania dan pernah mengajar Arctic University of Norway.

Menurut Kirsch, awalnya ia menahan diri dan cukup bingung untuk menentukan keterlibatan dalam perjuangan para pengungsi tersebut. Namun, setelah perjuangan aspirasi merdeka Papua bergeser dari perlawanan fisik ke penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), Kirsch mulai menemukan bentuk keterlibatannya. 

Ia bahkan mengunjungi Biak dan Jayapura serta turut memberikan pelatihan di sana. Dalam buku ini, ia juga menceritakan kunjungannya ke AS bersama salah seorang tokoh United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Octo Mote, ke kantor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan ke Kementerian Luar Negeri AS.