Chandikkala mulai merona, ketika dua orang tetangga bertamu ke rumah. Keperluannya ingin bertemu ibu, guna memesan makanan. Tapi karena saya ada di dekat ibu, jadi ditarik dalam perbincangan. Di awali dengan bertanya, “sekarang umurnya berapa sih?” Saya cuma senyum, “tebak sendiri saja, mbak.” Yang bertanya itu seorang mbak, yang berselisih umur sekian tahun dengan saya. Sedangkan yang satu lagi, seorang ibu berumur 50 tahunan.


“Eh kan sekolahnya bareng adik saya ya, berarti umurnya sudah sekian ya?” Ia menyebutkan sebuah angka. “Ya mendekati itulah, Mbak.” Tanpa menunggu lama, si mbak langsung tancap gas. “Gimana, udah punya calon kan? Di kampung kita kan gak ada istilah perawan tua ya, dan memang gak ada yang menikah tua. Ya udah sih nikah aja. Perkara sudah nikah, terus cerai, ya gak papa. Yang penting kan udah ngerasain nikah ya,” ucapnya panjang lebar.


Saya jadi berpikir, kehidupan pernikahan yang seperti apa yang dialaminya, sehingga bisa menyimpulkan begitu. Ingin bertanya, “pernikahanmu baik-baik saja kan mbak?” Tapi setelah berpikir sekian detik, memutuskan untuk tak bertanya. It’s not my bussiness

Saya gak mau karena pertanyaan itu, membuat saya jadi mendengarkan ceritanya terkait pernikahannya. Tak mau juga disusahkan, jika dia meminta saya terus menjadi pendengar dan penyolusi. Perkara hidup saya juga sudah banyak, jadi tak mau menambah perkara lagi. Apalagi si mbak ini tipikal orang yang mudah bercerita. Apa saja diceritakannya.


“Eh iya, kalau nikah nanti, itu karena sudah siap ya. Bukan karena desakan orang tua, karena omongan tetangga, atau karena umur. Menikah itu gak gampang ya,” ucap si mbak lagi. Saya tersenyum, ternyata analisa saya benar. “Curhat colongan ya Mbak?” Si mbak tertawa, “iya dulu kan saya diomongin terus karena belum juga nikah. Untungnya bisa nikah juga. Bisa ngerasain nikah.”


Menjadi anak rumahan, yang gak suka main ke rumah tetangga kalau tanpa alasan jelas, membuat saya gak tahu hal-hal tentang kehidupan pribadi para tetangga. Tapi saya rasa, itu bukanlah hal yang penting. Ini adalah cara saya menjaga diri dari overthinking. Berlatihan untuk tidak mengetahui, apalagi mencampuri urusan orang lain, dan tidak mau masuk ke wilayah privasi orang lain.


Dalam hidup ini, tak semua hal bisa dikendalikan. Ada juga hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Setelah mengetahui itu, maka saya hanya berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti memilih respon atas sikap (ucapan dan tindakan) orang lain. Dan saya membebaskan diri atas hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Tentunya tidak mungkin, agar disukai semua orang. Perkara berlaku benar saja, tak lantas menjadi alasan disukai banyak orang, apalagi berlaku tidak benar. Belum menikah di umur di mana banyak orang sudah mempunyai anak, nyatanya dianggap prilaku salah, hingga orang-orang mulai mengusik.


Memilih respon, adalah sebuah langkah awal yang akan mempengaruhi keadaan diri selanjutnya. Merespon biasa, akan membuat diri baik-baik saja. Membuat diri semakin bisa menerima, yang akan mengarahkan pada semakin mengetahui dan memahami rahasia semesta di balik setiap kejadiannya. 

Sedangkan merespon dengan emosi, tentunya akan membuat diri semakin sakit. Semakin sulit menerima kenyataan yang terjadi dan akan semakin terampil menyalahkan diri sendiri. Ke semua itu, tentu saja berpeluang besar untuk mulai membandingkan diri dengan orang lain. Mencari aneka pembenaran agar tak terlihat inferior. Over thinking terjadi.   


Memilih respon untuk biasa saja, tentunya bukanlah perkara mudah. Butuh waktu dan latihan yang terus-menerus. Pun butuh pengetahuan serta pemahaman. Juga butuh kedewasaan dan kejernihan berpikir. 


Memilih respon biasa, adalah buah dari berpikir sederhana dalam melihat masalah, memandang kejadian, dan dalam segala hal apapun yang terjadi. Segala yang datang, tak mempunyai nilai (netral), diri sendirilah yang memberikannya nilai. Baik atau buruk. Negatif atau positif. Semakin terampil memberikan nilai, akan semakin menyusahkan diri sendiri. 

Sebaliknya, dengan tidak berusaha memberikan nilai, hanya menjadi pemerhati dan pengamat, maka akan membuat diri semakin tenang dan damai. Ketenangan dan kedamaian inilah yang sebenarnya dibutuhkan, untuk membuat diri semakin bahagia. 

Bahagia karena faktor internal, bukan karena faktor-faktor eksternal yang harus selalu dikejar dan dipenuhi, yang selalu membuat diri kesusahan dan menderita. 


Maka, mulai saja dulu. Memulai bersikap biasa dan merespon biasa atas segala prilaku orang lain. Memulai mengendalikan pikiran untuk hanya berpikir sederhana, dan menyederhanakan segala sesuatu. Memulai untuk menyambut biasa saja atas segala apa yang datang. 

Hanya melihat dan mengamati, tanpa keinginan untuk memberikan nilai. Memulai untuk mengendalikan diri, atas hal-hal yang bisa dikendalikan, dan melepaskan diri dari hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Memulai menyadarinya, hingga akhirnya menemukan kekuatan. Kekuatan untuk bahagia. Sama seperti yang diucapkan oleh Marcus Aurelius, “You have power over your mind, not outside events. Realize this, and you will find strength.”