Soal pekerjaan tentu pilihan semua orang, begitupun dengan soal memilih tempat di mana ia harus bekerja. Iya, sebagai warga negara tentu tak ada yang boleh mengharuskan harus kerja ini dan itu, kecuali kalau sudah memilih terjun di dunia kerja yang sudah jelas aturannya, tentu harus siap sedia ikut pada aturan kerja yang telah disediakan.

Maksudnya seperti ini, saat kita memilih tempat kerja, tergantung dari pribadi kita memilih mau kerja di mana. Begitulah kira-kira kenapa banyak orang yang memilih kerja di luar kampung ketimbang di kampungnya sendiri, lagi-lagi itu adalah hak setiap insang manusia. Sama halnya dengan anak petani, banyak yang orang tuanya petani, namun anaknya lebih memilih kerja kantoran ketimbang menjadi petani untuk melanjutkan usaha orangtuanya. Ya, tentu kita tak boleh menjustifikasi secara negatif, karena mereka juga pasti punya alasan yang kuat.

Kembali pada soal memilih bekerja di luar dari kampung sendiri. Sering saya dengar, ketika ada orang yang lebih memilih merantau/mencari pekerjaan di luar kampung, sering kali dituduh tak cinta kampung halamannya. Apalagi kalau masyarakat yang tergolong punya pendidikan tinggi, lantas tidak kembali ke kampung untuk bekerja dan mengabdikan dirinya di sana. Maka, justifikasi negatif akan melekat kepadanya sebagai orang yang tak cinta kampung halamannya sendiri, walaupun seorang terpelajar.

Iya memang diakui bahwa orang yang terpelajarlah mestinya kembali ke kampung untuk membangun daerahnya. Sederhananya mahasiswa yang diharapkan agar kembali ke kampung untuk mengembangkan daerahnya, dalam dunia mahasiswa sebagai agent of change. Hal demikian tentu saya sangat sepakat, bahwa mahasiswalah yang mestinya menjadi agen perubahan untuk daerah. Namun, realitasnya tidak semudah yang kita pikirkan.

Tentu menjadi tanda tanya besar, mengapa banyak juga mahasiswa yang setelah lulus kuliah, malah memilih untuk bekerja di luar kampungnya sendiri, kariernya bahkan lebih bergairah dilirik orang luar, ketimbang orang yang ada di kampungnya sendiri. Mengapa tidak, tipe dan karakter orang tentu juga berbeda-beda, maka alasan untuk memilih kerja di luar kampung menjadi hal yang logis  bagi mahasiswa yang sudah lulus kuliah. 

Kerja di kampung dengan kerja di kota tentu berbeda, alhasil banyak juga mahasiswa lebih memilih kerja di kota.

Memilih kerja di luar kampung bukan berarti tidak cinta kampung halaman atau tidak peduli untuk membangun daerah. Namun, ada beberapa alasan mengapa banyak mahasiswa yang lebih memilih kerja di luar kampung ketimbang kerja di kampungnya   sendiri. Dalam analisa kecil-kecilan saya, orang yang memilih kerja di kota karena alasan ini:

1. Tidak terjangkau akses transportasi dan jaringan internet

Mungkin tidak banyak lagi kampung yang tidak tersentuh akses transportasi dan jaringan internet dengan baik. Namun, sebenarnya perlu juga disosialisasikan bahwa masih ada lho yang sampai hari ini, belum menikmati akses transportasi yang baik dan kondisi jaringan internet yang normal. Dari sekian banyak daerah pelosok di Sulawesi Barat, kampung saya Todang-Todang sampai hari ini belum bisa mengakses jaringan internet dengan baik. 

Begitupun dengan jalanan, walau sudah di beton namun jalanan rusak masih setia menemani dan menghantui para pengendara yang lewat.

Akses internet di kampung saya sangat tidak baik, bahkan jaringan telepon saja susah apalagi jaringan internet. Sehingga apabila pengen untuk mengakses internet, tentu rela keluar rumah dan mencari jaringan di tempat yang lebih tinggi, biasanya hanya di gunung bisa berinternet. 

Padahal, kita ketahui bahwa  internet sudah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia yang hidup di era digitalisasi. Apalagi kalau mahasiswa yang memang bidang keilmuannya di dunia teknologi yang membutuhkan akses internet, atau bekerja dengan bantuan internet. Maka sudah pasti akan tidak betah jika harus berada di kampung halaman tanpa ada jaringan internet. 

Begitulah yang juga saya alami sekarang lebih banyak tinggal di daerah perkotaan, dan salah satu alasannya pengen berada di tempat dengan akses internet yang bagus, bukan berarti tidak bisa hidup tanpa internet, namun internet hari ini sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa dielakkan lagi.

2. Budaya Feodalisme dan Nepotisme Pemerintahan Desa masih sangat kental

Di era digitalisasi hari ini, ternyata masih ada   kampung/desa yang masih menerapkan sistem pemerintahan desa yang kolot. Budaya feodalisme dan nepotisme masih kental dipertahankan untuk memimpin sebuah desa, walaupun sudah tidak banyak sih ketimbang yang dulu-dulu.

Lagi-lagi saya ambil sampel di kampung saya, saat ini pemerintahan desa masih dikuasai satu keluarga dan satu keturunan. Artinya praktik nepotisme masih sangat kental di kampung saya. Hal itu terbukti setiap unsur pemerintahan di desa, mulai dari kepala desa hingga para staf dan operator desa, hanya di isi dengan orang-orangnya kepala desa.

Bahkan Badan Pengawas Desa (BPD) juga berada di dalam ketiaknya kepala desa, artinya BPD orang-orangnya kepala desa. Jadi, tidak heran jika mereka yang bukan orang-orangnya kepala desa malah memilih mencari pekerjaan di luar desa, daripada harus bertarung pekerjaan di desa di bawah pemerintahan nepotisme dan feodalisme desa. 

Nah, kondisi ini kebanyakan terjadi jika mahasiswa yang lulus kuliah tidak memilih untuk bertani, karena hanya bertanilah yang bisa dimanfaatkan jika berada di kampung saya, selain masuk di pemerintahan desa.

3. Tidak mampu melihat peluang kerja di kampung halaman

Banyak juga mahasiswa yang setelah lulus tidak mampu mengembangkan kreativitasnya di kampung, bahkan pikirannya justru lebih terbuka saat berada di kota yang memang sudah berpengalaman di kota saat menjadi mahasiswa. Kondisi itulah yang mungkin mempengaruhi kenapa malah sulit melihat peluang di kampung. 

Contohnya di kampung saya, kalau tidak ingin menjadi petani maka tentu sulit melakukan bidang kerja lain, karena akses transportasi dan internetlah yang sangat membatasi bekerja di luar sebagai seorang petani.

4. Merasa Dikucilkan di kampung sendiri

Sifat bully dan mengucilkan seseorang juga masih kerap terjadi, begitulah yang juga terjadi di kampung saya. Meskipun perilaku seperti itu adalah hal lumrah terjadi pada tiap manusia, namun sangat berbeda jika kejadiannya berada di kota ketimbang di kampung. Entah kenapa, saat terjadi gosip  di kampung justru lebih malu rasanya ketimbang di kota, seakan ada ikatan sosial yang selalu menghantui. 

Itulah mengapa banyak juga orang justru memilih keluar daerah, hanya karena ingin keluar dari budaya bully dan gosip, mending menghindar memang dari awal daripada terjadi konflik kampung.

5. Pengen mencari pasangan di luar Kampung

Kalau yang ini tergantung lagi pasangannya sih, karena ada juga lho ketika mencari pasangan di kota, namun bisa diajak untuk hidup bersama di kampung atau di desa. 

Namun, saat saya perhatikan kalau di kampung saya, ketika ada pemuda desa yang menikah dengan orang kota, selalu saja warga kampung saya yang memilih untuk ikut pada pasangannya yang di kota. Itu fakta yang terjadi di kampung saya, kecuali kalau sama-sama warga kampung yang di desa menikah, maka itulah yang biasanya bertahan di kampung dan bekerja di kampung.

Oleh karena itu, orang yang memilih kerja di luar dari kampungnya, bukan berarti tidak peduli dengan kampungnya sendiri, atau tidak mau terlibat dalam pembangunan kampungnya. Namun, ada beberapa alasan sehingga memilih kerja di laur, atau bahkan  sudah ada kemauan untuk bekerja di kampung halaman, namun ada beberapa faktor yang tidak mendukung, akhirnya memilih keluar kampung. 

Jadi, kalau ada yang mengatakan mereka yang tidak bekerja di kampungnya sendiri berarti tidak cinta kampungnya, maka sebaiknya perlu untuk lebih selektif dan objektiflah memandang persoalan, saya pikir seperti itu.