Setelah seorang nabi wafat, banyak kesusahan menimpa umatnya. Dicarilah satu sistem pemimpin untuk melanjutkan ajaran nabinya, yaitu khilafah. Khilafah sendiri dilandasi oleh kitab suci dalam surah al-Baqarah, an-Nur juga as-Shaad. Dalil-dalil ini ikut membakar semangat umat Muslim untuk mewujudkannya. Di sinilah, terjadi kesusahan dan perselisihan karena mereka akan mencari sesuai jalan pikirannya.

Muncul beberapa alternatif pilihan untuk sistem khilafah yang bisa diwujudkan, di antaranya: pertama Khilafah yang membutuhkan kekuasaan wilayah dan kedua, khilafah tanpa kekuasaan wilayah.

Sistem khilafah yang membutuhkan wilayah memilik risiko tinggi disebabkan adanya keharusan merebut kekuasaan politik di suatu negara. Negara mana yang rela kekuasaan politiknya direbut atau diganti dengan kekuasan politik syariat Islam.

Contoh organisasi yang menggunakan sistem khilafah dengan kekuasan wilayah adalah Hizbut Tahrir (HT), secara terang-terangan mengatakan bahwa konstitusi NKRI adalah kufur. Tahun ini, mereka agak sedikit melunak. "Khilafah cinta NKRI" atau "khilafah untuk memperbesar NKRI" adalah kalimat yang ditampilkan pada publik.

Hal itu tidak membuat ormas seperti Banser dan ormas Islam lainnya menerima, mereka tetap menolak sebab HT dinilai tidak sejalan dengan 4 pilar kebangsaan. Sudah jelas sistem khilafah seperti ini akan mengalami penolakan dari ormas cinta nasional dan tentunya oleh negara itu sendiri.

Sistem khilafah seperti yang dituntut HT adalah sistem khilafah politik yang menginginkan suatu kekuasaan, wilayah daulah dan pasukan bersenjata. Sekali lagi sistem ini menimbulkan konflik berdarah.

Jenis sistem khilafah yang kedua yang masih dapat diperjuangkan adalah khilafah yang tidak membutuhkan kekuasaan wilayah. Khilafah seperti ini bersifat spritual, di mana pengikutnya dapat tinggal di mana saja serta tunduk kepada hukum nasional di negeri tersebut.

Hanya diperlukan ketaatan dari hati pengikutnya. Perjuangannya hanya terbatas pada merebut simpatik hati dan pemikiran publik melalui konsep dan pemahaman cerdas mengenai keislaman. Sama sekali menyatakan tidak dalam hal merebut kekuasaan duniawi tetapi penuh dalam hal keagamaan.

Contoh organisasi yang berhasil menjalankan sistem khilafah tanpa kekuasaan wilayah adalah Ahmadiyah selama 108 tahun. Gerakan ini mengusung moto love for all hathred for none menjadi modal ampuh sehingga negara atau golongan mana pun dapat menerima dengan baik.

Ahmadiyah memiliki satu khalifah terpusat yang ditaati dan dicintai sepenuhnya oleh pengikutnya. Khalifah mereka hanya mengatur soal pendidikan spritual keagamaan sesuai yang diajarkan oleh pendirinya. Mereka independen dalam mengembangkan organisasinya bahkan mencetak sendiri ulamanya, semua biaya berasal dari kantong para pengikutnya yang diklaim sudah 200 juta orang.

Kenyataannya kini, jenis khilafah yang pertama tidak pernah terlaksana. Dan jenis yang kedua sudah bertahan selama satu abad. Kedua-duanya sama-sama mengatasnamakan khilafah tetapi memiliki cara kerja yang berbeda.