Memikirkan kembali (rethinking) merupakan upaya untuk mendasari lagi pemahaman kita tentang apa saja. Hal ini menjadi perlu karena kebiasaan berpikir kita terkadang mengaburkan pemahaman kita tentang sesuatu atau mendangkalkan, sehingga kita tidak meraih yang dasar. 

Dengan demikian, upaya rethinking tidak lain merupakan upaya untuk mendasari kembali pemahaman kita. Sebenarnya berpikir seperti ini adalah berpikir yang sederhana. Tapi karena kebiasaan berpikir kita terlalu rumit, yang sederhana, yang mendasar tampak begitu rumit.

Untuk memahami kertas secara mendasar, kita perlu juga memahami kebenarannya. Karena tidak ada yang kita cari kecuali kebenaran. Setiap orang selalu berusaha untuk menunjukkan kebenaran, sekalipun hasilnya beragam. Sekalipun beragam, setiap usaha mencari kebenaran selalu mencari suatu hubungan yang cocok atau sesuai dengan yang lain. 

Hal ini menunjukkan bahwa setiap hal yang cocok dengan hal lain adalah benar. Begitu juga tentang kertas, kesesuaian adanya dengan yang lain adalah yang benar. 

Akan tetapi, perlu bagi kita mengulas atau memikirkan ulang tentang kebenarannya. Karena kebenaran pada dasarnya tidak pernah kebenaran sesuatu sebagaimana biasa dipahami, tapi lebih sebagai hubungannya dengan yang lain. Berbicara kebenaran berarti berbicara hubungan yang cocok antara sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Memikirkan kebenaran merupakan persoalan klasik yang akan dipikirkan kembali dalam tulisan ini, hubungannya dengan kertas. Akan tetapi, kebenaran di sini bukan dalam arti epistemologis, melainkan kebenaran dalam sudut pandang eksistensial. 

Pada dasarnya, baik kebenaran epistemologis maupun eksistensial, keduanya secara umum memiliki pengertian yang sama tentang kebenaran. Hanya saja, kebenaran eksistensial terletak pada cara berada, bukan terletak dalam proposisi-proposisi. 

Meskipun demikian, kita tetap akan memulai dengan kebenaran epistemologis. Karena kebenaran secara eksistensial dalam filsafat memang belum memiliki kerangka yang sistematis.

Dalam filsafat pengetahuan atau teori tentang kognisi yang dikenal dengan epistemologi, kita mengenal berbagai macam kebenaran. Akan tetapi, semua itu mengarah pada kebenaran sebagai "yang cocok" atau "yang sesuai". 

Misalnya, kebenaran korespondensi adalah kebenaran di mana pernyataan dan kenyataan sesuai atau juga kebenaran koherensi yang adalah pernyataan dan pertanyaan lain sesuai, tidak kontradikitif. Selain itu, kebenaran-kebenaran dalam pengertian lain, sekalipun berbeda, secara umum mengikuti prinsip kebenaran dalam arti yang cocok atau sesuai.

Begitu juga dalam hubungannya dengan kertas. Jika kita ingin meraih kebenarannya, kita akan memahami kebenaran sebagai yang cocok. 

Memang masih terdapat suatu pandangan filosofis dari Martin Heidegger yang memahami kebenaran sebagai "aletheia" atau "yang tersingkap". Akan tetapi, kita akan mengalami kesulitan jika upaya ini menggunakan kebenaran dalam arti yang tersingkap dalam hubungannya dengan kertas. Karena ia begitu sunyi, sementara kertas bersifat publik dan tentu begitu ramai.

Bagaimana kebenaran kertas, sementara kertas bukan suatu pernyataan, tapi sesuatu yang kongkret? Kebenaran sebagai yang cocok, jika direnungi lebih jauh lagi, pada dasarnya tidak hanya sekadar kecocokan antara pernyataan dengan kenyataan atau pernyataan dan pernyataan lain, melainkan juga dapat diperluas ke hal-hal lain. 

Artinya, prinsip kecocokan atau non-contradiction dapat berlaku pada apa saja dengan apa saja. Jadi, kebenaran kertas maksudnya adalah kecocokannya dengan hal-hal lain. 

Akan tetapi, kertas bukan hal lain bagi kita, karena esensinya adalah eksistensi kita. Inilah yang dimaksud dengan kebenaran eksistensial. Dengan demikian, yang dimaksud dengan hal lain adalah hal-hal yang secara alamiah berada begitu saja; singkat kata, adalah alam, nature.

Jadi, kebenaran kertas tidak lain adalah kesesuaiannya dengan hal-hal. Jika kertas tidak sesuai dengan alam, maka kertas itu salah adanya. 

Kertas, kebenarannya sejauh adanya sesuai atau tidak bertentangan dengan yang lain. Jika seseorang berbicara tentang suatu produk yang ramah lingkungan, maksudnya dalam hubungannya dengan kebenaran adalah produk yang sesuai dengan hal-hal yag begitu saja ada, alamiah. 

Hanya saja, sekarang ini, lingkungan dipahami sama dengan alam. Lingkungan bukan lagi nature, tapi lingkungan adalah dunia kehidupan kita sendiri atau eksistensi kita di dunia yang bisa ramah dan tapi juga bisa eksploitatif.

Maka, kebenaran kertas berarti kecocokan atau kesesuaian kertas dengan ada yang tersedia begitu saja, sehingga jika kertas tidak sesuai dengan alam, maka ia keluar dari kebenarannya atau kontradiktif yang keberadaannya bisa menyebabkan ketidakseimbangan alam yang berakibat pada kerusakannya.

 Sebenarnya tidak terlalu susah untuk memahami hal ini. Hanya saja, kita sering mengabaikan kebenaran sesuatu dalam hubungannya dengan yang lain dan lebih cenderung mengukur kebenaran sesuatu berdasarkan kesesuaiannya dengan hasrat, yakni kebenaran psikis.

Kebenaran psikis pada dasarnya bukan kesesuaian dengan hal-hal lain, tapi dengan dirinya sendiri. Akan tetapi, karena kebenaran selalu kecocokan suatu hal dengan hal lain, dalam kebenaran psikis, seseorang me-lain-kan dirinya, yang pada dasarnya adalah keutuhannya yang atau ketakterbagiannya yang telah terbelah.

Karena itu, ia bersifat individualis yang telah retak dan hubungannya dengan yang lain bukan untuk menyesuaikan, tetapi kehendak untuk menguasai yang kemudian memperlakukan yang lain sesuai dengan hasratnya sendiri yang mengarah pada eksploitasi.

Oleh karena itu, pertanyaan apakah kertas ramah lingkungan atau tidak harus diamati secara filosofis dengan meraih kebenarannya. Ia menjadi tidak ramah lingkungan apabila keluar dari kebenarannya. 

Sepertinya ilmu-ilmu dan teknologi sudah tidak bisa lagi mengabaikan filsafat. Karena kemajuan di bidang ilmu dan tekologi secara bersamaan melahirkan suatu krisis cara berada. Karena ilmu hanya mengamati kebenaran pernyataan dengan sesuatu atau berhubungan dengan filsafat tentang kebenaran epistemologis semata, sementara kebenaran eksistensial, yakni kebenaran antara esensi sesuatu sebagai keberadaan kita dengan sesuatu yang ada begitu saja, nature, terabaikan.

Tidak heran jika sekalipun kita sudah banyak meraih kemajuan dengan ilmu dan teknologi, tetap saja mengalami persoalan secara eksistensial. 

Jadi, karena esensi kertas merupakan eksistensi kita, maka upaya meraih kebenaran kertas tidak lain adalah upaya untuk memahami eksistensi kita hubungannya dengan alam. Dengan kata lain, kebenaran kertas berarti juga berbicara tentang kebenaran eksistensial kita. Kebenaran kertas berarti diukur dari keberadaan kita sejauh sesuai atau cocok dengan alam.