17795_26270.jpg
https://www.slayerment.com
Saintek · 7 menit baca

Memetakan Realitas
Membedakan Tiga Realitas yang Kerap Kali Dipertentangkan

Baru-baru ini perbincangan tentang agama dan sains ramai lagi dibicarakan. Topik ini kembali mencuat setelah admin Twitter TNI Angkatan Udara mencuit: “Sebagai prajurit yang bertakwa kepada Tuhan YME, cukuplah Al Quran menjadi science proof (bukti sains). Adalah ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dari kitab suci?”. Kurang lebih begitulah cuitan dari akun Twitter resmi TNI AU.

Belum lama ini juga viral video seorang ustadz kelas nasional, Bachtiar Nasir yang mengklaim campuran susu dan urin Unta dapat membunuh sel kanker. Beliau tidak hanya bicara, tapi juga meminum ramuan campuran itu sambil mengucapkan takbir. Tentu saja, sebagai seorang ustadz, klaim Bachtiar Nasir tidak ujug-ujug datang dari diri sendiri, melainkan dari sebuah hadits.

Dua kejadian di atas sebetulnya hanya fenomena gunung es. Masih banyak sekali saya dengar/baca yang menganggap kitab suci 100% valid dalam membuktikan peristiwa objektif, tentunya dengan ditambah argumen cocokologi. Ada klaim bumi datar, bahaya emas bagi pria, asal-usul manusia, sampai minum urin unta dan banyak lainnya.

Saya tidak mau membicarakan tafsiran sebuah hadits dan ayat suci yang mungkin saja dicocokkan dengan peristiwa objektif. Sebab, penafsiran mungkin sekali berjalan beriringan dengan kemauan “si penafsir”. Kalau misalnya “si penafsir” memiliki keinginan untuk mencocokkan ayat suci dan peristiwa objektif, ya terjadilah cocokologi. Walaupun, dalam ilmu tafsir Quran, salah satu syarat menjadi penafsir adalah terbebas dari keinginan pribadi.

Tetapi, apa yang bisa diharapkan dari makin tingginya populisme agama + kebebasan berpendapat + media sosial? Tentu tidak bisa dihindari oknum-oknum yang memanfaatkan agama untuk kepuasan (kepentingan) dirinya. Lagipula, para cocokolog tersebut tidak menafsirkan ayat suci atau hadits. Mereka hanya menghubungkan ayat suci atau hadits pada peristiwa objektif. Tanpa peduli dengan konteks historis dan keragaman tafsir yang melekat pada ayat suci tersebut.

Untuk menghindari pertentangan yang terus menerus antara sains dan agama, saya menawarkan pembaca sebuah pembagian realitas yang bekerja pada ranahnya masing-masing. Pemahaman terhadap hal ini (saya harap) dapat membuat kita lebih bijak dalam merespons persoalan yang kerap kali terjadi dewasa ini.

Klasifikasi Realitas

Pertentangan antara sains dan agama tidak akan pernah selesai tanpa memahami klasifikasi realitas (kenyataan). Sejarahwan terkemuka, Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens, membagi realitas menjadi tiga. Pemahaman terhadap hal ini (saya harap) dapat membuat kita lebih bijak dalam merespons persoalan yang kerap kali terjadi karena perdebatan antar realitas yang tidak akan menemukan titik tengah. Sebab, landasan pembentuk realitasnya berbeda.

Pertama, realitas objektif. Ranah ini mengandung semua hal yang bisa dialami dan diamati akal dan indera sehat manusia. Syaratnya harus bisa dilihat, diamati dan dirasakan oleh semua manusia normal yang sehat. Nah, karena dapat dirasakan oleh semua orang, realitas objektif bisa dihitung dan diukur tergantung dari kesepakatan orang yang mau menghitung dan mengukurnya.

Penghitungan dan pengukuran realitas objektif inilah yang melahirkan sains. Mereka yang menghitung dan mengukur boleh dibilang ilmuwan. Sains menghasilkan satuan-satuan yang disepakati untuk menghitung dan mengukur sesuatu. Ada meter, gram, ohm, kubik dan masih banyak lagi. Setiap bidang dalam sains memiliki satuan pengukurannya sendiri.

Pengetahuan atas realitas objektif ini menghasilkan penghitungan dan pengukuran yang dapat dijadikan acuan untuk memprediksi masa depan sekaligus memanipulasinya untuk keuntungan manusia. Inilah fungsi sains. Sekarang kita bisa memprediksi sekaligus memodifikasi cuaca. Memprediksi aliran listrik sekaligus memodifikasinya menjadi mesin-mesin teknologi yang saya gunakan untuk menulis artikel ini. Masih banyak lagi kegunaannya!

Apakah ada kebenaran dalam realitas objektif? Jawabannya iya. Kebenaran dalam realitas objektif harus disepakati oleh banyak orang dengan metode pengujian yang ketat. Singkatnya, kebenaran harus masuk akal dan dapat diuji kembali oleh orang lain. Inilah kebenaran sains. Kebenaran sains tidak mutlak, ia bisa runtuh oleh bukti-bukti yang lebih saintifik dan argumen yang lebih masuk akal.

Kedua, realitas subjektif. Ranah ini mengandung semua hal yang hanya bisa dialami dan diamati oleh satu atau beberapa orang saja. Tidak semua orang dapat mengalaminya, sehingga mustahil melahirkan konsensus yang disepakati semua orang. Contoh paling mudahnya adalah selera. Terserah mau selera musik, makan, pacar atau berpakaian. Tidak mungkin ada satuan yang bisa disepakati semua orang.

Pacar saya mengatakan buah durian itu nikmat tiada tara. Bagi saya, buah durian itu menjijikkan. Jangankan mencicipinya, menghirup aromanya saja membuat mual. Teman saya bilang musik metal itulah yang terbaik. Bagi saya musik metal hanya membuat pening kepala. Si A bilang perempuan yang bertubuh sintal itu menarik. Bagi saya perempuan kurus lah yang lebih menarik.

Masih banyak sekali contoh-contoh realitas subjektif. Selera beragama barangkali? Intinya yang terkait dengan rasa dan selera adalah realitas subjektif.

Siapa yang benar? Adakah standar kebenaran dalam realitas subjektif? Jawabnya: Tidak ada. Sebab tidak ada ukuran yang dapat disepakati semua orang. Masing-masing memiliki ukurannya sendiri dalam menafsirkan realitas subjektif. Singkatnya, realitas subjektif adalah pengalaman yang diperoleh/dialami seseorang dari penafsirannya tentang dunia di luar dirinya.

Pengetahuan atas realitas subjektif membuat kita dapat memahami perbedaan individual yang terdapat pada semua orang. Individu adalah makhluk unik yang berdiri atas dirinya sendiri. Dengan memahami ranah ini, seharusnya kita bisa lebih mengerti tentang orang lain dan berhenti memaksakan kehendak atau selera kita pada orang lain.

Ketiga, realitas inter-subjektif. Ranah ini adalah tempatnya kepercayaan dan keyakinan. Dua hal ini hanya dapat tumbuh subur dalam kepala manusia. Tidak ada satu pun makhluk biologis yang memiliki realitas inter-subjektif. Kepercayaan adat, agama, moralitas, hak asasi manusia hingga sistem keuangan terletak pada ranah ini.

Realitas inter-subjektif bukanlah selera perorangan. Ia juga bukan sesuatu yang lahir dari realitas objektif. Ia adalah fiksi yang diyakini dan diamini oleh orang banyak. Fiksi ini tumbuh dari cerita-cerita yang diyakini kebenarannya oleh banyak orang. Cerita-cerita itu kemudian dilegitimasi oleh otoritas setempat dan dijadikan acuan kebenaran. Kurang lebih, begitulah singkatnya realitas inter-subjektif terbentuk. Dalam banyak hal, cerita-cerita itu bisa bertransformasi menjadi sebuah teks sakral.

Fiksi ini boleh jadi cerita tentang dewa-dewa spesifik yang mengatur alam. Zeus di Yunani, Baal di Sumeria kuno, Thor di Skandinavia dan lain-lain. Mereka adalah dewa langit yang berakar dari fiksi bersama yang tumbuh pada pada imajinasi kolektif orang. Kemudian, ceritanya berlanjut pada hukum-hukum yang diciptakan dewa untuk dipatuhi oleh manusia. Tak heran, hampir setiap masyarakat memiliki aturannya sendiri. Tetapi, di era global di mana setiap masyarakat saling berinteraksi satu sama lain, keunikan aturan yang khas di tiap masyarakat melebur menjadi satu. 

Hukum adat, bisa menjadi analogi yang tepat dalam hal ini. Coba saja ke masyarakat-masyarakat yang masih mengisolasikan diri dari kehidupan modern. Suku Baduy contohnya, pasti mereka masih mempertahankan hukumnya sendiri. Begitu juga suku primitif di Amazon, Afrika, Papua dan lain-lain. Keunikan hukum mereka masih dapat terlihat jelas. Inilah realitas inter-subjektif. Hanya ada dalam imajinasi kolektif yang diyakini kebenarannya.

Kekuatan atau kebenaran realitas inter-subjektif akan hilang jika sudah tidak lagi diyakini oleh banyak orang. Ribuan agama sudah punah karena tidak lagi diyakini dan dianut. Mungkin, itulah mengapa hampir di tiap agama memberikan hukuman terberat bagi mereka yang murtad (meninggalkan agama). Sebab, kebenarannya akan hilang seiring dengan hilangnya penganutnya.

Realitas inter-subjektif ini adalah pembeda yang paling signifikan antara manusia dan makhluk lainnya. Kekuatan realitas inter-subjektif mampu membuat manusia bekerja sama dengan jumlah yang luar biasa besar. Tengoklah dorongan agama yang mendorong manusia untuk bekerja sama secara masif, dari perang salib hingga aksi 212 kemarin. Dorongannya kurang lebih berasal dari akar religius yang sama.

Tidak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari realitas inter-subjektif. Sistem keuangan kita pun berasal dari cerita fiksi yang sama. Ia bukanlah realitas objektif. Tidak bisa dimakan dan diminum. Kepercayaan kita lah yang membuat uang memiliki kekuatan. Seandainya Anda mengunjungi suku primitif yang tidak percaya dengan kekuatan uang, saya berani bertaruh ia tidak akan mau menukarkan segelas air dengan uang yang Anda tawarkan. Kalau Anda menawarkan pisang, lebih besar kemungkinannya mereka mau melakukan barter.

Lantas, adakah kebenaran dalam realitas inter-subjektif ini? Jawabannya relatif. Kebenaran inter-subjektif antar masyarakat belum tentu sama. Otoritas yang mengatur legitimasi kebenaran lah yang bisa menentukan. Kebenaran di suku Baduy tentu berbeda dengan kebenaran di suku Dayak. Kebenaran di agama Islam pasti memiliki perbedaan dengan agama Kristen. Kebenaran orang Indonesia berbeda pula dengan kebenaran orang Eropa. Relativisme berlaku di sini.

Kebenaran pada ranah ini juga fleksibel. Bisa jadi kebenaran orang Indonesia 100 tahun yang lalu berbeda dengan kebenaran orang Indonesia saat ini. Bagi orang Islam di era kolonial, memakai celana jeans itu haram. Menggunakan kursi dan meja di sekolah juga haram. Karena, menyerupai orang Eropa yang dianggap kafir maka ia termasuk bagian darinya. Tapi saat ini? Semua hal yang baru saya sebut itu sangat lumrah.

Memahami realitas inter-subjektif ini memang agak sulit. Sebab ia terletak dalam imajinasi kolektif manusia yang sangat abstrak. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang menganggap realitas inter-subjektif sebagai kebenaran objektif. Artinya, memang betul-betul ada secara nyata. Inilah yang membuat kita terus ribut mempertentangkan sains dan agama. Bagi saya, dua hal ini berada dalam ranah yang berbeda. Sains tidak akan bisa membuktikan kebenaran realitas inter-subjektif, begitu juga sebaliknya. 

Yang terparah adalah orang yang meributkan realitas subjektif. Misalnya pertentangan antara pendengar musik. Memperdebatkan lebih enak jazz atau reggae? Berdebat lebih nyaman menggunakan Apple atau Android? Atau lebih keren mana Manchester United atau Chelsea? Lah, kesemua hal ini juga tidak akan menemukan titik tengah. Wong, kebenaran selera terletak pada pengalaman subjektif masing-masing kok. Wallahu A’lam.