Gus Dur (2010) dalam sebuah dialognya dengan Daisaku Ikeda mengutip sastrawan agung, Pramoedya Ananta Toer, "Kemuliaan seseorang datang hanya sebagai hasil pendidikan yang baik yang menjadi dasar perbuatan baik dan mulia." Pendidikan yang baik tidak datang dari proses dogma yang cenderung mengabaikan kebebasan peserta didik dalam proses mencerna pengetahuan itu sendiri.

Azyumardi Azra (2012) memberikan formula tentang  pendidikan emansipatoris, yaitu paradigma pembelajaran yang sejak dari tingkat pandangan dunia filosofis, sampai ketingkat strategi, pendekatan, proses dan teknologi pembelajaran menuju kearah pembebasan peserta didik dalam segenap eksistensinya.

Paradigma ini menurut Azyumardi Azra berbeda dengan paradigma lama yang masih mendominasi pembelajaran, atau bahkan dunia pendidikan umumnya, yang justru membuat peserta didik menjadi terbelenggu, dan tidak lagi bebas mewujudkan keseluruhan potensi kependidikan dirinya.

Pendidikan yang menghilangkan kebebasan berpendapat sudah gagal menjadikan peserta didik sebagai manusia merdeka; mereka tetap menjadi orang-orang tertindas (the oppressed).

Sekolah bahkan membuat mereka terpasung dalam budaya bisu (culture of silence)  kehilangan kemampuan untuk mengekpresikan diri. Peserta didik hanya menjadi objek dari apa yang disebut ‘banking consept of education’ di mana peserta didik diposisikan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa sama sekali.

Untuk itulah pendidikan yang menekankan pada kebebasan berpikir dipandang perlu, agar peserta didik mampu berimajinasi mengekpresikan pemikirannya. Sedangkan guru lebih memosisikan dirinya sebagai fasilitator. Dengan begitu akan terbentuk peserta didik menjadi democratic citizen, yang memiliki dalam dirinya civic values sehingga dapat mengekspresikan keinginan mereka dengan penuh civility (keadaban).

Pendidikan yang tidak menghargai kebebasan berpikir terutama pendidikan agama hanya akan melahirkan peserta didik yang literalis tanpa memandang konteks.

Gerakan literalis ini lebih menuntut keimanan yang ketat secara harfiah yang terkandung dalam kitab suci tanpa mencari penafsiran yang sesuai dan lebih bermakna. Oleh sebab itu, peserta didik menjadi taklid buta tanpa mengkritisi apa yang telah didapatkanya. Pada akhirnya melahirkan peserta didik berpikiran ekslusif dalam beragama. Memaknai agama hitam-putih, tanpa memandang sebab akibatnya.

Pemahaman agama seperti ini cenderung menafikan bahkan menyalahkan pemikiran agama dari luar golongannya. Pemahaman peserta didik yang literalis tentang agama, hanya akan berbenturan dengan culture masyarakat setempat.

Alasannya, bagi literalis, otentisitas Islam didapati pada kemurnian atau keaslian ajaran, sedangkan keaslian dipercaya berada pada keyakinan dan cara berpikir generasi awal hingga dua generasi sesudah masa Nabi dan al-Khulafa al-Rasyidun.

Pandangan Islam seperti ini sama sekali tidak memberikan ruang pada kritik nalar dalam keberagamaan apalagi pada teks kitab suci. Sehingga dari itu bisa melahirkan keberagamaan yang fundamentalis yang sering memaksakan kehendak pada sesama umat Islam dan umat agama lain yang tidak sesuai dengan keberagamaan mereka.

Pemahaman keagamaan menurut Kiai Sahal harus mengedepankan konteks, terutama menyangkut kehidupan sosial. Oleh sebab itu diperlukan pemikiran yang dinamis, bukan memaknai agama secara dogmatis. Dalam kebebasan berpikirnya Kiai Sahal menemukan formula-formula baru dalam memahami agama yang bersifat dinamis. Di antara formula itu, kini akrab disebut fikih sosial Kiai Sahal (Tempo, 01/2015).

Ada lima ciri pokok fikih sosial Kiai Sahal, seperti yang telah dirumuskan dalam halakah NU. Pertama, interpretasi teks-teks fikih secara kontekstual. Kedua, perubahan pola bermazhab dari bermazhab secara tekstual (madzhab qauli) ke bermazhab secara metodologis (madzhab manhaji).

Ketiga, verifikasi mendasar mana ajaran yang pokok (ushul) dan mana yang cabang (furu’). Keempat, fikih dihadirkan sebagai etika sosial, bukan hukum positif negara. Dan kelima, pengenalan metodologi pemikiran filosofis, terutama dalam masalah budaya dan sosial.

Metode pemahaman hukum Islam yang terbuka terhadap berbagai disiplin ilmu nonagama berguna agar pemahaman keagamaan benar-benar sesuai dengan konteksnya, baik konteks masa lalu maupun konteks permasalahan yang dihadapi sekarang.

Mengadopsi kebebasan berpikir dalam menerima ajaran agama seperti yang diformulakan Kiai Sahal pada akhirnya akan membuat peserta didik berpikir dinamis tidak menjadi ortodok karena terpaku pada ordonansi teks, tanpa menggunakan nalar kritis.

Dengan begitu sangat strategis bagi peserta didik bisa mengarungi kehidupan yang mengglobal. Sehingga bisa menampilkan Islam yang rahmah pada sesama mahluk Tuhan. Sebagaimana Abdurraham wahid mengatakan bahwa dalam keberagamaan harus dikedepankan al nafs al-muthmainah (jiwa yang tenang), bukan al-nafs al-lawwamah (jiwa yang penuh dendam angkara murka).

Abdurraham wahid (2009) menggambarkan seperti pertarungan antara Pandawa dan Kurawa. Yang pertama berusaha mewujudkan perdamaian dan ketenangan, maka yang kedua selalu membuat kegaduhan, keributan, dan kekacauan.