Saya selalu menekankan bahwa setiap konser adalah sebuah bab baru dari buku pelajaran mereka. ~ Adrie Subono

Ada pengalaman menarik yang saya temukan saat membaca buku yang diprakarsai oleh JAVA Musikindo. Buku tersebut berjudul “WOW!!”, bercerita tentang kisah perjalanan satu dekade promotor musik terkemuka Adrie Subono bersama JAVA Musikindo yang ditulis oleh Carry Nadeak. 

Saya kemudian tergugah untuk menelusuri informasi di internet terkait kegiatan terbaru dari perusahaan event organizer yang memiliki reputasi beken ini.

Walhasil, penelusuran di situs pencarian tidak menemui hasil yang memuaskan. Saya menemukan pemberitaan terakhir hanyalah sebuah ulasan pada tahun 2018 oleh sebuah media dengan judul "Jalan Panjang Mendatangkan Musisi Asing", yang pada beberapa paragraf memuat penyataan Adrie Subono dalam buku "WOW!!"

Tak berhenti di situ, saya kemudian melanjutkan selancar ke website JAVA Musikindo yang ternyata sudah tidak mengudara lagi. Di official media sosial Twitter, keaktifan update berakhir di tahun 2015. Jejak digital Instagram juga hanya menampilkan sebuah foto ulasan Kompas tentang konser Alisia Keys di Jakarta yang diunggah pada 2013. 

Pada halaman Facebook, JAVA Musikindo mencantumkan informasi tiket Maroon 5 pada 2012. Hal ini lalu memunculkan pertanyaan, ada apa dengan JAVA Musikindo?

Sebagai musisi yang juga berprofesi sebagai event planner, saya sangat membutuhkan asupan pengetahuan seperti ini. Buku ini serasa terlambat menemui saya. Pertemuan dengan buku ini baru saja beberapa hari yang lalu setelah dipinjamkan oleh salah satu pegiat literasi di kota domisili saya, Kendari.

Namun, mari kita lupakan soal keterlambatan dan apa yang pada akhirnya terjadi dengan eksistensi JAVA Musikindo dalam ranah industri musik di Indonesia. Memeras intisari pengetahuan jauh lebih baik daripada menduga kematian. 

Apa yang pernah dilakukan oleh Java Musikindo di masa keemasannya adalah gigantisme masa silam. Sejarah dan eksistensinya adalah pembelajaran yang sangat penting untuk diselami. Java Musikindo adalah contoh yang baik untuk dijadikan cerminan bermusik dan menggelar pertunjukan musik.

***

Pada buku ini, Adrie Subono dengan berani menunjukkan secara telanjang dari keseluruhan isi dapur JAVA Musikindo. Mulai dari menceritakan bagaimana titik awal membangun perusahaan, bangkit dari kegagalan menghelat konser, keluar dari frustrasi traumatik, hingga formula dalam mempromotori artis. 

Mungkin bagi Andrie Subono, hal-hal demikian bukanlah rahasia perusahaan lagi. Saya melihat apa yang dilakukan olehnya merupakan bagian dari mengabarkan dan menyebarluaskan hal-hal pokok yang harusnya dimiliki oleh setiap orang yang mempunyai ketertarikan dan perhatian terkait musik dan perhelatannya.

Ia tak takut jika pengetahuannya dipelajari oleh perusahaan yang bergerak di bidang yang sama. Ia juga tak sedang pamer kesuksesan. Buku ini ditulis semata-mata untuk mengabadikan dan mendistribusi ilmu pengetahuan setelah mengalami pengalaman. Pahit, kelam, hingga manisnya pencapaian dituliskan.

Wow!! dirilis pada tahun 2014, namun buku ini masih sangat relevan untuk dijadikan sebagai bahan refleksi dan perbandingan dengan kondisi kekinian. Sebab, sumber daya dari buku ini adalah pengalaman empirik 10 tahun perjalanan JAVA Musikindo, bukan dari teori-teori yang menumpuk pada langit-langit pikiran. 

Dicantumkannya contoh-contoh Kontrak Artis, Artist Riders, Production Rider, Perizinan, hingga apa yang musti dilakukan pada H-6 minggu sebelum kegiatan dihelat. Sangat berguna buat yang memiliki minat dalam penyelengaraan konser bertaraf internasional. 

Sebagai pemula yang baru saja merintis bisnis yang berkaitan dengan apa yang pernah digawangi oleh Java Musikindo, buku ini bisa menjadi "kitab" yang berguna untuk merumuskan langkah taktis sebuah pengembangan bisnis.

Adrie bukanlah promotor tamatan sekolah tinggi. Ia hanyalah tamatan sekolah formal kelas II SMA. Namun dari tangan dinginnya, ia mampu membangun sebuah perusahaan event organizer yang berhasil menyelenggarakan konser sekaliber Mr. BIG, Muse, Bruno Mars, Ricky Martin, Westlife, The Corrs, The Cranberries, Maroon 5, dan musisi mancanegara lain di Indonesia.

Acap kali Adrie juga menjadi pembicara seminar di beberapa universitas hingga menjadi narasumber di berbagai tempat terkait bagaiamana pengelolaan event organizer.

Walau reputasi sudah berada di tangga populer; tidak pernah puas atas segala pencapaian adalah kunci dari keberhasilannya.

Selain itu, cinta kasih dari keluarga adalah sumber cahaya dari segala keterbatasan yang dimiliki. Darinya kita bisa belajar bahwa meraih sukses bersama orang-orang yang dicintai adalah sebuah bahagia di atas kebahagiaan. 

Dukungan moral dari Chrisye, sang istri, membuatnya tak pernah redup menghadapi persoalan di lapangan. Doa restu dari ibu kandung Subono Mantofani adalah jalan mulus perjalanan menempa diri. Kegesitan dan profesional dari anak-anaknya, Melanie, Chichi, hingga Adrian adalah bagian dari tim kokoh dalam memetik keberhasilan.

Penulis Carry Nadeak tampaknya berhasil masuk pada ruang terdalam Adrie Subono. Sisi managerial hingga taktis pengelolaan keuangan JAVA Musikindo diceritakan secara mengalir hingga membuat buku “WOW!!” renyah untuk dibaca.

Bacalah!