Pembelajar
3 minggu lalu · 353 view · 7 min baca menit baca · Gaya Hidup 17548_64723.jpg
Ilustrasi: Pixabay

Membutuhkan Cinta Adalah Hal yang Sangat Kekanak-kanakan

Salah satu teman saya, yang mudah jatuh cinta kepada wanita mana saja yang mau diajaknya kenalan, mengajak saya ke sebuah kafe di Tegal pada suatu malam sembilan tahun lalu. Di sana, kami duduk saling berhadap-hadapan dengan dua cangkir kopi yang bertengger di atas meja di tengah-tengah kami.

"Kamu kapan berangkat lagi ke Bandung?" tanya saya.

Saat itu, dia sudah sebulan persis pulang ke Tegal. Biasanya, kalau dia pulang, hanya seminggu saja di rumah, sebelum kemudian berangkat lagi ke Bandung.

"Nggak tahu," katanya. "Aku rasanya nggak ingin lagi berangkat ke sana."

"Karena Luli?"

Dia mengangguk.

Luli adalah nama samaran untuk gadis yang saat itu sedang dia inginkan menjadi pacarnya, yang waktu itu baru dia kenal sebulan lalu. Dan Luli adalah teman dekat saya.

Dia melihat Luli pertama kali saat saya mengajaknya ke rumah Luli untuk mengambil buku, yaitu sehari saat dia baru pulang dari Bandung sembilan tahun lalu itu, atau sebulan sebelum teman saya mengajak saya ke kafe.

Dan tepat ketika kami sampai di rumah Luli saat itu, Luli sedang duduk di atas motornya dan baru saja menyalakannya. Saat itu Luli sedang buru-buru, dan memutuskan untuk langsung pergi saja, karena saya yang ditunggu-tunggu belum muncul juga. 

Ketika akhirnya melihat saya muncul, dia tersenyum, kemudian bergegas turun dari motor dan masuk ke rumah untuk mengambil buku. Sebelumnya, saya sudah mengirimi dia pesan bahwa saya akan datang ke rumahnya untuk mengambil buku yang akan dipinjamkannya kepada saya.

"Aku mau pergi, Kim," balas Luli.


"Aku sudah di jalan," balas saya. "Sebentar lagi sampai rumahmu."

Dan teman saya itu sepertinya jatuh cinta pada Luli sejak pertama kali dia melihatnya waktu itu. Tepatnya, mungkin pada saat dia memergoki Luli tersenyum. 

Kemudian setelah itu, entah bagaimana, dengan tanpa bantuan saya, pada malam berikutnya, teman saya berkenalan dengan Luli melalui media sosial Instagram. Dia mencari gadis itu di sana setelah bertanya kepada saya siapa nama Instagram gadis itu.

Setelah menemukan akun instagramnya dan mulai mem-follow-nya, teman saya langsung menyapanya melalui pesan pribadi dan mengatakan bahwa dia teman karib saya, yang kemarin malam saya ajak ke rumahnya mengambil buku. 

Luli langsung meresponsnya dengan cukup baik—mungkin karena dia bilang teman karib saya. Kemudian mereka bercakap-cakap sebentar di media sosial itu sebelum akhirnya saling bertukar nomor WhatsApp.

Sesudah segera itu, mereka menjadi teman yang cukup dekat dan beberapa kali melakukan pertemuan di kafe-kafe dan menonton film di bioskop. Dari rentetan pertemuan-pertemuan itu, teman saya makin jatuh cinta pada Luli.

Dan Luli menikmati pertemanan dengan teman saya itu, terutama terhadap pelayanan-pelayanan yang teman saya lakukan secara spesial terhadap Luli. 

Dan salah satu dari pelayanan-pelayanan itu adalah, pada suatu malam, teman saya pernah tiba-tiba datang ke rumah Luli untuk mengantarkan cokelat kepada gadis itu. Waktu itu Luli menyiarkan keinginannya di status WhatsApp bahwa dia sedang ingin makan cokelat sebelum teman saya itu ujug-ujug muncul di depan rumah Luli dan mengetuk di pintu dan membikin Luli kaget ketika membuka pintu.

"Apa ini, Mas?" tanya Luli.

"Apa yang tadi sedang kamu inginkan," jawab teman saya.

"Maksudnya, Mas? 

"Malam ini kamu sedang ingin makan cokelat, kan? Dan inilah cokelat. Aku mengantarkannya khusus buat kamu, sesuai keinginanmu malam ini."

Sekiranya malam itu Luli sedang ingin makan sate kambing atau jeroan sapi atau brutu ayam, mungkin teman saya akan langsung membawakannya juga ke sana dengan senang hati.

Dan omong-omong, ada satu hal yang ternyata paling membikin teman saya itu makin jatuh cinta pada Luli, yaitu saat gadis itu menggodanya melalui pesan singkat di WhatsApp. 

Mula-mula Luli hanya menanyakan padanya kapan berangkat lagi ke Bandung untuk berjualan tahu aci di sana. (Ya, teman saya itu adalah seorang penjual tahu aci yang sukses di Bandung dan memiliki empat cabang di sana).


Dia menjawab, mungkin masih lama dan lalu menanyakan kenapa. Dengan percaya diri, Luli kemudian menyahutnya seperti ini: “Masih betah di Tegal ya, Mas? Pasti karena ada akunya deh. Iya 'kan, Mas? Mengaku saja deh.” 

Sebagai makhluk yang memang mudah dibikin baper, tentu saja teman saya itu merasa tergoda dengan apa yang disampaikannya itu. Bahkan dia malah mengaku bahwa dia tidak ingin berangkat lagi ke Bandung karena memang ada Luli di Tegal, apalagi gadis itu menyampaikannya dalam nada yang menurutnya terkesan centil sekali dan begitu menggemaskan.

Karena itulah dia makin tergila-gila dan menginginkan Luli menjadi pacarnya. Karena itu jugalah dia makin percaya diri mengejarnya, dan makin terus berkorban demi untuk mendapatkannya. 

Saat itu, teman saya sudah mengorbankan untuk gadis itu banyak hal seperti waktu, tenaga, materi, dan mungkin bahkan harga diri. Tetapi ketika pada akhirnya dia menumpahkan semua perasaannya kepada Luli, dan meminta gadis itu menjadi pacarnya, dia tidak pernah mendapatkan jawaban yang spesifik dari gadis itu sampai sekarang. 

Teman saya itu mengungkapkan perasaannya pada malam ketika dia mengantarkan cokelat ke rumah Luli, dan digunakannya kesempatan itu untuk mengutarakan kalimat tanya yang sangat sulit untuk bisa dijawab oleh gadis itu.

"Kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya teman saya. 

Konon, Luli langsung terdiam, tidak bisa menjawab. Mulutnya barangkali seperti tidak bisa dibuka. Atau seolah-olah, barangkali air ludahnya mendadak berubah menjadi lem atau mungkin ada makhluk gaib yang menjahit mulutnya.

Dia sudah tahu sejak awal kalau teman saya itu menyukainya. Tetapi ada satu hal yang dia tidak tahu, yaitu bahwa teman saya menyukainya hanya karena teman saya ingin Luli menyukainya juga.

Itu adalah apa yang oleh Osho sebut pada bab tiga di dalam bukunya The Path of Meditation dengan kalimat seperti ini:

Bahwa orang lain mencintai kita hanya karena orang itu ingin kita mencintainya. Itu persis seperti orang itu melempar umpan ke ikan. Dan dia melakukannya bukan untuk memberi ikan itu makan, tetapi untuk menangkap si ikan.

Osho adalah seorang yang bergelar PhD di bidang filsafat, seorang guru spiritual dari India, yang kemudian dianggap oleh dunia sebagai orang yang tercerahkan, yang menyatakan dalam buku tadi bahwa semua orang yang kita lihat mencintai di sekeliling kita hanya membuang umpan untuk mendapatkan cinta.

Dan teman saya melakukan ini pada Luli dengan memberinya berbagai macam hadiah, membawakan tahu aci sepuluh bungkus ke rumahnya, dan sebagainya.

Anda mungkin melakukan itu juga ke gebetan Anda. Dan sebetulnya itu adalah hal yang lazim saja kita lakukan kepada orang yang kita inginkan jadi pacar.

Tidak ada yang salah dengan hal-hal itu. Tetapi teman saya melakukannya karena dia menginginkan cinta dari Luli. Teman saya sangat membutuhkan cinta dari Luli. Dan dia bilang ke saya—dan juga Luli—bahwa dia mencintai Luli.

Tetapi "mencintai dan membutuhkan cinta adalah dua hal yang sangat berbeda," kata Osho. "Sebagian besar dari kita tetap seperti anak-anak sepanjang hidup kita karena semua orang mencari cinta. 

Baca Juga: Tentang Rumi

Mencintai adalah hal yang sangat misterius; membutuhkan cinta adalah hal yang sangat kekanak-kanakan. Anak kecil menginginkan cinta; ketika ibu memberi mereka cinta, mereka tumbuh. Mereka menginginkan cinta dari orang lain juga.

Kemudian ketika mereka tumbuh dewasa, jika mereka adalah suami mereka menginginkan cinta dari istri mereka, jika mereka adalah istri mereka menginginkan cinta dari suami mereka."

Dan menurut Osho, siapa pun yang menginginkan cinta akan sengsara, karena cinta tidak pernah bisa diminta. "Cinta hanya bisa diberikan," katanya. Dan dalam menginginkan, tidak ada jaminan bahwa kita akan menerimanya.

Osho memberitahu kita satu-satunya cara untuk membuatnya lebih baik adalah dengan menyadari bahwa cinta memang hanya bisa diberikan dan tidak pernah bisa diminta.

Kemudian apa saja yang kita terima adalah sebuah berkah, katanya. Itu bukan hadiah untuk mencintai. Cinta harus diberikan dan apa saja yang kita terima—sekali lagi—adalah berkah. Dan bahkan jika kita tidak mendapatkan apa-apa dari itu, kita selalu merasa gembira bahwa kita bisa memberi.

Dan, dua minggu kemudian, sesudah teman saya malam itu meminta Luli menjadi pacarnya, yang teman saya dapatkan adalah sakit hati, karena Luli malah pacaran dengan orang lain, dan teman saya tetap tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Luli.

Dan sakit hati adalah juga sebuah berkah. Setidaknya dengan itu kau bisa menulis puisi, kata Pidi Baiq.

Tetapi teman saya tidak menulis puisi, apalagi menulis novel. 

Namun dia menyadari sesuatu, dan menuliskan sesuatu itu di media sosial Facebook dengan kalimat seperti ini: Jangan terlalu baik sama orang, karena orang yang terlalu baik akan cenderung dimanfaatkan.

Dia menyatakan itu atas dasar pengalamannya sendiri. Dan selama ini, dia terlalu baik ke orang-orang, terutama kepada wanita-wanita yang dia inginkan jadi pacar. Dan anehnya, tidak ada satu pun di antara mereka yang mau menjadi pacarnya, meskipun dia sudah mengorbankan cukup banyak hal kepada mereka. 

Dia yang selalu mengeluarkan uang setiap dia pergi dengan masing-masing mereka; memberikan mereka hadiah-hadiah; mewujudkan apa pun keinginan mereka yang mereka ungkapkan padanya.

Kemudian dia merasa bahwa mereka, termasuk Luli, hanya memanfaatkannya saja.

Dan selama ini dia seperti orang yang meminta-minta cinta dari wanita-wanita yang dia sukai, tetapi tidak mendapatkannya.

Osho bilang, jika kita memberi cinta alih-alih memintanya, hidup bisa menjadi surga bagi kita. Dan dunia ini begitu misterius sehingga jika kita lebih mencintai dan mandek memintanya, kita akan mendapatkan lebih banyak cinta dan mengalami misteri ini.

Artikel Terkait