Panitia Workshop
1 tahun lalu · 452 view · 2 menit baca · Info 75919.jpg
Okky Madasari

Membunyikan Ide lewat Tulisan

Baik penulis esai maupun fiksi, meski berbeda dalam hal penyajian, keduanya tetap menanggung kewajiban besar sebagai penyampai risalah, pembawa pesan-pesan bagi kepentingan masyarakat sekitarnya.

Okky Madasari, novelis yang mendapatkan Penghargaan Sastra Khatulistiwa (2012) untuk karyanya berjudul Maryam, menyampaikan itu dalam sesi Kelas Menulis Qureta, Bogor (22/7/2017). Dengan mengangkat tema Intoleransi dan Agama dalam Esai dan Fiksi, Okky berupaya menegaskan bahwa tiap tulisan, baik esai maupun fiksi, harus sama-sama bersuara sebagai tujuan dituliskannya ide tersebut.

“Tiap-tiap tulisan harus berguna. Ia berguna jika punya suara,” tegasnya.

Pertanyaannya, bagaimana sebuah tulisan bisa bersuara, berbunyi?

Menurut Okky, sebuah tulisan setidaknya, dan memang harus, memiliki beberapa hal agar dapat bersuara. Apa saja? Di antaranya adalah kebaruan, sikap, kritik, dan kesadaran baru. Semua inilah yang bagi Okky adalah unsur yang tidak boleh tidak untuk menghilang di setiap tulisan, apapun bentuk tulisan itu.

Yang pertama, soal kebaruan. Pada prinsipnya, kata Okky, menulis adalah menyampaikan gagasan. Kita menulis untuk menyampaikan cerita, argumetasi, juga ide. Tetapi, karena segala sesuatu itu (hampir) tidak ada yang sifatnya baru, semua sudah pernah diungkapkan dalam bentuk tulisan, maka tantangannya kini adalah bagaimana kita (sebagai penulis) mampu melihat dan merangkumnya dari perspektif yang berbeda.

“Di sinilah seorang penulis kadang menghentikan proyek tulisannya. Lancar di awal, tapi di tengah tersendat hanya karena tidak tahu bagaimana melihat dari perspektif yang berbeda. Ia gagal melihat sisi lain di luar dari apa yang dilihatnya saat pertama kali (sebagai pemantik awal),” terang Okky.

Jadi, tambahnya, cobalah untuk kita melihat dari sisi yang berbeda. Ubah perspektif, maka akan menghasilkan tulisan relevan, tulisan yang tidak mengulang-ulang apa yang sudah disampaikan penulis lainnya. Sisi inilah yang akan memberi kelayakan pada sebuah tulisan.

“Relevansi dan kebaruan merupakan elemen utama dalam tulisan. Kaitannya berada pada penting atau tidaknya tulisan Anda, bisa menjawab kondisi masyarakat hari ini atau tidak.".

Dengan demikian, sebab tak ada sesuatu yang baru kecuali perspektif, maka yang harus ditonjolkan adalah ciri khas masing-masing penulis.

“Tiap penulis punya ciri khas masing-masing. Kita harus menonjolkan di setiap tulisan. Kita harus berani untuk tidak mengekor pada orang lain,” tegasnya.

Dalam hal sikap, menurut Okky, ini juga kaitannya dengan keberanian. Kalau kita berani menunjukkan sesuatu, misalnya, tetapi tidak punya sikap untuk menunjukkannya, maka tulisan kita akan hambar. Begitu pun sebaliknya: ada sikap tapi tak punya keberanian, untuk apa?

“Antara sikap dan keberanian, dua-duanya harus dimiliki oleh siapa pun yang mau menulis. Tulisan harus punya sikap dan keberanian agar bersuara,” tekannya.

Selanjutnya, seseorang menulis karena ada sesuatu yang membuatnya resah, mengundang rasa tanya, membuatnya marah dan kecewa, melihat ada sesuatu yang tidak benar. Kita tahu bahwa ada sesuatu yang bisa dan harus diubah, di sinilah tulisan kita berguna: memberi kritik, menawarkan perspektif.

“Kekuatan sebuah esai, kolom, bertumpu pada kritik. Menyampaikan apa yang jadi masalah; ini loh yang bisa diubah. Inilah model tulisan yang bisa memberi dampak langsung bagi masyarakat.”

Dan yang terakhir adalah kesadaran baru. Ya, setiap tulisan, baik esai maupun fiksi, harus mampu menggugah kesadaran baru para pembacanya. Dengan kekuatan pada tulisan ini, perubahan akan sangat dimungkinkan bisa terjadi.

Di esai (opini atau kolom), perubahan itu bisa terjadi secara cepat dan langsung, misalnya dalam hal mempengaruhi kebijakan publik. Bedanya dengan fiksi, perubahan itu bekerja dengan pelan, tapi lebih punya dampak jangka panjang untuk ke depan.

“Fiksi bisa mengubah keadaan dalam jangka panjang, tapi tidak secara langsung. Mengubah perspektif pembacanya, mengubah kesadaran, dan para pembacanya nanti yang akan melakukan perubahan,” terang Okky.

Hematnya, fiksi bekerja untuk membentuk kesadaran baru, membentuk sudut pandang baru pada pembaca. Ia (fiksi) bekerja secara substansial.