Mahasiswa
1 bulan lalu · 303 view · 3 menit baca · Puisi 23190_65799.jpg

Membunuh Waktu

Tak ada siapa-siapa...
Yang ada hanya hitam dan pekat
Halimun menari di udara
Tak ada hangat memeluk raga
hanya dingin yang menikam rasa

Tak ada suara-suara binatang malam
hanya jiwa yang meronta-ronta dalam hening
yang ramai hanya kenangan yang memburai
Kemudian membias pada dinding-dinding kamar

Bosan aku menyusun langkah untuk meraihmu
Yang aku bisa hanya menyusun kemudian pupus
kau yang mustahil kugapai dalam genggaman
selalu nyata kala dikenang

Tentang senyum manismu yang abadi pada langit-langi kamar
Tentang suara tawamu yang terus menggema di telinga
tapi aku hanya sibuk menyusun diksi
Hingga Ada banyak perumpamaan di benakku

Tapi lagi dan lagi...
tak ada harapan untuk menggenggam tanganmu
Sebab aku telah kalah sebelum melangkah
Di depanku hanya ada dinding-dinding kelam

Kemudian di balik dinding itu ada kau dan tawamu
sudah parasit dalam ruang kosong di kepalaku
Dari situ aku akan terus menyusun andai untuk meraihmu
Meski celahnya tak pernah ada.


Pupus

Ada yang ingin mengadu pada gelap
Mengais harapan di antara ketidakmampuan
Daya hanya ada sebatas harapan
Meramu detik demi detik menjadi puisi
Di antara celoteh langit-langit kamar
Dia pun abadi disandera aura yang tahta.


Budak Aura 

Aku menyukai kata
Bermain dengan sastra
Berimajinasi untuk diksi
Kau adalah tugas-tugasku
Yang lahir dari auramu
Menuntut kata untuk berbaris
Sedang aku hanya seorang komando kata
Untukmu, pujaan hati.


Cantik Amnesia

“bidadari tak tau diri”
Seorang hawa yang rasanya sekeras batu
Menjelma pagar intan yang megah
Di antara wajah yang tahta
Tatapan biasa mencairkan rasa
Ekor mata isyarat kelopak mawar
Lekuk indah bibir manis
Kau belenggu senja
Dalam sekat setiap rupamu
Tanpa pamrih kau sandera harapan
Hilang semua logika
Yang ada hanya khayalan
Menjemput kau di kahyangan
Bidadari Amnesia.


Selamanya

Kalau boleh aku meminta
Ini tidak sulit untuk diwujutkan
Aku hanya ingin memandangi wajahmu
dari jarak yang begitu dekat
Walau hanya semenit saja
Dengan syarat semua jam dimatikan
Agar bisa selamanya.


"Kekeh"

Seribu kali kau berlari
Seribu satu kali aku mengejar
Tidak dengan arah yang sudah-sudah
Tidak dengan cara yang membuatmu lelah
Tapi dengan cara yang berbedah
Aku sendiri yang akan pergi...
Menjauh, lalu berputar
kemudian datang mendekat dari belakangmu
Memanggil namamu dan berkata
Aku takkan lelah, sedikit pun.


Sang Daun

tentang peristiwa kecil
pada kolong langit yang tenang
Entah pahit atau pun juga puitis
Dipisahnya si daun dari ranting
Usai perjalanan vertikal itu
Si daun tegadah ke atas
Sembari menatap kawan-kawannya
“Kapan kau susul aku”.


Desaku (Kenang-Kenangan)

Nanar langit ciptakan cek cok dalam dada
Jalani masa dewasa dengan penuh tanya,
Mengapa aku harus tumbuh?
Lantas pergi menjauh
Iming-iming masa depan cerah
Siapa yang tahu nantinya?!
Alamat penuh susastra rindu
Tersebar merana sang aku di jajah jarak
Membikin aku melankolis

Pada tanah tempat jejak-jejak kaki mungilku
Aku rindu mengukir jejak kaki yang baru di sana
Pada logika yang sarat alasan
izinkan aku menanak rindu hingga didihnya
Sampai Kepada jarak-jarak terdekat aku dengan rumah
Ibu aku rindu, ayah juga, adik apalagi
dan semua yang mengajari aku Senyum
Hingga Tertawa lepas, dulu di sana.


Terkesima

Tentang decak kagum yang kau sulap menjadi ada
Bukan hasil logika semata
Aku amati dengan sempurnah
 Di saat kau tepat di depan mata
Kau tak menyadari satu hal
Aku diam-diam tahu tentangmu
Kau seharusnya tak berpijak di sini
Tempatmu di kahyangan
Terima kasih ku pada wujud
melukiskan lekuk indah bibir manismu
Terimakasihku pada durasi waktu
Memberikan sedikit cerita tentangmu
Ini rahasiaku sendiri
Bukan untuk aku katakan ke siapa-siapa
Tapi untuk aku simpan lama-lama
Nanti aku beritahu, pada waktunya.


the End

Kita mungkin tak sejalan lagi
Tapi jejak kaki kita masi membekas
Selaras dengan pagar tuah berlumut itu
tapi itu masa lampau, tinggal dikenang.
Kau punya dunia baru, aku juga.
Bahagia dan susah pernah kita coba
Tapi kini kita adalah dua orang asing
Aku kira kau tak lagi mengenalku

Tiba-tiba aku berfikir ini bukan dirimu
Sandiwara Ini tugas kuliahmu bukan?
Kita bersahabat, aku akan membantumu
peranku sebagai orang tak mengenalmu,
selamanya...


Ajaib

Kebetulan ada kamu di fikiranku
Rasanya aku ingin berlarih
sejauh mungkin, Sampai aku sadar
itu tak membuatku lelah
dan tahu ajaibnya kamu
walau hanya di fikiran saja.


Peringatan! Siraman Rohani oleh Alam Terkutuk untuk Mahasiswa Semester Atas

Hei! Jangan kau pandang wajah senior itu!, ia sedang menikmati revisi proposalnya yg ke lima!!. kau tahu? Awan pun lari saat ditatap olehnya, dan seketika jagat rayamu akan terhenti saat berpapasan dengannya, Lihaat ! akar-akar tanaman pun lari menyusup kedalam tanah. Kau tahu apa penyebabnya? Iya... Tidak salah lagi!! Senior semester atas itu sedang berjalan di dekatnya. 

Air hujan pun turun menolong akar-akar malang itu. Saksikan saja dengan teliti bagaimana rinai hujan membujuknya lalu diam-diam meresap menggerogoti setiap celah kain yang melekat pada tubuhnya, kemudian membasahi tubuh kering senior itu. hujan ini bukan fenomena biasa bagi senior itu.

ia  pun tersadar sesaat, inikah rasanya mandi?

Artikel Terkait