Haji Syiah, sebuah kumpulan cerpen Ben Sohib, membuat saya tersinggung. Lima kali, pada akhir cerita, saya tercengang dengan titik balik kisahnya. Saya tidak bisa menerka bagaimana Ben akan menutupnya dan tidak bisa berhenti membaca. Sarkasmenya sangat memikat. Saya bahkan mencatat ungkapan dan frasanya dengan niat mencurinya untuk memesona orang lain. 

Rasa tersinggung muncul pada saat saya buka terjemahan kumpulan cerpen itu. Begitu baca beberapa kalimat pertama Haji Syiah dalam bahasa Inggris, saya ingin cuci otak dengan cuka supaya langsung melupakannya. Kegembiraan membaca buku yang bagus hilang seketika.

Kok dalam bahasa asing sebuah karya sastra bisa menjadi begitu tawar? Ia datar seperti dunia beberapa abad yang lalu. Meski isiniya tetap sama, daya tariknya sirna.

Sifat unggul terjemahan buruk adalah kesetiaannya pada kisah dan tuturan. Dia menularkan arti, informasi, hanya informasi, seolah karya sastra adalah laporan, surat kabar, atau buku panduan. Ia seperti reproduksi hitam putih dari sebuah lukisan berwarna — walau artinya sama, ia tidak benar.

Saya tidak percaya akan adanya hal-hal yang tidak bisa diterjemahkan atau yang harus dan selalu bakal "hilang dalam terjemahan" karena satu bahasa tidak cocok dengan bahasa lain.

Hampir seratus tahun lalu Walter Benjamin menulis esai "The Task of the Translator", di mana dia merumuskan bahwa tugas seorang penerjemah adalah menemukan niat sebuah karya dan mengungkapkannya melalui bahasa lain. Niat karya asli harus tetap bergema dalam bahasa terjemahan.  

Pantulan suara penulis jarang sekali ditemukan di terjemahan sastra Indonesia. Dalam bahasa Inggris saya pertama kali membaca Cerita dari Jakarta Pramoedya Ananta Toer. Setelah buku itu saya tidak tertarik untuk membaca karya lainnya. 

Baru beberapa tahun kemudian saya membaca kembali Cerita dalam versi aslinya. Saya kecewa sekali. Saya merasa tertipu oleh para penerjemah. Mereka mengabaikan rasa, irama, dan segalanya yang membuat karya itu karya Pramoedya. 

Pram bermain dengan kata. Satu morfem bisa dia pakai sebagai kata benda, tapi, di kalimat selanjutnya, morfem itu diulangi dengan awalan atau akhiran yang mengubah maknanya. Inilah ajakan yang seharusnya paling menarik bagi seorang penerjemah — teka-teki yang menunjukkan kepadanya cara menyampaikan gaya dan maksud karya asli. Mengapa penerjemah Cerita dari Jakarta tidak mau ikut suara penulis? Karena kosakata Inggris tidak memungkinkannya? 

Inti penerjemahan bukanlah dalam cara memasukkan sintaksis dan kosakata suatu bahasa dalam bahasa lain. Saya kira kita akan selalu gagal atau setidaknya kaku dalam usaha itu.

Bahasa boleh diperluas. George Orwell, misalnya, sangat doyan "verbing" — "mengatakerjakan", menjadikan kata kerja dari kata benda. Penerjemah Pramoedya bisa saja menggunakan mekanisme itu, asalkan dia berani dan berimajinasi untuk melampaui batasan bahasa. 

Yang cukup mengherankan adalah bahwa sebagian besar penerjemah sastra Indonesia bukan ahli sastra. Mereka itu para akademisi, antropolog, lulusan hubungan internasional atau pakar studi Asia dalam arti seluas-luasnya. Memang, mereka biasanya native speakers, tapi hal ini, maaf, sama sekali tidak menjamin mereka memahami dan, setidaknya, menggemari sastra.

Saya tidak paham mengapa karya sastra Indonesia biasanya diterjemahkan ke bahasa asing, terutama Inggris, oleh orang yang buta-sastra. Apakah syarat utama adalah bahasa ibu mereka harus bahasa Inggris? Kebijakan ini tidak terlalu meyakinkan, apalagi ketika kita melihat hasilnya. 

Di Indonesia ada lulusan sastra Inggris dari universitas-universitas terkemuka di Australia, Amerika, atau Inggris sendiri. Apa susah atau salahnya meminta mereka membantu upaya membuka dunia sastra tanah air untuk pembaca asing? Karena mereka bukan native speakers? Memang, mereka bukan; mereka jauh lebih fasih berbahasa Inggris dibanding para natives. Diksi mereka ratusan kali lebih canggih, dan mereka mengerti dan mencintai sastra.

Walter Benjamin percaya bahwa seorang penerjemah harus bersikap mesra kepada karya asli supaya mampu membuatnya hidup dalam bahasa lain. Dia melihat terjemahan sebagai pengembangan lanjut atas karya asli yang memungkinkannya untuk terus ada, meski dalam konteks yang berbeda. 

Apa gunanya terjemahan yang tidak bisa atau tidak bermaksud mencapai tujuan itu? Penerjemahan mestinya kelanjutan kehidupan sebuah karya, bukan cara membunuhnya.