Maqasid al-syariah merupakan sebuah produk ulama yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tujuan tertentu yang berhubungan dengan manusia beserta tuhannya. Dengan adanya Maqasid al-syariah diharapkan dapat memudahkan seseorang dalam melakukan ijtihad dalam melakukan penggalian hukum.

Mahmud Shaltut dalam karyanya yang berjudul Al-islam ‘Aqidah wa Shari’ah’ membagi konsep islam menjadi dua dimensi, pertama adalah dimensi aqidah dan yang kedua adalah syari’at atau al-amal, maqasid al-syariah merupakan produk yang mencakup dari kedua konteks tersebut.

Eksistensi maqasid al-syariah pertama kali digagas oleh Al-juwaini, yang mana ia membagi maqasid al-syariah menjadi tiga bagian yang kompleks, pertama adalah Dhoruriyah/primer kemudian Hajjiyah/Sekunder dan yang terakhir adalah Tahsiniyah/tersier. Tiga hal tersebut membuat kegiatan seorang muslim menjadi lebih terstruktur dan sistematis.

Kemudian setelah konsep sederhana digagas oleh Al-juwaini, Abu Hamid Al-ghazali kemudian menyempurnakan konsep maqasid al-syariah sebagai konsep yang matang dan lebih inovatif.

Al-ghazali merumuskan konsep Al-kulliyat al-khams (lima pokok utama bagi seorang muslim), konsep tersebut diantaranya, pertama adalah menjaga agama/aqidah, kedua menjaga jiwa, ketiga menjaga akal, ke empat menjaga keturunan dan terakhir menjaga harta.

Dalam konsep yang sedemikian terstruktur itu, seorang muslim sudah diwajibkan untuk menjaga kelimanya, akan tetapi jika salah satu hal terdesak untuk dilepaskan, maka seorang muslim secara terpaksa harus melepas poin dari Al-kulliyat al-khams itu.

Semisal, seorang muslim mendapat kekerasan oleh oknum tertentu untuk murtad dari agamanya atau memilih mati. Dalam konsep yang digagas oleh Al-Ghazali maka ia harus memilih mati demi agamanya. Karena bagaimanapun menurut uraian yang sudah dijelaskan diatas, agama dan aqidah memiliki porsi yang sangat tinggi ketimbang empat poin lainnya.

Demikian pula terkait larangan mabuk karena khawatir merusak akal, berzina karena khawatir merusak keturunan dan contoh contoh lainnya yang acapkali terjadi pada dinamika kehidupan nyata. Oleh karena itu, maka penting bagi seorang muslim untuk mengetahui dan menjaga dirinya sesuai dengan konsep tersebut.

Kisah Siti Masyitoh

Berbicara mengenai Al-kulliyat al-khams, saya jadi teringat kisah Siti Masyitoh tukang sisir firaun yang rela mati syahid demi beriman kepada sang pencipta alam raya. Kisah itu menjadi lagenda bagi sebagian orang sebagai orang yang kuat iman dan menjadi sosok suri tauladan.

Dalam kitab Dardir Bainama Qishotul Mi’raj karya Syaikh Imam Najmuddin Al Ghoity itu dijelaskan bahwa tatkala Siti Masyitoh menyisir rambut anak Fir’aun, secara tak sengaja sisir itu terjatuh, kemudian spontan ia mengucapkan bismillahirahmanirrahim, celakalah Fir’aun. Singkat cerita anak Fir’aun mengadu kepada Fir’aun, kemudian siti masyitoh disuruh menghadap kepada raja Fir’aun.

Setelah melalui interogasi singkat, maka Fir’aun memutuskan untuk membunuh Siti Masyitoh beserta anak anaknya ke dalam penggorengan besar yang terbuat dari tembaga. Tentu hal itu menjadi kejadian mengerikan jika terjadi pada manusia biasa.

Akan tetapi berbeda dengan Siti Masyitoh, ia berani mengambil keputusan yang ada diluar nalar, ia bahkan tidak gentar untuk dihukum sedemikian menyakitkan. Imannya sudah sekeras baja, hatinya hanya untuk allah semata. Pada akhirnya, ia pun wafat dalam keadaan syahid beserta bayinya.

Setelah sekian abad dari kejadian itu, Nabi Muhammad bersama malaikat jibril dalam Isra’ mi’raj-nya bertemu dengan makam Siti Masyitoh yang semerbak harumnya, dari kejadian itulah kemudian nama Siti Masyitoh kembali mencuat sampai saat ini.

Interkoneksitas Mashlahah

Begitulah kurang lebih cerita yang ada, namun disini penulis bukan ingin mendongeng, ada intisari yang mungkin bisa ditelaah lebih lanjut mengenai sebuah peristiwa luar biasa itu. Khususnya tekait konsep Al-kulliyat al khams. Ada relevansi antara kisah tersebut dengan konsep kerangka Al-ghazali.

Akan tetapi penulis merasakan kejanggalan, sehingga ada pertanyaan menarik terkait kisah tadi. Mengapa Siti Masyitoh rela memilih mati syahid ketimbang dibiarkan hidup?. Ini menjadi pembahasan yang menarik sebab adanya pengorbanan yang begitu besar terhadap agama.

Memang jika kita kembali ke konsep awal bahwa agama berada pada porsi tertinggi daripada segalanya, bahkan melebihi jiwa. Tak bisa dipungkiri memang apa yang dilakukan SIti Masyitoh telah sesuai dengan konsep Al Ghazali yang terpaut berabad abad lebih muda ketimbang SIti Masyitoh.

Akan tetapi, menurut analisis penulis pribadi, bukankah lebih baik Siti Masyitoh tidak memilih untuk dihukum mati?. Sehingga dia dapat mengajarkan ajaran tauhid menjadi lebih spesifik dan lebih luas. Alhasil ajaran tauhid pun dapat dikenal luas oleh semua kalangan. Bahkan mungkin orang orang yahudi dapat menerima ajaran Al-qur’an dengan mudah.

Mengingat bahwa Interkoneksitas antara diri sendiri dengan masyarakat sosial sangat penting untuk mencapai mashlahah (perdamaian). Siti Masyitoh merupakan pribadi manusia yang memiliki derajat keimanan tingkat tinggi mungkin bisa menyebarkan ajaran tauhid kepada masyarakat pada zamannya.

 Karena jika ia tidak turut andil seperti masa sahabat dalam menyeru orang untuk beriman, secara tidak langsung ia telah membunuh agamanya sendiri karena telah membiarkan orang orang tetap di jalan kebathilan, wallahu’alam.