Dewasa ini, ujaran-ujaran kebencian jamak kita temui dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Bumi Nusantara, Indonesia. Ketika kita berselancar di media sosial dan internet, isu-isu SARA seolah menjadi santapan informasi kita sehari-hari.

Oknum-oknum tak bertanggung jawab acap kali menyebarkan informasi-informasi yang menimbulkan keresahan dan perselisihan dalam masyarakat. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang sangat tidak terpuji.

Ujaran kebencian yang jamak kita jumpai adalah perihal perbedaan agama dan keyakinan. Ironi.

Agama pada hakikatnya merupakan bagian dari privasi dan melekat sebagai asasi setiap warga negara. Namun, oknum-oknum tak bertanggung jawab menggunakan keberagaman agama yang ada di Indonesia sebagai pisau tajam untuk memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Menurunnya Sikap Toleransi Antar-Umat Beragama

Ujaran-ujaran kebencian berbau SARA khususnya mengatasnamakan perbedaan agama merupakan bukti menurunnya sikap toleransi antar-umat beragama di Indonesia.

Apakah penyebab menurunnya sikap toleransi ini? Penulis berpandangan bahwasanya ada 4 alasan yang menyebabkan menurunnya sikap toleransi antar-umat beragama dalam masyarakat.

Pertama, masyarakat kurang mendapat informasi dan pengetahuan tentang sejarah Indonesia. Kedua, berkembangnya teknologi informasi dan adanya revolusi industri 4.0 memungkinkan masyarakat untuk mengakses segala informasi dari berbagai daerah dan negara hanya dengan genggaman tangan. 

Hal ini acap kali digunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk menyebarkan ujaran-ujaran kebencian tentang agama yang merusak persatuan bangsa Indonesia. Sangat penting bagi pihak lembaga sensor untuk turut serta menyaring seluruh konten-konten yang tersebar di berbagai media sosial dan internet supaya tidak menjadi bahan untuk merusak persatuan bangsa.

Ketiga, kurangnya kualitas pendidikan dalam masyarakat secara luas yang mengakibatkan masyarakat kurang cerdas dan kritis ketika mendapat informasi-informasi mengenai ujaran kebencian tentang agama dan penyebaran-penyebaran hoax negatif tentang agama. Kekurang-kritisan dan mudahnya masyarakat untuk terprovokasi ini yang sering disebut psikologi massa, padahal sebenarnya tidak demikian apabila masyarakat kritis dalam menangkap setiap informasi dan peristiwa.

Keempat, kurang adanya upaya untuk membumikan persatuan dan kesatuan dalam keberagaman dalam bentuk gerakan-gerakan yang sekian lama menjadi alasan mudahnya ujaran kebencian masuk dalam benak masyarakat.

Agama-agama di Indonesia

Negara Indonesia memiliki beragam agama dan kepercayaan, mulai dari Hindu, Buddha, Khong Hu Cu, Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan berbagai aliran kepercayaan.

Menurut W. Schmidt, sejak dahulu kala agama tidak pernah disebutkan secara gamblang. Namun paham ketuhanan sudah ada sejak purbakala dengan berbagai sebutan yang berbeda dari setiap daerah seperti halnya Ompu Tuan Mulajadi Na Bolo atau Debata (Sumatra), Sang Hyang (Jawa), Sang Hyang Widhi Wasa atau Puang Matna (Bali), dan To Kantanan (Sulawesi).

Kepercayaan-kepercayaan kepada Tuhan inilah yang kini berkembang menjadi aliran kepercayaan. Seiring berjalannya waktu dengan datangnya pengajaran agama-agama, nilai dan hakikat ketuhanan semakin diperdalam dan semakin luhur.

Agama dalam Kaca Mata Ketuhanan Yang Maha Esa

Perkataan Ketuhanan Yang Maha Esa baru terwujud nyatakan atas usulan dari Ki Bagus Hadikusumo hal ini terjadi pada saat sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Ketuhanan Yang Maha Esa pada akhirnya dimaknai sebagai landasan filosofis bangsa Indonesia. Sebab adanya negara Indonesia atas kehendak Tuhan.

Ketuhanan Yang Maha Esa juga merupakan harta terpendam yang telah lama tertanam dalam-dalam sejak purbakala. Hal ini membuktikan bahwasanya negara Indonesia terbentuk tak lepas dari pertolongan yang Ilahi, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Agama yang berkembang setelahnya menjadi kunci penting bagi umat beriman. Agama dapat membantu masyarakat untuk memaknai Tuhan semakin lebih mendalam dan lebih jelas dengan pelbagai pengajarannya.

Ketuhanan Yang Maha Esa yang tercantum dalam butir-butir Pancasila sila pertama menunjukkan bahwasanya, ketuhanan dalam negara Indonesia bukan semata milik salah satu agama, namun semua agama dan kepercayaan di Indonesia.

Sila pertama ini juga membuktikan bahwa dalam nama Tuhan, Indonesia dapat tetap bersatu meskipun dengan pelbagai perbedaan agama dan pengajaran tentang Tuhan. Sila pertama juga menunjukkan bahwa, sekalipun negara Indonesia tidak memilih agama sebagai landasan negara, negara Indonesia tetap mengakui ketuhanan sebagai prinsip moral yang menghubungkan manusia dengan Penciptanya.

Dapat dikatakan sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa sangat erat kaitannya dengan agama dan tidak menimbulkan perpecahan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Lalu bagaimana bisa ada ujaran-ujaran kebencian dan adanya perpecahan dalam masyarakat yang mengatasnamakan agama?

Pentingnya Toleransi Beragama

Toleransi merupakan sikap dan tindakan saling menghargai dan menghormati perbedaan dalam masyarakat baik dalam hal suku, agama, ras, dan antargolongan. Sikap ini menjadi bagian yang sangat penting bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki banyak perbedaan dalam pelbagai bidang kehidupan.

Toleransi hendaknya senantiasa dijaga oleh semua rakyat Indonesia. Sikap toleransi dalam hal perbedaan agama selalu dibumikan sebab sangat rawan untuk mengalami perpecahan dan perselisihan.

Dalam pasal 29 UUD 1945 menjelaskan, “negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Undang-undang tersebut sangat menekankan betapa pentingnya menghargai kebebasan setiap umat untuk beribadah dan memeluk agamanya. Sasaran utama dari pembangunan kehidupan beragama adalah pembinaan kerukunan hidup beragama di kalangan bangsa indonesia.

Penanaman Sikap Toleransi Beragama

Melihat realitas yang tengah terjadi dalam masyarakat, betapa pentingnya sikap konkret untuk menanamkan tindakan dan sikap toleransi antar-umat beragama. 

Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan bersama dalam upaya membangun sikap toleransi beragama. Pertama ialah mengadakan seminar Pancasila bagi masyarakat. Seminar ini diadakan bukan hanya untuk para pejabat pemerintahan dan golongan-golongan elite semata, melainkan untuk semua kalangan baik itu masyarakat pedesaan, para pelajar dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia.

Kedua, mengadakan silaturahmi atau anjangsana antar pemuka agama. Ketiga, melakukan dialog antar agama. Dialog ini hendaknya bukan hanya dilakukan oleh antar pemuka agama, melainkan pula segenap masyarakat secara luas dan terlebih para pemuda yang masih dalam masa pencarian jati diri.

Para pemuda sangat rawan untuk dimasuki ideologi-ideologi. Para pemuda juga memiliki idealisme yang sangat tinggi. Hal ini acap kali dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk bersikap intoleransi terhadap perbedaan. Keempat, mengadakan kegiatan-kegiatan yang mempertemukan antar umat beragama, seperti halnya kemah dan rekreasi bersama dalam rangka menjalin keakraban antar agama bagi kaum muda.

Toleransi beragama sangat penting bagi bangsa Indonesia. Perbedaan dan keanekaragaman yang ada di Indonesia acap kali mengancam persatuan apabila tiada sikap toleransi dan saling menghargai satu sama lain. Maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia, mari kita bersama membangun sikap toleransi supaya bangsa Indonesia semakin bersatu dan lestari.