Kemunculan paham dan gerakan radikal di berbagai belahan dunia tentu disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan kata lain, ia tidaklah muncul dari ruang hampa. 

Nur Syam, guru besar sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, menulis bahwa gerakan radikalisme sering kali dipicu oleh tekanan politik penguasa ataupun sikap otoritarianisme yang dipraktekkan negara. Di Indonesia misalnya, kekuasaan Orde Baru yang otoriter menyumbang munculnya gerakan-gerakan radikal, baik yang bernuansa agama maupun gerakan-gerakan radikal lainnya.

Gerakan radikal yang berjubah agama ini seolah mendapat momentum dan ruang ketika reformasi bergulir. Rezim reformasi yang mengedepankan demokratisasi dan perlindungan hak-hak asasi manusia dimanfaatkan kelompok ini untuk mengaktualisasikan diri dengan menyebarkan paham dan keyakinannya di tengah-tengah masyarakat.

Jika melihat fakta sejarah, radikalisme atau fundamentalisme agama sejatinya terjadi di hampir seluruh agama-agama di dunia. Oleh karenanya, mengidentikkan radikalisme agama hanya pada agama tertentu saja, semisal Islam, juga bukan sesuatu yang tepat. 

Hanya saja, dalam konteks Indonesia, kekerasan-kekerasan atas nama agama paling sering dilakukan dengan membawa simbol-simbol Islam. Padahal, kita semua tahu bahwa Islam sejatinya tidak pernah mengajarkan kekerasan yang menginjak-injak prinsip kemanusiaan.

Selain itu, berbagai wacana yang terus digaungkan kelompok radikal ini -seperti mempertentangkan agama dan negara, upaya mendirikan sistem pemerintahan ala khilafah, pengharaman demokrasi dan bahkan pancasila- sangat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Bersikap Inklusif dalam Beragama

Terminologi inklusivisme sejatinya telah banyak digunakan oleh para sarjana untuk menjelaskan sikap keberagamaan dalam suatu kelompok agama tertentu. Ngainun Naim dalam Teologi Kerukunan, Mencari Titik Temu dalam Keragaman (2011) memberikan penjelasan mengenai inklusivisme agama sebagai suatu sikap keagamaan yang mengakui kebenaran terdapat dalam agama  sendiri, namun memberi kesempatan atau jalan bagi mereka yang berlainan keyakinan untuk   mengakui bahwa agama mereka juga benar. 

Dalam pengertian umum, inklusif merupakan sikap berpikir terbuka dan menghargai perbedaan, baik dalam bentuk pemikiran, etnis, budaya ataupun perbedaan agama (Ainul Yaqin, 2005).

Dalam pemikiran Islam, sebagaimana dikemukakan Budhy Munawar-Rahman (Reorientasi Pemikiran Islam, 2010) bahwa paham inklusivisme memahami Islam bukan sebagai organized religion (agama terlembaga), melainkan dalam arti ruhani. Islam berarti sikap pasrah sepenuhnya kepada Tuhan (Allah). 

Semua ajaran Nabi terdahulu, lanjut Rahman, sesungguhnya mengajarkan sikap kepasrahan ini. Al-Qur’an mengatakan bahwa Nabi Nuh mengajarkan Islam, dan mewasiatkan ajaran itu kepada anak turunnya, termasuk kepada anak turun Nabi Ya’qub atau Israil (Q.S: 2 [130-132]).

Lebih jauh, Nurcholish Madjid bahkan mengartikan bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip transendental yang sama, dan karena itulah al-Qur’an mengajak kepada titik pertemuan (kalimatun sawa’). Dalam konteks ini, perbedaan iman atau keyakinan semestinya tidak digunakan untuk membuka lebih dalam jurang perbedaan, atau membenturkannya satu sama lain, melainkan seharusnya menghargai perbedaan yang ada dan mencari titik temu dalam konteks kemanusiaan.

Pemahaman agama yang kaku dan eksklusif seperti banyak merebak dewasa ini, menurut Said Aqiel Siradj, sering kali mendatangkan sikap ekstrem dan melampaui batas. Sikap ekstrem berlebihan itu termanifestasikan ke dalam berbagai tindakan terorisme yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama mana pun. 

Di sinilah pentingnya kesadaran beragama dengan mengedepankan prinsip-prinsip moderasi dan sikap inklusif. Setiap pribadi yang memiliki kesadaran itu, maka dengan sendirinya akan menerima kemajemukan dan menerapkan nilai-nilai pluralitas dalam kehidupan bermasyarakat.

Bhinneka Tunggal Ika : Semangat Pluralitas yang Harus Dijaga  

Sejak dulu, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah belajar menghargai kemajemukan berdasarkan sistem keyakinan dan keragaman budaya. Bahkan jauh sebelum republik ini diproklamirkan, pemuda-pemuda dari berbagai penjuru nusantara sudah mengucapkan sumpah untuk bersatu dalam keragaman. Itulah yang kita kenal dengan peristiwa Sumpah Pemuda.

Konsep Bhinneka Tunggal Ika yang kita kenal hari ini pada dasarnya memuat cita-cita pluralisme dan multikulturalisme. Konsep yang meyakini masyarakat hidup berdampingan, yang terdiri dari berbagai etnis, suku maupun agama.

Fathi Osman menjelaskan pluralisme ini sebagai bentuk penerimaan terhadap keragaman yang melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Pluralisme mendorong setiap orang untuk menyadari dan mengenal keragaman di segala bidang kehidupan, baik agama, sosial, budaya, sistem politik, etnisitas, tradisi lokal, dan lain sebagainya.

Sikap penerimaan terhadap berbagai keragaman itu akan memunculkan toleransi antar sesama warga negara untuk hidup berdampingan dengan damai serta dapat meminimalkan konflik. Di sini, penekanan Fathi Osman akan pentingnya pluralisme menjadi relevan, karena hanya dalam sikap pluralistik itulah kita dapat membangun kehidupan bersama yang berdamai, positif, penuh sikap hormat satu sama lain, dan bekerja sama dalam mengatasi masalah-masalah besar yang kita hadapi hari ini.

Hemat saya, bila semangat Bhinneka Tunggal Ika ini dipahami untuk selanjutnya diamalkan oleh setiap warga negara sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, maka gerakan atau ideologi apapun yang bertujuan merongrong keutuhan dan kedaulatan negara tidak akan pernah berhasil. 

Oleh karenanya, menjaga semangat Bhinneka Tunggal Ika agar terus hidup dalam diri dan masyarakat adalah salah satu bentuk dari kewajiban bela negara yang juga merupakan pengamalan dari nilai-nilai agama itu sendiri.