Penulis
3 minggu lalu · 54 view · 3 menit baca · Buku 26354_33376.jpg
Sindonews

Membumikan Harga Buku

Menurut Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, Hikmat Kurnia, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rutin membaca buku. Pernyataan itu didukung data Programme for International Student Assessment (PISA), yang menempatkan Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca.

Padahal membaca salah satu yang mengambil peran dalam perubahan sosial melalui pendidikan (Roucek, 1967). Salah satu sumber bacaan yang memiliki peranan tersebut adalah buku. 

Namun, ada ungkapkan bahwa bukan tak mau membaca, tapi tak mampu membeli buku. Harga buku fisik belakangan ini menjadi perbincangan di kalangan pencinta buku. Soal minat baca, saya tidak sepakat bila Indonesia rendah, kecuali minat baca buku secara fisik.

Sebagai salah satu produk kertas, harga buku di Indonesia masih tergolong mahal, apakah hal itu terkait dengan bahan pembuat (kertas) atau ada biaya lain yang memengaruhi harga buku fisik. Kita patut bersyukur dan mengapresiasi Presiden Jokowi yang menandatangani UU tentang Sistem Perbukuan pada tanggal 29 Mei 2017.

UU ini "memaksa" pemerintah memberi perhatian lebih pada dunia perbukuan Indonesia. Tentu saja ini merupakan kabar gembira bagi dunia perbukuan. Sayangnya, kabar itu tak sebanding dengan geliat dunia perbukuan. Supply and demand tak sebanding yang mengakibatkan banyak toko buku pensiun.


Padahal, menurut data Perpusnas RI, ada lebih 40.000 judul buku yang diajukan setiap tahun untuk mendapatkan nomor ISBN. Atau berdasarkan data Ikapi, dalam setahun, tidak kurang terbit 30.000 judul buku baru dari berbagai genre. Sebab pertama terkait terkait supply and demand ialah minat baca buku fisik yang tidak tumbuh signifikan, apalagi perhatian mulai terbagi pada dunia maya, terutama generasi milenial.

Menurut saya, industri perbukuan harus membantu minat baca dengan harga buku yang bukuwi. Tak cukup dengan kampanye gerakan literasi semata. Tak cukup pula mengandalkan program-program pemerintah. Lalu bagaimana penentuan harga buku sehingga sebuah buku dikatakan murah atau mahal?

Menurut Bambang Trim yang sudah lama bergelut di dunia perbukuan, umumnya harga buku dipengaruhi faktor X. Hal-hal yang menjadi unsur kalkulasi adalah ukuran buku, tebal halaman buku, jenis kertas isi, dan jenis kertas kover, termasuk gramaturnya, warna cetak isi (B/W, duotone, FC), jenis jilid, apakah kover lunak atau kover keras (hard cover), dan jumlah cetakan (tiras/oplag). Biasanya faktor X dikali 4-5 oleh penerbit.

Misalnya Rp10.000/eksemplar, harga jual menjadi Rp40.000 s.d. Rp50.000 per eksemplarnya. Hitungan paling murah adalah 3 x biaya cetak. 

Namun harga jual bisa lebih apabila penerbit mempertimbangkan segi benefit kontennya. Dalam hal ini, fisik buku tidak terlalu dipentingkan. Buku yang berbiaya cetak Rp10.000/eksemplar dapat dijual Rp100.000/eksemplar.

Apakah penerbit benar mendapatkan keuntungan sedemikian besar (4-5 kali) dari harga cetak? Tidak. Sebuah buku dialokasikan untuk distributor (50-55%), 20% untuk produksi cetak (jika harga dikali 5 harga produksi), 10% untuk royalti penulis, dan sisanya (20-15%) untuk penerbit. Bagi penerbit, 20-15% itu mereka harus membayar jasa editor, biaya umum, dan biaya promosi serta pajak.


Selama ini yang dijadikan korban agar harga buku ditekan ialah royalti bagi penulis. Dari yang harusnya 10% dikurangi antara 5-8%. Meski begitu, dengan besarnya tarif keuntungan yang diminta distributor membuat harga buku masih dianggap mahal. Diskon bagi distributor yang terlalu besar kini bisa disiasati dengan penjualan secara online.

Barangkali para penerbit kini bisa bekerja sama dengan toko-toko online untuk memasarkan buku agar harga buku lebih bukuwi, terjangkau, mengingat buku fisik kini mendapat saingan digital. Dan sangat disayangkan ternyata memang royalti bagi penulis yang paling kecil plus pajak yang harus dibayar pula.

Benar bahwa penulis tidak perlu biaya-biaya yang dikeluarkan penerbit maupun distributor. Namun demikian, penulis mengeluarkan biaya yang sebenarnya lebih dari keduanya. Proses menulis hingga menjadi sebuah buku butuh materi yang kalau dihitung-hitung tidak sedikit. Tapi sudahlah, barangkali tak banyak penulis yang berteriak seperti Tere Liye. 

Terkait anggapan mahalnya harga sebuah buku, sejatinya juga bergantung pada pembaca. Bila minat baca tinggi, penerbit tak sungkan mencetak ribuan eksemplar. Dengan demikian, harga buku bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas konten maupun kertas yang digunakan. Penghematan lainnya seperti diungkapkan di atas dengan penjualan online. 

Ada joke seorang teman. Katanya, "mahalnya harga buku karena ditulis di atas kertas; kalau mau murah, ya tulis di pohon."


Ungkapan itu maksudnya biaya produksi pohon menjadi kertas yang super agar enak dibaca butuh biaya-biaya. Tentu kita pahami itu, namun pembaca juga butuh bacaan terjangkau kantongnya dan tetap berkualitas.

Jadi, menurut saya, membumikan harga buku butuh kerja sama antara percetakan, penerbit, dan pembaca, serta pemerintah melalui regulasi. Pajak bagi buku sebaiknya dikurangi bahkan ditiadakan. Setujuhkah Anda?

Artikel Terkait