Sore itu di Ciputat seperti malam biasanya, tidak ada sesuatu yang begitu mencolok sehingga membuatku tertarik. Tapi tiba-tiba muncul notifikasi di handphone ku. Ada pesan Whatsapp yang masuk dari orang yang tidak dikira sebelumnya. Memang bukan orang yang asing bagiku, tapi sudah 3 bulan terakhir tidak ada pesan dari orang ini, aku pun tidak bisa mengirim pesan karena Whatsappku diblok dan memori dalam otakku pun pelan-pelan sudah menghapus namanya.

Orang itu adalah Tari, perempuan yang sempat dekat denganku. Meski dekat, aku tidak pernah mengklaim secara sepihak kalau dia pacarku. Belakangan orang-orang di sekitarku lah yang sibuk menfasirkan hubungan kita berdua. Entah ada angin apa tiba-tiba Tari mengirim pesan singkat kepadaku, begini bunyinya “dimana?” tanpa salam atau basi-basi. Lalu tanpa pikir panjang karena perasaan senang yang menutupi akalku, aku membalasnya seperti ini “di Ciputat, di kosan”.  Selanjutnya seperti ini balas pesan yang kita lakukan;

Tari: Mau ketemu donk malam ini?

Aku: Iya, di mana, jam berapa?

Tari: Fathullah, Kedai Makoda, Jam 8.

Aku: Mau dijemput?

Tari: Gausah, pesen Grab aja.

Aku: Sayang duitnya.

Sampai pada akhirnya jam pertemuan itu dimajukan jadi jam 7 malam, aku pun menjemput Tari di kosannya. Letaknya tidak terlalu jauh dari posisi akau malam itu, lagian itu juga kesempatan aku membonceng Tari setelah sekian lama jok motor belakangku kosong.

Di atas motor aku tidak terlalu banyak bicara, aku sedang mengamati dan mengira-ngira apa yang akan dibicarakan Tari. Tidak biasanya dia yang memulai pertemuan ini. Jika dipersentasikan 80 persen pertemuan aku yang selalu memulai.

Malam itu Tari terlihat agak kaku, mungkin karena sudah lama menghilang tanpa kabar. Sampai langkah pertama kaki menginjak kedai tidak tersebit sedikitpun apa yang akan dibicarakan olehnya. Aku hanya berharap kabar baik datang darinya, apapun itu selama kabarnya baik aku akan ikut senang.

Seperti biasa, kita pesan makanan dulu. Aku memasan nasi dengan beberapa tusuk sate khas angkringan dan minuman susu dingin. Tari hanya memesan sate dan minuman es teh kalau tidak salah. Sambil menunggu makanan datang, aku yang memulai pembicaran meskipun seharusnya Tari karena dia yang mengundangku. Itulah laki-laki sepintar apapun ketika di hadapan perempuan yang dicintainya akan luntur seketika.

Aku: “Apa kabar?” aku memulai basa-basi.

Tari: “Alhamdulillah baik, kamu apa kabar?” Tari membalas basa-basiku.

Muka Tari merona kaku, entah apa yang ingin dikatakannya akupun masih menebak-nebak. Ya, Tari malam itu terlihat sedikit serius tidak seperti biasanya yang cengengesan. Setelah mukadimah obrolan selesai, makananpun datang. Sambil menggigit sate dari pinggir aku mendengarkan Tari bicara. Tidak disangka, Tari mengungkapkan suatu hal yang selama ini dirahasiakan.

Tempo hari Tari menceritakan kepadaku tentang seorang laki-laki yang sempat membuatnya jatuh cinta, atau anak sekarang menyebutnya BAPER. Dengan kelapangan hati, aku tetap mendegarkan certitanya, dengan sadar dia menghujamiku dengan busur panah yang tidak kasat mata, tapi apalah daya, keyakinanku bahwa Tari adalah jodohku mampu mengobati semuanya.

Meski berulang kali Tari bercerita perihal laki-laki itu dia tidak pernah menyebutkan namanya, menyebutkan ciri-cirinyapun tidak. Sempat aku menghujaninya dengan pertanyaan sampai aku mengambil kesimpulan kalau laki-laki bukanlah orang di luar lingkunganku, melainkan dia ada dalam keseharianku.

Di setiap akhir cerita tentang laki-laki itu, Tari selalu berhasil memupus ke khawatiranku. Karena itulah aku tidak pernah berusaha mencari identitas laki-laki itu. Betul, laki-laki itu seolah menjadi hantu dalam hubungan kita, ada tapi tidak terlihat. Sedangkan aku yang ada di dekatnya tidak pernah dilihat seutuhnya.

Pernah sewaktu ketika, Ia berjanji untuk melupakan laki-laki itu dengan syarat Ia menyakiti Tari sampai Tari menangis. Tiga minggu setelah pernyataan itu terlontar dari bibir mungil Tari laki-laki itu kembali menyakiti Tari. Ketika itu aku sedang mengikuti salah satu organisasi di salah satu hotle di bilangan Jakarta Pusat. Pagi sekitar pukul 09.00 Tari mengirim pesan Whatsaap. “Kamu pernah gak kamuy nyakitin cewek sampai nangis?” sontak pertanyaannya membuat bingung, tapi dengan apa adanya aku menjawab, “tidak”.

Akibat pertanyaan itu, aku penasaran dan tidak lama aku pun menelponnya. Awalnya dia tidak mengangkat telpon dariku, tapi kemudian dia mau mengangkatnya. Jelas kaget saat Ia menelpon sambil menangis, ini pertama kalinya aku mendengar Tari menangis. Aku ditambah dibuat kaget saat Tari menceritakan sebab dia menangis. Ia menangis karena suatu hal yang melibatkan laki-laki itu. Aku berusaha meneguhkan hatinya dengan meyakinkan bahwa tangis itu akan sia-sia untuknya.

Setelah telpon ditutup, alam bawah sadarku menarik ingatannya pada janji Tari yang Ia akan memutuskan hubungan dengan laki-laki itu jika membuatnya menangis. Perasaanku jelas senang, dan semakin yakin kalau Tuhan menetapkan Tari sebagai jodohku. Selang tiga hari setelah itu, aku menanyakan janji yang pernah terucap oleh Tari, tapi tidak pernah ada pemenuhan janji yang ada hubungan kita semakin tidak jelas arahnya.

Nasi putih dan beberapa tusuk sate itu belum sempat aku makan, hanya susu dingin yang aku minum untuk sedikit meredakan emosi saat Tari mengungkapkan rahasia yang selam ini disembunyikan. Semua rahasia yang Tari tutup-tutupi dia buka sendiri, dengan gambling dia menjelaskan identitas laki-laki yang selama ini berhasil membuat dia klepek-klepek.

Sialan!!! Aku tau persis laki-laki itu, dia adalah salah satu teman terdekatku. Beberapa kali aku juga pernah ceritakan soal Tari kepadanya, tapi tanpa aku sadari itu jadi boomerang untuk diriku sendiri. Bukan tanpa sebab Tari membongkar rahasia besar yang selama ini terkunci rapih di dalam hati rapuhnya.

Tari menjelaskan rinci permasalahan itu, intinya adalah Tari dituduh merebut pacar orang oleh temannya sendiri. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun. Laki-laki yang disukai Tari itu adalah pacar dari teman perempuan Tari. Ah…sungguh sialan dunia ini, meski luasnya tidak terjangkau oleh mata, tapi mengapa aku terjerembab dalam hubungan yang seperti ini.

Tanpa persetujuanku teman Tari yang perempuan itu menarikku dalam pusaran hubungan yang aku sebut “tolol”. Tari menjelaskan beberapa kali si perempuan itu menyebut namaku dalam tuduhannya. Agh….lagi-lagi aku jadi korban kedunguan anak-anak Adam yang dimabuk cinta. Tuduhan yang mengarah kepadaku itu jelas aku bantah, karena tidak pernah sekalipun aku bertemu perempuan itu untuk membahas persoalan ini. Sekalinya bertemu aku hanya melontarkan sapa-sapa ringan.

Sudah tertimpah kabel kesetrum pula, mungkin itu perumpamaan yang tepat disematkan kepadaku. Mengapa? Aku tidak tahu apa-apa, aku yang selalu memandang positif Tari dan teman-teman sekelilingku, tapi apa yang terjadi? Aku tersengat oleh mereka tanpa sepengetahuanku.

Dengan muka santai tapi hati yang panas, aku mencoba mendengarkan semua keluh kesah Tari, sambil sesekali menguatkannya. “Aku kira kamu mau ngasih aku surat undangan nikah” begitu aku menyela. Aku bertanya seperti itu karena aku berharap ada kabar baik dalam pertemuan ini. Kabar baik apapun itu, entah soal karir, kuliah, keluarga atau apapun yang berhubunga dengan kabar baik.

Mendengar cerita itu, aku tidak sanggup menghabiskan nasi, rasanya semua hambar. Tari memaksaku menghabiskan nasi dan lauknya, tapi apa mau dikata sekuat-kuatnya hati akan rapuh juga. Setelah Tari bercerita dan menanyakan kejelasan tuduhan dari perempuan itu dan aku memberikan penjelasan yang jujur, Ia mengajak pulang. Akupun menurutinya, karena mungkin tidak ada lagi yang harus diceritakan.

Di atas motor aku mengajak dia bicara meski bukan perihal itu, perihal kuliah dan karirnya sebagia seniman tarik suara. Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini, meski kadar pahitnya lebih tinggi dari pada manisnya, aku tetap bersyukur pada Tuhan. 200 meter sebelum sampai kos-kosannya, aku menggoda Tari “Wah bakal sering main ke sini lagi nih!” Tari menjawab “Gak tau juga yah”.

Meski kabar itu membuat aku sesak napas, tapi aku berpikir ini adalah celah untuk aku merajut kembali kain yang pernah koyak. Setelah hari itu aku mulai mengirim pesan via Whatsapp ke Tari, meski hanya menanyakan pertanyaan remeh, untuk beberapa hari Tari masih membalas tapi tidak lama setelah itu Tari kembali memblokir Whatsappku. Tidak ada jalan lain selain direct massage (dm) lewat Instagram. Aku coba beberapa kali nge-dm Tari untuk mengajak makan di tempat yang sama atau angkringan yang tempo hari kita sering kunjungi. Namun dengan jawaban beragam yang intinya dia menolak tawaran untuk bertemu.

Ya sudah lah jika memang dia jodohku tidak akan pernah lagi ada membuka memblokir  Whatsapp untuk memblokirnya kembali.