Sebagai jurnalis, saya kerap dibuat bingung dengan selebaran agitasi yang dibuat mahasiswa saat mereka demonstrasi. 

Agitasi adalah istilah untuk kertas atau selebaran yang dibuat pendemo yang isinya memuat informasi mengenai isu apa yang diangkat dan organisasi apa yang menggelar aksi demonstrasi tersebut. Padahal, keberadaan sebuah agitasi bisa membantu jurnalis saat akan membuat sebuah berita.

Ngalor Ngidul

Agitasi yang dibuat mahasiswa kerap ngalor ngidul alias tidak fokus sehingga membingungkan wartawan yang akan mengutip isi agitasi. Narasi ngalor-ngidul ini biasanya terjadi saat mahasiswa membuat latar belakang mengapa demonstrasi mereka lakukan. 

Dalam membuat latar belakang itu, ada yang mengutip data dari media massa, mengutip aturan seperti undang-undang dan peraturan daerah, dan lainnya. 

Sayang, kutipan itu kerap tak mendukung isi dari agitasi bahkan malah melebarkan persoalan sehingga terbaca tidak fokus. Akhirnya banyak informasi disampaikan tetapi tidak fokus pada satu persoalan yang diungkap secara utuh dan rinci. 

Demonstrasi menyoroti banyak hal akan membuat fokus pada satu persoalan terpecah. Maka, isu yang diangkat akan terasa dangkal. Padahal, semestinya isu yang diusung bisa fokus pada satu hal. 

Fokus pada satu hal tetapi dalam dan fokus tentu akan lebih menarik. Dalam ungkapan lain, lebih enak bila dalam karena akan lebih terasa. 

Belum lagi banyak dicantumkan slogan-slogan seperti "hidup mahasiswa" atau slogan lain yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Sayang bila agitasi yang hanya selembar itu dipenuhi slogan-slogan yang tidak akan dibaca, khususnya oleh jurnalis.

Jurus 5W plus 1H

Sebenarnya membuat agitasi yang baik dan layak dikutip oleh wartawan sehingga baik menjadi berita cukup mudah. Cukup dengan memenuhi kaidah jurnalistik, yaitu 5W plus 1H. 

Rumus ini adalah rumus umum dan sangat terkenal di dunia kewartawan dan mahasiswa komunikasi. 5W plus 1H adalah kepanjangan dari what, who, when, where, dan why. Sementara 1H kepanjangannya adalah how.

Semua wartawan atau jurnalis menulis berita juga dengan menggunakan rumus ini. Maka, ketika suatu peristiwa memenuhi unsur ini, dengan sendirinya peristiwa itu menyuguhkan informasi yang dibutuhkan jurnalis. 

Untuk lebih detail, mari kita bahas satu persatu unsur berita. yang terangkum dalam rumus 5W plus 1H ini. What (apa) adalah pertanyaan aksi itu tentang apa. Tentang korupsi? Tentang pertanian? Atau apa? Itulah pertanyaan yang harus dijawab oleh pembuat agitasi. 

Dengan memasukkan informasi ini, maka wartawan akan paham demo apa yang diusung mahasiswa. Misalkan ditulis seperti ini: aksi ini adalah aksi keprihatinan karena pemerintah menerbitkan aturan yang memperlemah KPK.

Lebih jauh, unsur what juga bisa dikembangkan menjadi data melengkapi data sebelumnya. Misalkan bila demonstrasi menyoroti kasus korupsi, bisa dikembangkan dengan berapa jumlah korupsi yang terjadi di wilayah itu.

Who (siapa) adalah siapa yang menggelar aksi demonstrasi. Atau bila merujuk lembaga, maka organisasi apa yang menggelar demonstrasi. Atau bila isu yang diangkat tentang korupsi bisa juga "siapa" di sini untuk menjelaskan siapa yang korupsi. Contoh dari who adalah misalkan, aksi digelar mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Ingin Perubahan. 

When (kapan) merujuk pada kapan peristiwa itu terjadi. Kapan kasus korupsi yang disoroti itu terjadi. Penyebutan waktu bisa secara umum, tetapi akan lebih baik bila disebutkan secara detail. 

Contohnya adalah, setiap tahun sejak 2000 selalu terjadi penangkapan koruptor di Banten. Tahun 2000 ditangkap si anu, tahun 2001 ditangkap di anu... dan seterusnya. Makin detail semakin lebih baik. Sebab akan memperkaya data yang akan dikutip wartawan.

Where (di mana) menunjukkan lokasi peristiwa itu terjadi. Misalkan demonstrasi akan dilakukan di sepanjang jalan Sudirman dan Ahmad Yani. Atau mengenai di mana korupsi-korupsi di daerah terjadi. Misalkan di Banten korupsi terjadi di Kota Serang, Cilegon, dan Tangerang. 

Why (kenapa/mengapa) harus menjelaskan mengapa atau alasan mengapa demonstrasi itu dilakukan. Apa karena kecewa dengan kebijakan pemerintah? Atau karena isu itu harus diketahui masyarakat? Negara dalam kondisi kritis? Atau yang lain. 

Sementara how (bagaimana) harus menjelaskan bagaimana masyarakat harus menyikapi masalah yang terjadi saat ini, misalnya. Atau bagaimana kasus korupsi sampai ada di daerah. Apakah karena eksekutif dan legislatif sama-sama berkoalisi untuk korupsi? 

How juga bisa menjelaskan bagaimana demonstrasi akan dilakukan. Misalkan dengan menabur bunga menandakan gugurnya nurani dan seterusnya. 

Bila unsur-unsur berita itu dipenuhi dalam sebuah agitasi, maka insya allah sebuah agitasi akan sangat membantu wartawan dalam membuat berita. 

Lho kok cuma membantu? Bukannya tadi bilang maka beritanya akan naik?

Tenaaannnnggg. Selain kelengkapan data dalam agitasi, ada unsur lain yang juga menentukan sebuah peristiwa layak atau tidak layak menjadi berita. Akan saya ungkap di tulisan berikutnya, ya.