Penggambaran tentang gender di masyarakat menjadi pembicaraan yang menarik. Bahkan dalam debat Pemilihan Presiden 2019, gender menjadi tema yang sangat serius di Indonesia. Pasalnya masih banyak kasus pelecehan serta kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

Lambatnya pemerintah dalam menyelesaikan kasus pelecehan perempuan menjadi PR besar pemerintah dalam memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia. Tercatat melalui data Komnas Perempuan, pada 2019, sebanyak 239 lembar formulir yang masuk atau 35% dari 672 lembar formulir yang diedarkan kepada lembaga-lembaga mitra maupun data pengaduan langsung ke Komnas Perempuan.

Seminggu lalu masyarakat sedang digegerkan dengan kasus yang baru terungkap terkait pelecehan perempuan yang terjadi di Bintaro. Kasus tersebut terjadi pada 13 Agustus 2019 lalu dan viral di media sosial dengan korban perempuan berinisial AF dan pelaku seorang laki-laki berinisial RI.  

Peristiwa yang terjadi di Bintaro menambah catatan buruk mengenai bobroknya undang-undang perlindungan perempuan di Indonesia. Kritik berdatangan, mulai dari pakar hukum, aktivis perempuan, bahkan beberapa publik figur ikut mengkritisi terkait undang-undang perlindungan perempuan di Indonesia.

Dian Sastrowardoyo adalah satu dari bagian perempuan yang melakukan kritik keras untuk memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia. #WomenSupportingWomen yang pernah dia tulis dalam salah satu konten foto di Instagramnya merupakan tagar yang mengandung pesan mendalam dalam pembelaan terhadap perempuan.

#WomenSupportingWomen di Media Sosial

Di era perkembangan teknologi, media sosial menjadi ruang baru munculnya fenomena-fenomana yang ada pada masyarakat. Menurut McQuail (2010:141), beberapa penanda penting mengenai media baru di masyarakat mulai dari digitalisasi hingga adaptasi publikasi dan peran khalayak.

Beragam penanda mengenai media baru ini bisa ditemui dengan mencuatnya #WomenSupportingWomen. Tagar tersebut diperkirakan pertama kali diunggah dalam foto milik seorang jurnalis asal Brasil. Pemilik akun @anapaulapadraoofficial ini memposting potret hitam-putih dirinya yang tersenyum. #WomenSupportingWomen merupakan tantangan dan menjadi tren baru di media sosial yang sertai dengan #ChallengeAccepted.

Tantangan viral tersebut sebagai bentuk pembelaaan terhadap perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan verbal maupun nonverbal. Fenomena tersebut menjadi ramai di Indonesia, bahkan banyak publik figur Indonesia juga ikut meramaikan dengan menuliskan  #WomenSupportingWomen dalam foto yang diunggah di media sosialnya.

Konsep Reading As Women Jonathan Culler

Konsep membaca sebagai perempuan yang diangkat Jonathan Culler dalam bukunya yang berjudul On Deconstruction adalah salah satu cara Culler menjelaskan tentang kritik sastra feminis. Menurut Culler, tidak semua sastra yang mengandung banyak aspek perempuan di dalamnya adalah sastra yang mendukung perempuan, atau bahkan dalam sebuah fenomena masyarakat dapat menjadi sebuah male gaze. 

Menurut Goffman (1988), male gaze adalah cara melihat perempuan sebagai objek semata, yang biasanya mayoritas diasumsikan oleh kalangan laki-laki. Memosisikan diri sebagai perempuan dengan merasakan segala keberadaan dan ketakberdayaannya akan membuat kita berhasil membaca teks dalam sebuah karya sastra.

Apabila pembaca hanya menempatkan diri sebagai “pembaca”, maka ia tidak akan dapat menangkap pesan dan gagasan tersebut. Sebaliknya, mereka hanya berkutat pada pemahaman serta persepsi masyarakat secara umum yang masih didominasi kultur patriarki.

Culler (1982: 43-64) membaca sebagai perempuan adalah kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan yang penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Membaca sebagai perempuan berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasan laki-laki yang andosentris dan patriarkat.

Membongkar #WomenSupportingWomen di Media Sosial

Beberapa publik figur luar negeri, seperti Ivanka Trump, Khloe Kardashian, dan lainnya, mengunggah foto di media sosial mereka dengan filter hitam-putih dan disertai sebuah pesan. Mereka menggencarkan #WomenSupportingWomen di media sosial Instagram.

Selain publik figur luar negeri, publik figur perempuan Indonesia juga ikut meramaikan #WomenSupportingWomen di platform media sosialnya. Mulai dari Nazwa Shihab, Wulan Guritno, bahkan Sutradara film terkenal Indonesia, Mira Lesmana, juga menggunggah foto di akun Instagramnya pada 28 Juli 2020 lalu.

Mereka mengunggah foto hitam-putih selfie dengan kalimat-kalimat pendukung #WomenSupportingWomen tentang pentingnya jalinan persahabatan dan dukungan antarperempuan.

Berkaitan dengan konsep yang ditawarkan Culler tentang reading as women jika dikaitkan dengan fenomena mencuatnya #WomenSupportingWomen menjadi cukup menarik. Di sini pembaca mencoba membongkar narasi yang dibangun dalam tagar tersebut.

#WomenSupportingWomen merupakan simbol membela perempuan sekaligus perlawanan terhadap praktik-praktik pratriarki di masyarakat. Akibat fenomena ini, gerakan feminisme dan dukungan terhadap perempuan pun langsung membanjir lewat bentuk tagar di media sosial.

Perlawanan perempuan yang dihadirkan pada sebuah tren #WomenSupportingWomen sebagai bentuk pendekontruksian sebuah stereotip masyarakat mengenai bias gender dan menganggap bahwa perempuan selalu diletakkan pada subordinasi.

Anggapan masyarakat mengenai perempuan yang lemah dan tereksploitasi serta lambatnya pemerintah dalam menyelesaikan masalah kekerasan perempuan di Indonesia menjadi faktor utama dalam mencuatnya #WomenSupportingWomen di media sosial.