Penulis
3 minggu lalu · 6270 view · 3 min baca menit baca · Politik 52131_23407.jpg
Screenshot akun Twitter @IreneVeina

Membongkar Pemilik Akun Twitter @IreneVeina

Tulisan ini merupakan desakan dari teman-teman yang selalu penasaran siapa sebenarnya pemilik akun Twitter anonim @IreneVeina. Sebab menurut mereka, akun itu kerap membongkar konspirasi politik di negeri ini. Akhirnya saya follow untuk mencari tahu sekaligus mengklarifikasinya.

 Jauh sebelum akun tersebut, dahulu sudah ada akun TrioMacan2000 yang belakangan salah satu adminnya tertangkap. Akun itu akhirnya tutup usia. Lalu siapakah di balik akun @IreneVeina.

Bagi teman-teman yang belum mengenalnya, silakan follow akunnya. Akun tersebut, dalam narasinya, memberitahukan bahwa ada beberapa tokoh yang bertindak sebagai sutradara, produsen, penulis naskah, dan yang menjadi pion dalam konspirasi besar di Indonesia. 

Sulit membantah narasi-narasi yang disampaikan. Bukan karena ketiadaan argumen, namun karena debat dengan anonim itu gak baik untuk kesehatan mental.

Sejauh ini belum ada bantahan dari para elite politik yang sering di-mention namanya. Nama-nama terkenal seperti SBY, LBP, dan Hendropriyono menjadi sosok yang disebut akun itu sebagai orang-orang yang 'menunggangi' Jokowi. 

Dalam narasinya, Jokowi bukanlah tokoh utama. Jokowi hanya tokoh figuran yang disetir. Otak utamanya adalah SBY, mantan Presiden yang juga Ketua Umum Partai Demokrat.

Akun tersebut menyebutkan bahwa SBY merupakan otak dari kecurangan pilpres sejak 2014. Menurutnya, segala desain kecurangan merupakan karya SBY. Jokowi tak lebih sebagai 'boneka' dalam drama panjang pilpres sejak 2014. 

Dalam narasinya, Jokowi bukanlah tokoh antagonis. Narasinya juga bisa disimpulkan bahwa Jokowi dan Prabowo, meski berlawanan secara politik, keduanya hanyalah 'korban' permainan dari SBY, LBP, dan Hendropriyono.


Kembali ke pertanyaan awal, siapa di balik akun tersebut? Bila kita coba analisis, akun tersebut memiliki kemampuan diksi yang baik. Mereka—mengapa saya gunakan kata 'mereka', karena saya yakin akun anonim begitu umumnya dikerjakan beberapa orang—memiliki kemampuan jurnalistik investigasi. 

Narasi-narasi yang masuk akal tersebut memang di luar jangkauan awam. Para penikmat teori konspirasi akan terlena. Mereka paham psikologis pengguna Twitter maupun para pendukung capres. Itu artinya, selain didukung orang-orang berkemampuan jurnalistik investigasi, mereka juga didukung ahli propaganda.

Punggawa akun tersebut pernah berproses di media. Tidak tertutup kemungkinan masih menjadi bagian dari sebuah media. 

Lalu dari mana mereka memiliki data? Mereka mendapatkannya dari staf para elite yang disebutkan namanya. Hal-hal yang detail memang lebih dikuasai staf ketimbang bos. 

Kita bisa belajar dari kasus Gayus Tambunan, bagaimana perannya mengatur urusan pajak yang menyebabkan lebih kaya dibandingkan atasannya. Sampai di sini sudah mulai paham? Kalau belum, silakan ambil kopi dulu. Kita lanjutkan, lalu mengapa mereka bisa sebebas itu dan tidak ditangkap? Sebabnya, mereka tidak sedang menyerang rezim berkuasa.

Narasi mereka menempatkan Jokowi bahkan Megawati sebagai korban, bukan sebagai antagonis. Megawati dianggap tersandera kasus BLBI.

Siapa yang menyandera? Menurut mereka, SBY adalah tokoh itu. Hingga kini, tidak ada klarifikasi dari SBY terkait twit-twit mereka. Apakah yang mereka katakan benar adanya? Silakan teman-teman jawab sendiri. Toh konspirasi mustahil diterangkan sejelas-jelasnya.

Teknik propaganda mereka dibekali data-data. Bagi yang miskin data akan mudah percaya, bagi yang ada data akan sedikit menolak. 

Namun karena tidak ada klarifikasi dari para elite, maka sah-sah saja publik percaya dengan mereka. Meski statusnya akun anonim, bukan berarti tidak boleh menerima kebenaran. Perhatikan isi twit, jangan lihat siapa yang nge-twit, demikian kira-kira respons netizen.

Narasi yang cukup meyakinkan dari akun ini ternyata cukup berpengaruh. Meski tak seheboh akun TM2000, tetapi jagat Twitter sering menunggu cuitan akun anonim tersebut. 

Bahkan cuitan akun tersebut di-screenshot dan disebarluaskan ke media sosial lainnya. Jadi sudah 2 personel yang kita ungkap: pertama, jurnalis atau seseorang yang punya kemampuan jurnalistik; kedua, staf elite politik maupun mantan staf.


Satu hal yang membuat publik bertanya, mengapa akun tersebut sangat bebas? Mengapa tidak ada tindakan hukum terhadap akun tersebut? Bandingkan dengan akun anonim lain yang menyebarkan berita palsu. 

Kecurigaan muncul, jangan-jangan akun ini dibiayai orang dalam Istana? Hal itu tidak mungkin. Namun mengapa dibiarkan? Apakah yang mereka cuitkan sebuah kebenaran?

Baiklah. Barangkali mereka sudah dipantau, tinggal menunggu saat yang tepat untuk ditangkap. Lalu siapa komponen ketiga yang menjadi punggawa akun tersebut? 

Jika Anda mengikuti pola yang dicuitkan, maka akan kelihatan bahwa mereka cerdas memainkan irama. Sesekali penuh agitasi dan motivasi bagi pendukung capres, dalam hal ini pendukung Prabowo. Namun sesekali bernada pesimis. Dinamika yang mereka lakukan mengindikasikan jiwa aktivis di sana. 

Akibat cuitan @IreneVeina, para pendukung capres terkadang galau, emosional, bahkan bersikap di luar batas kewajaran. Misalnya menggunakan diksi kotor yang sangat jauh dari nilai-nilai kepribadian bangsa ini. 

Mengapa hal itu terjadi? Sebabnya sederhana, mereka tidak berani berpikir sendiri, tidak berani mencari data dan menganalisis sendiri. Ini sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant. Dalam bukunya Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung? (1784), ia berpesan: "Sapere Aude! Beranilah berpikir sendiri!"

Para penikmat cuitan akun Twitter @IreneVeina hendaknya berani berpikir sendiri. Nah, lalu siapakah pemilik akun tersebut?

Artikel Terkait