Sudah menjadi rahasia umum kalau beberapa perwira tinggi Nazi seperti Adolf Hitler, Heinrich Himmler, dan Rudolf Hess memiliki ketertarikan tersendiri terhadap mitos dan okultisme demi melanggengkan ideologi Nazisme.

Didorong oleh keyakinan tersebut, Nazi pun mengirim tim ekspedisi ke Tibet untuk mengungkap asal-usul ras Arya, yang mereka yakini sebagai leluhurnya.

Menilik dari fakta ini, beberapa penulis dan peneliti tentang okultisme mengambil kesimpulan kalau legenda Thule, Vril, dan Shambala memiliki peran penting dalam hubungan Jerman-Tibet dan pencarian Nazi akan sejarah leluhur "super" mereka.

Mitos Thule dan Vril

Elemen pertama dari kepercayaan okultisme Nazi adalah tanah mitos Hyperborea-Thule. Sebagaimana Plato mengutip legenda tentang peradaban Atlantis yang tenggelam, Herodotus juga menyebutkan legenda tentang sebuah peradaban raksasa yang terletak di ujung utara dunia, Hyperborea.

Pliny dalam bukunyaNaturalis Historia, menyebutkan kalau peradaban Hyperborea terpecah ke pulau-pulau yang disebut "Thule" dan "Ultima Thule," yang diidentifikasi oleh beberapa orang sebagai Pulau Islandia dan Greenland. Dikisahkan bahwa ketika es mulai menghancurkan tanah kuno ini, penduduknya mulai bermigrasi ke selatan.

Elemen kedua adalah gagasan tentang bumi yang berlubang, yang pertama kali disebutkan oleh astronom asal Inggris, Sir Edmund Halley, pada akhir abad ke-17. Teori ini kemudian melahirkan berbagai imajinasi liar, yang dimulai dengan penerbitan novel Voyage to Centre of the Earth karya Jules Verne pada 1864.

Tidak lama setelahnya, konsep Masyarakat Vril muncul. Pada 1871, Edward Bulwer-Lytton dalam novelnya, The Coming Race, menggambarkan ras unggul yang disebut Vril-ya. Menurutnya, ras ini hidup di bawah bumi dan berencana untuk menaklukkan dunia dengan energi psikokinetik yang dinamakan Vril.

Penulis Prancis, Louis Jacolliot, melanjutkan mitos Vril dalam bukunya, Les Fils de Dieu dan Les Traditions indo-européeenes. Jacolliot menghubungkan Vril dengan para "imigran" Thule yang hidup di dasar bumi. 

Jacolliot juga menyebutkan kalau peradaban Thule akan memanfaatkan kekuatan Vril untuk menjadi manusia super, lalu memerintah dunia. Setelahnya, filsuf asal Jerman, Friedrich Nietzsche, menekankan konsep "Übermensch" (superman) dalam bukunya, Thus Spoke Zarathustra

Dalam karyanya yang lain, The Anti-Christ, Nietzsche menyebutkan, "Mari kita lihat diri kita apa adanya; kita adalah Hyperborean." Meskipun tidak pernah menyinggung tentang Vril, Nietzsche menekankan peran kekuatan internal untuk pengembangan manusia super. 

Nasionalis India, Bal Gangadhar Tilak, dalam The Arctic Home of the Vedas (1903), menambahkan sentuhan akhir dengan mengidentifikasi migrasi masyarakat Thule dengan asal-usul ras Arya.

Dengan demikian, di awal abad ke-20, banyak orang Jerman yang percaya kalau mereka adalah keturunan Arya yang telah bermigrasi dari Hyperborea-Thule ke selatan. Orang-orang ini percaya kalau mereka ditakdirkan untuk menjadi ras manusia super melalui kekuatan Vril. Adolf Hitler adalah salah satu orang yang percaya dengan mitos ini.

Masyarakat Thule dan pendirian Partai Nazi

Pada 1918, Rudolf Freiherr von Sebottendorf mendirikan cabang organisasi okultisme, Thule Society (Masyarakat Thule), di Munich. Satu tahun setelahnya, organisasi ini melahirkan Deutsche Arbeiterpartei (DAP) atau Partai Buruh Jerman.

Di tahun yang sama, Dietrich Eckart, seorang anggota lingkaran dalam dari Masyarakat Thule, merekomendasikan Hitler ke dalam organisasi ini. 

Dalam buku Hitler's Vienna, disebutkan kalau Hitler sendiri sudah mempelajari okultisme dan teosofi ketika masih berada di Wina. Setelah masuk ke dalam Masyarakat Thule, Hitler mendedikasikan autobiografinya, Mein Kampf, kepada Eckart.

Pada 1920, Hitler menjadi kepala Partai Buruh Jerman yang nantinya akan berganti nama menjadi Partai Buruh Sosialis Nasional Jerman (NSDAP) atau yang lebih dikenal sebagai Partai Nazi.

Doktrin Lebensraum

Selain Dietrich Eckart, tokoh besar lainnya yang memengaruhi pemikiran Hitler adalah Karl Haushofer yang mendirikan Masyarakat Vril di Berlin pada 1918. 

Mengutip dari Encyclopædia Britannica, Haushofer menegaskan kalau ras Arya harus mengembangkan sebuah doktrin geopolitik, di mana mereka harus melakukan ekspansi dan genosida demi mendapatkan lebih banyak “ruang hidup” (Lebensraum) sebagai cara untuk menguasai dunia.

Rudolf Hess adalah salah satu siswa terdekat Haushofer, dan kemudian akan memperkenalkannya kepada Hitler pada tahun 1923.

Haushofer sendiri sering mengunjungi sang Führer masa depan untuk mengajarinya ide-ide tentang Masyarakat Thule dan Vril, termasuk konsep Lebensraum yang akan dipakai oleh Nazi di Perang Dunia II.

Pembentukan Ahnenerbe

Pada 1933, Heinrich Himmler berencana untuk mendirikan "Akademi Nordik" untuk menggali sejarah ras Arya. Pada 1935—setelah mendapat restu dari Hitler—Himmler beserta lima "pakar rasial" mendirikan Ahnenerbe (Biro Studi Warisan Leluhur) di Berlin.

Pada saat itu, Hitler menyuruh mereka untuk meneliti rune Jerman serta memastikan asal mula ras Arya, di mana Tibet menjadi kandidat yang paling menjanjikan. Ketertarikan Haushofer pada budaya Tibet juga menambah bobot pada pencalonan Tibet sebagai wilayah kunci untuk menemukan asal mula ras Arya.

Pada 1937, Himmler menjadikan Ahnenerbe sebagai organisasi resmi yang melekat pada SS dan menunjuk Profesor Walther Wüst, ketua Departemen Sansekerta di Universitas Ludwig-Maximilian, sebagai pemimpin riset Ahnenerbe. 

Ekspedisi Nazi ke Tibet

Ernst Schäfer adalah seorang pemburu dan ahli biologi Jerman yang sudah berpartisipasi dalam dua ekspedisi ke Tibet (1931-1932 dan 1934-1936). Ahnenerbe kemudian menunjuk Schäfer untuk memimpin ekspedisi Nazi pada 1938-1939, yang dilakukan atas undangan dari Pemerintah Tibet.

Pada saat itu, Jerman memang sangat tertarik untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Tibet. Namun, agenda mereka sedikit berbeda dari agenda orang Tibet. Salah satu anggota ekspedisi Schäfer, Bruno Beger, adalah seorang antropolog Jerman yang bertanggung jawab atas penelitian tentang ras Arya.

Ketika sedang berada di Tibet dan Sikkim, Beger mengukur tiga ratus tengkorak yang ia temukan di sana, kemudian memeriksa beberapa ciri fisik dan tanda tubuh lainnya dari penduduk Tibet yang masih hidup. 

Begerk menyimpulkan kalau orang-orang Tibet yang hidup pada saat itu berada di persilangan antara ras Mongol dan Indo-Eropa, di mana para petingginya memiliki unsur Eropa yang lebih kental dari penduduk biasa.

Kontak dengan Shambala dan Agarta

Beberapa studi pascaperang tentang Nazisme dan okultisme seperti The Spear of Destiny (1973) karya Trevor Ravenscroft menyatakan bahwa di bawah pengaruh Haushofer dan Masyarakat Thule, Jerman mengirimkan ekspedisi tahunan ke Tibet dari 1926 hingga 1943.

Misi utama mereka adalah untuk menemukan dan kemudian mempertahankan kontak dengan leluhur Arya di kota kuno Shambala dan Agarta, dua kota legenda yang tersembunyi di bawah bumi antara Pegunungan Himalaya dan Gurun Gobi. 

Dikatakan kalau orang-orang yang tinggal di sana adalah penjaga kekuatan mistik kuno, di mana salah satunya adalah kekuatan vril. Misi peneliti Nazi Jerman adalah meminta bantuan mereka dan memanfaatkan kekuatan itu untuk menciptakan ras unggul Arya. 

Menurut Ravenscroft, Shambala menolak untuk memberikan bantuan apa pun, tetapi Agarta setuju untuk membantu Nazi. Nantinya, bantuan ini akan memberikan superioritas Nazi dalam hal teknologi yang mereka pakai selama Perang Dunia II.

Terlepas dari klaim Ravenscroft, nyatanya sampai saat ini belum ada bukti konkret yang dapat mendukung pernyataannya tentang pertemuan antara Nazi dengan orang-orang Shambala dan Agarta.

Penelitian Nazi ke Tibet sendiri tidak pernah dilanjutkan karena fokus mereka sudah beralih ke Perang Dunia II sejak akhir 1939. Sampai saat ini, sebagian besar klaim yang merujuk pada mitologi Nazi masih menjadi sebuah pseudo-sejarah yang belum terbukti secara ilmiah.