Mahasiswa
1 bulan lalu · 837 view · 8 min baca menit baca · Lingkungan 25147_61490.jpg
Sejumlah pekerja memeriksa kualitas kertas di pabrik APP Sinar Mas di Provinsi Riau, Senin (18/7/2018) | ANTARA Foto

Membongkar Klaim Degradasi Lingkungan karena Industri Kertas

Pohon-pohon adalah sajak yang ditulis bumi ke atas langit. ~ Khalil Gibran

Saya sering mendengar dan membaca pesan singkat bernada preskriptif yang, alih-alih berisi ajakan untuk menyelamatkan lingkungan, justru cenderung digiring untuk mengurangi penggunaan kertas; seolah-olah degradasi lingkungan hidup disebabkan semata-mata karena industri kertas.

Tidak berhenti di situ, klaim seperti ini secara implisit mengandung asumsi bahwa pilihan paling taktis dan terbaik bagi kelestarian lingkungan hidup adalah dengan menggunakan teknologi digital tanpa kertas.

Lalu muncul istilah paperless society, sebuah masyarakat yang menggantikan peran media komunikasi menggunakan kertas dengan media komunikasi digital (virtual).

Konsep paperless society tersebut diperkenalkan oleh Frederick Wilfred Lancaster pada tahun 1978 dengan mengambil contoh transformasi dari manajemen perpustakaan berbasis kertas kepada pengelolaan perpustakaan secara digital. Pada saat itu, peran kertas belum sekompleks sekarang, kecuali sebagai media penyimpan dan penyebarluasan informasi.

Hipotesis ini ditunjukkan dalam sejarah ketika Gutenberg menemukan mesin cetak, dan kertas memainkan monopoli sebagai medium tunggal yang berhubungan dengan aksesibilitas informasi. Monopoli ini kemudian diganggu oleh media digital dan memuncak pada paperless society.

Meski demikian, sebagaimana yang diketahui umum, pada abad ini, penggunaan kertas bukan lagi sekadar sebagai media penyampaian dan penyimpanan informasi, melainkan bergeser ke sektor lain yang menjadi sarana pemenuhan kebutuhan manusia.

Dibahasakan secara lain, meskipun teknologi digital mampu menggantikan peran kertas sebagai media informatif, industri kertas dapat bermetamorfosis selaras dengan kebutuhan masyarakat.


Hal inilah yang justru memunculkan reaksi dari korporasi media digital yang membajak serentak mengusung wacana ekologis sebagai kendaraan untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa penggunaan kertas dapat menyebabkan degradasi lingkungan hidup.

Di dalam esai ini, saya berupaya menunjukkan apa saja kelemahan klaim tersebut dan bagaimana solusi taktis yang perlu dibuat untuk mengatasi persoalan ini.

Massa yang Panik pada Klaim

Sosiolog dan filsuf berkebangsaan Prancis, Jean Baudrillard, dalam bukunya Fatal Strategies (2008:55), menulis dengan nada sedih tentang kondisi masyarakat dewasa ini yang hidup di bawah alienasi pertandaan sebagai mayoritas bungkam; dengan tontonan semata-mata hanyalah tontonan.

Artinya, setiap informasi yang mereka terima tidak disertai pengendapan dan tindakan refleksi. Akibatnya, tulis Baudrillard pada bukunya yang lain, In the Shadow of the Silent Majorities, massa menyerap segala jenis energi sosial, tetapi tidak ada reaksi atasnya. Setiap pendapat atasnya dikirim kembali sebagai sebuah tautologi. Tidak pernah ada partisipasi(1983:28).

Masyarakat jenis ini mudah merasa sedih, namun tidak cukup kuat untuk menjadi pahlawan; gampang mengkritik, namun tidak cakap menawarkan solusi; suka melakukan segala sesuatu secara cepat, tetapi sulit menahan diri.

Tepat pada kondisi seperti inilah ideologi paperless society beroperasi melalui slogan retoris tanpa riset yang adekuat seperti “kurangi penggunaan kertas, selamatkan lingkungan”. 

Secara otomatis dan tanpa berpikir panjang, slogan tersebut terdengar logis dan bikin panik. Namun, jika dianalisis secara mendalam, terdapat logika berpikir yang keliru.

Hal ini menunjukkan bahwa masalah pokok lingkungan hidup yang diciptakan pasar kapitalisme dan rezim ekonomi neoliberal adalah bahwa “ada keabadian ekspansi dalam dunia yang fana”. Hal ini melanda hampir semua bangsa demokratis di dunia, tak terkecuali Indonesia.

Ironisnya, klaim degradasi lingkungan hidup melalui konsep paperless society justru kontraproduktif mengingat logika akumulasi kapital secara fundamental tidak kompatibel dengan keberlanjutan ekologi dan keadilan sosial.

Dengan kata lain, sebagai buah dari modernitas, perkembangan teknologi digital mengingatkan saya pada visi modernisme sebagai sebuah proses “memberi manusia kekuasaan untuk mengubah dunia yang pada akhirnya mengubah diri mereka sendiri”.

Artinya, peralihan dari paper society kepada paperless society cenderung menimbulkan kepanikan mengingat masyarakat merupakan konsep yang variatif dan majemuk dan tingkat penerimaan di antara kelompok masyarakat tertentu terhadap digitalisasi cenderung tidak simetris.

Oleh karena itu, jika kita peduli dengan lingkungan dan kelestarian hutan, kita mesti memiliki informasi yang memadai tentang jenis energi apa yang digunakan oleh media cetak maupun digital. Bukan sebaliknya, malah teperdaya pada permainan klaim.

Degradasi Lingkungan dalam Paperless Society

Jika kertas dapat didaur ulang, lalu bagaimana dengan penggunaan media digital dalam paperless society? Berikut akan digambarkan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh masifnya penggunaan teknologi digital yang dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan industri kertas.


Pertama, patut diingat bahwa masyarakat, dengan sedikit penggunaan kertas (paperless society) yang memanfaatkan internet, justru menyebabkan degradasi lingkungan. Dikatakan demikian karena teknologi digital senantiasa meninggalkan jejak emisi karbon secara signifikan.

Maksudnya, ketika berbicara tentang teknologi komunikasi yang dinilai ramah lingkungan, ada dua hal yang perlu dipikirkan, yakni penggunaan energi dalam produksi dan penggunaan peralatan (transmisi data), dan pembuangan limbah.

Dengan kata lain, ketika mendengar konsep “green society”, kita sering luput memikirkan implikasi penggunaan energi. Contohnya, mobil listrik yang menggantikan pemakaian bensin merupakan ide hebat sampai Anda berpikir bahwa ternyata daya yang digunakan untuk jaringan listrik menghabiskan bahan bakar fosil yang berdampak buruk pada lapisan ozon.

Artinya, meskipun bentuk dan mekanisme distribusi komoditas diubah, namun logika produksinya masih mengandalkan ideologi neoliberal kapitalistik yang beroperasi secara sangat halus melalui kata “listrik, efisiensi, dan efektivitas”.

Kedua, penggunaan kertas dengan cara mendaur ulang justru lebih baik dibandingkan dengan penggunaan media internet yang dayanya dihasilkan dari bahan bakar fosil dan menyebabkan emisi CO2.

Mengenai hal ini, The 2006 Stern Review: The economics of Climate Change mendemonstrasikan secara brilian bahwa mencetak 700 halaman buku menghasilkan 85 gram CO2, dan membaca buku di monitor selama sejam itu menghasilkan 226 gram CO2, atau membakarnya ke dalam CD mengasilkan 300 gram CO2.

Atau dalam The Paparless Debate, ditulis bahwa mengirimkan surel dengan 400kb kepada 20 orang yang menggunakan energi yang sama, berbanding lurus dengan menghidupkan 100 watt bola lampu selama setengah jam. Atau, membaca berita di koran cetak meminimalisasi penggunaan karbon sebanyak 20% daripada membacanya secara online.

Tentang hal yang sama, Mark Pitts, Direktur Eksekutif American Forest and Paper Association (AFANDPA), mengatakan, “Apa yang sering tidak disadari orang, yakni pembuatan kertas merupakan proses berkelanjutan (sustainable), dan klaim sebaliknya justru menyesatkan.”

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa produksi berkelanjutan itu tampak dalam contoh di mana lebih dari 65% kertas di Amerika didaur ulang pada tahun 2012 dan merupakan negara paling besar yang membuat kertas dengan cara mendaur ulang (The Guardian, 24 Februari 2014, Partner, 2016).

Hal yang sama juga terjadi di Afrika Utara, di mana 68,4% kertas dan papan tulis dapat didaur ulang sebanyak 6 sampai 7 kali sebelum seratnya menjadi sangat pendek untuk digunakan lagi di pabrik (www.forestryexplained.co.za).

Ketiga, klaim bahwa penggunaan kertas justru menyebabkan deforestasi merupakan klaim yang sewenang-wenang. Karena sektor yang menyebabkan terjadinya deforestasi umumnya disebabkan oleh aktivitas agrikultural dan pertambangan di mana pertambangan minyak oleh 5 korporasi minyak raksasa, misalnya, menyumbang 10% terhadap pemanasan global (Madeley, 2005:50).

Selain itu, antitesis terhadap klaim serupa tampak di Australia yang industri kertasnya berasal dari manajemen perkebunan dan kehutanan yang dikontrol dan diawasi secara hati-hati. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ternyata deforestasi justru diakibatkan oleh aktivitas agrikultur.

Pada tahun 1994, misalnya, terdapat satu juta hektare hutan perkebunan di Australia dan meningkat menjadi 2 juta pada tahun 2010. Artinya, ketika industri kertas disalahkan karena deforestasi, pertanian justru menjadi kontibutor paling besar.

Keempat, perusakan ekosistem tanah. Menurut The Annals of Global Health, sampah internet menjadi komponen sampah kota yang paling cepat dan paling besar risikonya terhadap tanah dibandingkan dengan gunungan sampah kertas yang mudah terurai.

Secara global, ada sekitar 40 juta ton peralatan elektronik bekas seperti TV, komputer, laptop, telepon, dan tablet. Meskipun ada skema pendauran ulang, namun tidak semua pengguna peralatan ini dapat (tahu) melakukannya. Sebaliknya, sekitar 95% rumah tangga di Australia mendaur ulang produk kertas mereka.

Sementara itu, berdasarkan laporan Institute of Sustainable Communication’s, meningkatnya permintaan konsumen terhadap peralatan elektronik di USA berkontribusi pada perusakan 500 gunung dan lebih dari 1500 kilometer persegi hutan digunakan untuk stasiun pertambangan batu bara untuk bahan bakar.

Contoh di atas menunjukkan secara paradoks bahwa akan lebih banyak pohon dan hutan yang hilang jika tren masyarakat tanpa kertas terus dilanjutkan.

Menjadi Konsumen yang Selektif

Jika mau jujur, dengan mengandalkan analisis ekonomi politik, akan ditemukan fenomena lain bahwa konsep paperless society sebenarnya muncul karena alasan ekonomi dan perang dagang. Ini berkaitan dengan produksi teknologi digital di dunia, dan bukan karena kepedulian terhadap masa depan pepohonan di hutan.

Dengan kata lain, untuk merebut pangsa pasar di negara-negara berkembang, korporasi teknologi digital di negara-negara industri maju memainkan diskursus degradasi lingkungan hidup untuk mencegah lalu lintas produksi dan penggunaan kertas.


Bandingkan, misalnya, Amerika pada umumnya mengalami penurunan produksi kertas, yakni pada tahun 2013 turun sebesar 15% dari tahun 2007 dan turun 20 persen dari tahun 1995 (Oswalt, dkk. 2014).

Dengan kata lain, dominasi Amerika dalam ekspor industri kertas pada akhir abad ke-20 dihadapkan pada kompetisi dari negara lain, termasuk Cina, Brazil, Swedia, dan Finlandia (Partners, 2016).

Tidak mengherankan apabila dalam rangka merebut kembali konsumen di pasar global, Amerika, misalnya, dapat memainkan wacana degradasi lingkungan yang disebabkan oleh industri kertas. Hal ini mengingat beberapa negara yang disebutkan sebelumnya dikategorikan sebagai “jantung dunia”.

Padahal semua orang tahu, fenomena deforestasi disebabkan bukan semata-mata karena industri kertas, melainkan oleh pelbagai faktor, seperti meningkatnya populasi manusia yang berimbas pada pengadaan habitat, proyek industri obat-obatan, industri kecantikan, minyak kayu, kerajinan berbahan kayu, tambang, dan infrastruktur.

Kehilangan banyak hutan sebenarnya terjadi di banyak negara berkembang, seperti Amerika Utara, Afrika, dan Asia Tenggara, di mana beberapa faktor penyebab kuncinya adalah korupsi dan lemahnya manajemen konservasi kehutanan.

Artinya, teknik menggeneralisasi penyebab seperti yang diasumsikan dalam konsep paperless society tidaklah adil. Kertas muncul dalam berbagai bentuk dari banyak perusahan sehingga memiliki akibat yang bervariasi.

Meski demikian, tanpa harus memperkeruh debat ini menjadi berkepanjangan, hal yang paling ideal adalah bahwa kita menggunakan media cetak maupun elektronik dalam rangka mencukupi kebutuhan sosial, ekologi, dan ekonomi secara selektif.

Pertama, dengan membeli dan menggunakan produk lokal dan berkelanjutan, kita bisa memastikan bahwa kertas yang kita gunakan menjaga hutan tetap lestari, orang tidak menganggur, dan lingkungan terpelihara secara aman.

Kedua, pastikan bahwa sumber di mana kita membeli kertas itu bersertifikat, legal, dan prosesnya berkelanjutan.

Ketiga, kita berusaha mengetahui apakah dalam kegiatan industri, hutan tetap terjaga, spesies langka dilindungi, memiliki perhatian pada perubahan iklim, melakukan proses daur ulang, dan mengakomodasi kebutuhan komunitas lokal?

Keempat, ingatlah bahwa dengan mendaur ulang kertas, kita menciptakan kebiasaan yang berguna untuk berjuang melawan perubahan iklim, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi gunungan sampah.

Artikel Terkait