Peneliti
2 tahun lalu · 1103 view · 8 menit baca · Filsafat tuhan.jpg

Membincang Soal Tuhan

Dalam artikel ini, saya tidak akan bicara isu politik yang sedang hangat bahkan memanas hingga membakar emosi setiap orang, baik itu isu-isu di dalam negeri maupun luar negeri, salahsatunya (masih) kasus Ahok atas dugaan penistaan agama, atau euforia kemenangan Trumph atas Hillary pada pemilu AS baru-baru ini.

Saya akan keluar dari hiruk pikuk tersebut, karena sudah banyak analisis yang ditawarkan oleh  para pengamat prihal tersebut. Dan saya kira, sudah cukup untuk dimengerti oleh seluruh bangsa ini. Tinggal kesadaran individu untuk tidak membuat dan menambah keruh urusan tersebut.

Pada kesempatan ini pula, saya akan bicara sesuatu yang melampaui persoalan di atas. Saya akan menyodorkan satu wacana yang berkaitan dengan Tuhan, dalam konteks ini adalah eksistensi Tuhan. Alasannya tak lain dan tak bukan, adalah sangat penting bagi kita mengetahui dan mengimani Tuhan secara naqli, pula tak kalah mengimaninya secara aqli (logis, rasional).

Tema ini dipilih salah satunya untuk mempublikasikan ringkasan singkat tesis saya, saat kuliah di ICAS Jakarta, kepada para pembaca. Ia membutuhkan sentuhan pembaca untuk memaknai dan menafsirkannya.

Di samping itu, pula merupakan wacana penting bagi kaum “awam”, bahwa mendayagunakan akal secara maksimal, sebagai karunia Tuhan, dalam beragama akan menambah keyakinan dan keimanan terhadap-Nya. Semoga tidak menambah beban berat persoalan bangsa ini, yang kini terasa sudah berat.

Persoalan menarik sekaligus menantang, yang menjadi perhatian manusia, dari jaman dahulu hingga kini adalah membincang soal Tuhan. Persoalan ini menjadi perhatian bagi para pemikir dari berbagai kalangan termasuk di dalamnya para teolog dan filosof. Bahkan masyarakat primitif yang merasa inferior di tengah masyarakat modern, mereka mencari jalan keluar agar inferioritasnya tidak menjadi bencana dan petaka lebih lanjut.

Masyarakat primitif kemudian melakukan peresembahan-persembahan ritual demi keselamatan bersama alam. Sehingga mereka menemukan “dewa alam” sebagai penyelamat dan pelindung dari bahaya. 

Kegiatan ritual yang mereka lakukan pada akhirnya melembaga menjadi institusi yang mereka sebut dengan isme atau kepercayaan, bahkan agama. Manusia, sesungguhnya, mempunyai naluri untuk mengabdi serta melakukan persembahan  kepada sesuatu yang dianggap melebihi kekuatannya (adikodrati).

Masyarakat modern, dalam konteks di atas, perilakunya tak jauh berbeda dengan masyarakat primitif, walaupun dalam bentuk yang berlainan, tentunya.

Auguste Comte, seorang filosof Prancis abad IXX, mengajukan pandangan dan memelopori berdirinya aliran filsafat positivisme, mengatakan bahwa apabila umat manusia telah memasuki fase ketiga, yakni masuk pada tingkat pemikiran positif, maka dua fase pemikiran sebelumnya, yakni teologis dan metafisik, pasti telah ia tinggalkan (El-Hady, 2004).

Dalam realitasnya, setelah sang filosof tersebut meninggal, pemikirannya masih menjadi bahan perdebatan bahkan terjadi resistensi. Teori yang diajukannya itu tidak sesuai dengan realitas obyektif  bagi negara-negara berkembang atau negara-negara maju.

Kehidupan modern yang didominasi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi cenderung bersifat ekspansionistik. Ia telah menjalar ke kehidupan teologis-metafisik yang berkait erat dengan kekuatan transendental.

Kondisi seperti ini bisa dijumpai dalam kehidupan masyarakat, di mana orang-orang meyandarkan nasibnya pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Tak berbeda jauh juga dengan orang-orang beragama yang menyandarkan kehidupannya kepada kekuatan supranatural, yaitu Tuhan Yang Maha Agung.

Menurut Komaruddin Hidayat, Direktur Sekolah Pasca UIN Syarif Hidayatullah, dalam pengantar buku Tuhan di Mata Para Filosof karya Etienne Gilson, dalam tradisi ilmu sosial, seperti antropologi, sosiologi dan bahkan juga psikologi, tema tentang Tuhan selalu muncul menjadi bahasan yang sangat serius.

Kondisi demikian disebabkan karena manusia sangat rapuh dan lemah. Karena ia rapuh dan lemah, maka ia membutuhkan sesuatu yang kuat, dan Yang Maha Kuat itulah yang kemudian dipersepsi oleh mereka sebagai Tuhan.

Dalam tradisi ilmu sosial Barat yang sekuler, gagasan tentang Tuhan hanya sebuah proyeksi dan pelarian manusia dari ketidakmampuannya mengatasi persoalan hidup. Opini di atas didukung kuat oleh tokoh-tokoh pemikir populer seperti Karl Marx, Durkheim, dan Sigmund Freud.

Sedangkan dalam tradisi ilmu keislaman tradisional, kajian tentang Tuhan merupakan objek pembahasan yang sangat serius, tetapi juga sangat hati-hati. Di sana  ada nuansa sikap yang paradoksal.

Di satu sisi ada dorongan dan keinginan untuk mengenal Tuhan secara lebih mendalam. Namun, di lain sisi, dibayangi rasa takut tersesat karena menyadari bahwa akal potensial manusia terlalu kecil dan sangat terbatas untuk mengenal Dia yang Maha Absolut, yang tak terbatas (Gilson, 2004)

Deskripsi tentang Tuhan sangat beragam, setiap disiplin ilmu mempunyai premis atau dasar pijakan masing-masing. Beberapa istilah yang lazim digunakan dalam literatur filsafat untuk merujuk pada Tuhan, antara lain Being qua Being, The Absolute Being, Supreme Intellect, Kebenaran Tertinggi (Truth), Zat yang Wajib Wujud-Nya, Sumber Segala Wujud, dan lain-lain.

Semua istilah itu memang merupakan konstruksi nalar. Untuk dapat memahaminya sangat diperlukan penalaran yang serius, logis dan sistematis dan dalam pandangan orang yang beragama, Tuhan merupakan zat yang disembah dan dimintai pertolongan (QS. Al-Fatihah :5). Selain itu juga Tuhan merupakan penguasa tertinggi yang telah mencipta alam semesta.

Segala yang ada dan terbentang di alam semesta ini dicipta dan didesain sedemikian rupa sehingga sesuai (compatible) bagi manusia. Kesesuain itu terjadi secara pasti karena berasal dari rancangan sang Pencipta, bukan terjadi karena kebetulan.

Adanya siang dan malam, matahari dan bulan adalah gambaran yang angat sesuai dengan keberadaan manusia, dan hal itu dapat dirasionalisasi dan dirasakan oleh manusia (El-Hady, 2004). Dan sejumlah fakta lain yang berkesesuaian dengan keberadaan manusia dan bumi.

Para Filosof  Menyoal Tuhan

Di sini, saya akan suguhkan komentar dari beberapa filosof dunia, yang menguatkan argumentasi bahwa eksistensi Tuhan itu bisa ditempuh secara rasional, tentu dengan beberapa penjelasannya (syarh). Di antara filosof yang yang membahas tentang eksistensi (wujud) Tuhan adalah Aristoteles (w. 322 SM), seorang filosof Yunani, yang lahir di Stagira. Ia meletakkan eksistensi Tuhan dalam kerangka menjelaskan sebab pertama gerak.

“Penggerak Pertama yang tidak bergerak” diartikan sebagai gerak yang dia sendiri tidak bergerak; ia merupakan pikiran murni dan berpikir hanya pada dirinya sendiri, bersifat eternal, merupakan “aktus murni” (enersia) tanpa unsur potensialitas, oleh karena itu tidak mengenal gerak (Siswanto, 1998).

Penggerak Pertama telah memiliki kesempurnaan pada dirinya sendiri, maka Dia tidak perlu disempurnakan. Pengerak Pertama, yang tidak digerakkan oleh penggerak yang lain ini tidak mungkin dibagi-bagi, tidak mungkin memiliki keluasan serta bersifat fisik. Kuasanya tak terhingga dan kekal.

Penggerak Pertama yang demikian itu tidak berasal dari dalam dunia, sebab di dalam jagat raya ini tiap gerak digerakkan oleh sesuatu yang lain. Penggerak Pertama ini adalah Tuhan. Dialah yang menyebabkan gerak abadi, yang Dia sendiri tidak digerakkan, karena bebas dari materi (Hadiwijono, 2000).

Tuhan sebagai substansi yang bersifat eternal adalah terpisah dari dunia konkret, tidak bersifat materi, tidak memiliki potensi; karena itu ia Dia harus dianggap sebagai “Aktus Murni”. Oleh karena itu, Aristoteles berpendapat bahwa Tuhan pasti ada, sebab metafisikanya adalah “eksistensi”.

Menurut definisi Aristoteles, pembahasan mengenai mawjud (eksist) dari segi eksistensinya dia mawjud, dan dari segi mawjud yang tertinggi ialah Yang Mawjud Mutlak, yaitu Tuhan. Jadi menurut Aristoteles Tuhan itu mawjud, ada (Al-Ahwani, 1997)

Berdasarkan pemikiran filsafat Aristoteles, diketahui bahwa ia adalah seorang rasionalis, dan baginya Tuhan dapat diketahui dan dibuktikan melalui akal. Akan tetapi mengenai iman tidak ditemukan uraian filsafatnya, sebab Aristoteles bukan seorang Kristen atau Yahudi.

Pemikiran-pemikiran Aristoteles banyak mempengaruhi para filosof sesudahnya, termasuk Thomas Aquinas (w. 1274 M) dan Ibn Rusyd (w. 1198 M). Bahkan Ibn Sina (w. 1037 M), seorang filosof Muslim dari Persia juga terpengaruh oleh pemikiran filsafat Aristoteles, di samping ia juga terpengaruh oleh Neo-Platonisme.

Menurut Ibn Sina, Tuhan menciptakan sesuatu karena adanya keperluan yang rasional (Syarif, 1993). Dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang diciptakan adalah obyek daripada akal. Hal ini berarti akal mampu mengetahui dan menjelaskan sesuatu secara rasional.

Thomas Aquinas mengakui kemampuan rasio insani untuk mengenal adanya Tuhan. Akan tetapi adanya Tuhan tidak dapat dikenal secara langsung, namun melalui ciptaan-ciptaan. Dalam Summa Theologiae. Aquinas yang disebutnya dengan “lima jalan” (quinque viae) memberi bukti-bukti adanya Tuhan.

Seperti pendapat Aristoteles, ia pun mengatakan bahwa setiap gerak atau perubahan mesti mempuanyai sebab-nya. Tetapi dengan mencari sebabnya kita tidak dapat terus sampai tak terhingga. Dari sebab itu kita mesti menerima suatu penyebab pertama yang tidak disebabkan atau suatu penggerak yang tidak digerakkan (unmoved mover). Penyebab Pertama atau Penggerak itu adalah Tuhan.

Menurut Thomas Aquinas, ada dua (2) macam pengetahuan yang tidak saling bertentangan, ia berdiri sendiri secara berdampingan, yaitu: pengetahuan alamiah, yang berpusat pada akal yang terang serta memilki hal-hal yang bersifat insani umum sebagai sasarannya. Dan pengetahuan iman,  yang berpangkal dari wahyu dan memiliki kebenaran ilahi, yang ada dalam kitab suci sebagai sasarannya (Hadiwijono, 2000).

Di dunia Islam, menurut sebuah sumber yang dikutip oleh M. M. Syarif bahwa Ibn Sina sangat berpengaruh di dunia Timur dan Barat. Di Barat misalnya, pengaruh Ibn Sina sangat mendalam dan terbentang luas. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di Spanyol pada pertengahan abad ke-16 H/ ke-12 M.

Pengaruh Ibn Sina di Barat terus merembes sejak era Albetrus Agung dan Thomas Aquinas. Bahkan dikatakan bahwa metafisika dan teologi Aquinas tidak dapat dipahami tanpa memahami filsafat Ibn Sina. Maka tidak heran dalam karya Aquinas yakni De Ente et Essentia, yang merupakan dasar metafisikanya, nama Ibn Sina disebut-sebut dalam setiap halaman buku tersebut.

Bahkan, dua (2) karya Aquinas yakni Summa Theologia dan Summa Contra Gentiles tentang eksistensi Tuhan juga terpengaruh oleh Ibn Sina (Syarif, 1993). 

Kemampuan akal dalam membuktikan eksistensi Tuhan, juga sangat diakui oleh Ibn Rusyd (w. 1198 M), seorang filosof dan ahli fikih dari Cordova, yang juga dikenal di Barat dengan nama Averroes. Ia sangat menjunjung tinggi akal pikiran dan menghargai peranan akal, karena dengan akal pikiran itulah manusia dapat menafsirkan alam wujud.

Sebagai orang yang berpikir rasional, Ibn Rusyd menafsirkan agama pun dengan penafsiran rasional. Namun ia tetap berpegang pada sumber agama itu sendiri, yakni Al-Quran. Dalam bukunya Fashl al- Maqal, ia berpendapat bahwa mengenal Sang Pencipta tidak mungkin berhasil kecuali dengan jalan melakukan pengamatan terhadap alam wujud yang diciptakan Tuhan, untuk memperoleh pembuktian tentang adanya Sang Pencipta (Al-Ahwani, 1997).

Sejalan dengan pendapat Aristoteles, filsafat Ibn Rusyd dapat disingkat bahwa Tuhan adalah Penggerak yang tidak bergerak. Dia adalah Maha Penggerak yang tidak ada penggerak selain Dia (Al-Ahwani, 1997). Itulah sebabnya Ibn Rusyd kemudian dikenal sebagai “Komentator Aristoteles”.

Bagaimana sebenarnya argumen-argumen mereka tentang wujud Tuhan? Apakah argumen-argumen yang mereka kemukakan secara rasional dapat sejalan dengan iman? Di sini penulis akan memperkenalkan Ibn Rusyd, sebagai salah seorang filosof Muslim yang akan memberikan dalil atau argumentasi kosmologi tentang wujud Tuhan.   

Argumentasi kosmologis merupakan metode pembuktian paling klasik, paling sederhana, dan juga paling menunjang bagi keyakinan manusia. Dapat dikatakan juga bahwa argumen ini analog dengan argumen gerak (dalil al-harakah), yang menunjukkan bahwa alam senatiasa berada dalam gerak, dan gerak itu ditimbulkan oleh adanya penggerak.

Sebagaimana pandangan Aristoteles, bahwa segala gerak alam ini ditimbulkan oleh Penggerak Utama, yang tidak digerakkan oleh apa pun (The Unmoved Mover), karena Dia adalah pembuat segala gerak itu (Al-‘Aqqad)

Menurut Corbin (1993), bahwa Ibn Rusyd adalah filosof muslim besar yang sangat berpengaruh tidak hanya di dunia muslim saja, tetapi sangat populer juga di dunia barat. Tidaklah berlebihan kiranya, jika penulis pada “Membincang Tuhan (Bagian2)” akan memilih Ibn Rusyd untuk menjelaskan eksistensi Tuhan tersebut secara gamblang.

Artikel Terkait