Rumah peribadatan ujung kampung itu tampak riuh dengan suara-suara tak dimengertinya. Miriam hanya terpaku di bawah pohon yang sedikit pun tak menaunginya.  

Keringatnya mengucur, berbau perisa asam, sangat menyengat. Sudah berjam-jam ia berdiri di situ. Parfum mancanegara miliknya hanya lewat sekelebatan saja melawan hawa panas desa kering itu.

Bau asam keringatnya seolah bersaing dengan keringat para gawagis (gus-gus) yang bersemangat membara memimpin ritual tersebut. Entah karena kehadiran Miriam yang dapat dinikmati lewat kaca jendela rumah peribadatan itu, atau karena suasana khusyuk peribadatan di siang bolong itu.

Perhitungan Miriam salah. Maunya mengandalkan okultasi ala Saturnus. Yang terlihat dari bumi walau jauh. Ah, ternyata tidak. Maunya memberi impresi dan perhatian kepada para gawagis agar segera menemuinya dengan segala aksi dan gestur aduhainya. Ah, tak taunya yang muncul hanyalah kuldesak.

Para gawagis itu tak bergeming akan kehadirannya yang siap mencolok mata keranjang dan telanjang setiap lelaki itu. Miriam tampil percaya diri dengan balutan baju panjang putih dari kain mahal tentunya.  

Sehelai syal hitam pekat melilit longgar di lehernya yang jenjang. Semilir angin membuktikannya. Lambaian ujung-ujung kainnya yang ringan, tak ragu menari di sekujur tubuhnya.

“Plutokrasi rohaniawan,” gumamnya meluncur begitu saja.

Bacaan-bacaan itu makin cepat saja. Hanya menyisakan ujung-ujung konsonan dan vokalnya. Paduan suaranya tak beraturan lagi, berdengung seperti suara lebah yang bersemuka.

Entah itu alunan sofis yang falasi bagi Miriam, atau sebaliknya, sophisticated! Yang pasti, sempat terhanyut juga dalam birama acak yang provokatif tersebut.

“Relativisme ini ada saja di mana-mana,” gumamnya lagi sambil berdegub hatinya yang terdalam.

Dia lupa akan mobilnya yang diparkir tak jauh dari pohon tempat ia mematung. Andai saja duduk manis di dalam mobilnya dan menyalakan mesin, tentu AC itu akan memanjakan kesejukan untuk rambutnya yang habis berlangir krim itu.

Satu jam sudah berlalu, namun kumpulan yang mengalunkan paduan suara ala padang pasir itu belum juga bubar.

Untuk ketiga kalinya, Miriam melirik jam tangannya. Apa pun yang ditampilkan jam digital multitugas itu tak mampu memberikan provokasi untuk meninggalkan tempat tak nyaman itu.

Hanya lelehan sejuk keringat di pori lengannya sebagai penyejuk hatinya, rela. Sampai legam pun, ia kan tetap berdiri di sini, di bawah pohon yang mati dan kering itu.

Suara peranti makan terdengar berdentingan dari rumah ibadah itu. Sepertinya perjamuan sudah dimulai. Orang-orang di rumah ibadah lahap menyantap hidangan ritual.

Lapar, satu kata untuk semuanya. Rangkaian bacaan-bacaan aneh baginya yang bersambungan disampaikan ke Tuhan tadi, cukuplah menguras tenaga para pemuja itu. Kini bacaannya rampung. Doa-doa sapu jagat sudah dimunajatkan dengan segala harap dan cemas.  

Perasaan berpahala dan shalih orang-orang yang melahap kudapan itu, seakan melengkapi nikmatnya suap demi suap yang terkunyah.    

Miriam berjalan menuju mobilnya yang hanya berjarak 5 meter dari pohon. Dibukanya pintu mobil itu sekali pencet dari peranti yang tergenggam di jemarinya yang lentik meruncing, berakhir dengan kuku-kuku indah yang rutin ter-manicure pedicure.

Diambilnya sesuatu yang mungkin saja aneh bagi koloni yang kini sudah berkepul asap mulut-mulutnya. Sebuah lilitan batang pohon duri, Ziziphus Spina Chirsti. Dan, The Thorn of Jujube itu melilit sirkularis rapi, pas dan anggun di kepalanya.

Perlahan dan pasti, dipakainya mahkota berduri itu sambil berkaca pada spion mobilnya. Paduannya aduhai, kontras wajah cantiknya dikendalikan tajam dan perih durinya yang bisa saja mengoyak yang halus dan lembut.

Seperti pawai-pawai keagamaan saja, kenapa begitu kacaunya. Kini Miriam telah mewakili sebagian simbologis historia kepercayaannya.

Orang-orang mulai membubarkan diri. Di tangan masing-masing tertenteng bawaan yang cukup berat dengan bungkus warna seragam. Miriam tak peduli lagi, kembali mematung di bawah pohon kering itu. Legam rambutnya disapu sinar matahari yang mulai sepenggalahan.

Teriknya mulai terasa. Terserap sempurna oleh warna hitam apapun yang ia pakai. Rambut hitamnya, gelang karethitam  jam tangannya, syal hitamnya, hingga celana dalam hitamya.  

“Semoga saja, amin,” doanya penuh harap.

Salah satu gawagis (gus-gus) keluar dari rumah ibadah. Mendekati Miriam dengan pandangan menunduk. Sekuat tenaga menyepakati aturan tentang mengendalikan pandangan atau ghaddul bashar yang diajarkan kitab suci itu.

Agar hati tak terpaut, agar pikiran tak kotor, dan agar birahi tak bergejolak. Namun, tetap saja, kontak mata telanjang, walau sekelebatan membidik sasaran yang akan didatangi, siap menyisahkan residu bayangan semu di retina mata manusia biasa.

“Gus! Lama banget, sih!” rengek setengah protes dari Miriam yang salah tingkah dengan kedatangan Gus Ahmad.

“Harus kuselesaikan bacaannya,” jawabnya singkat.

Kali ini aroma keringat keduanya bercampur. Bau khas feromon keringat Gus Ahmad meliar di udara bebas. Menyengat di lubang-lubang hidung siapa saja yang dekat dengannya.

“Kenapa kau pakai mahkota duri itu?”

“Kenapa juga kau pakai juga kupluk putih itu?”

Keduanya diam, senyap. Sambil berpikir dalam, kalimat basa-basi apa lagi yang akan diredaksikan.

Keduanya melayangkan stimuli-stimuli pikirannya jauh ke sosok-sosok sofis seperti Protagoras dari Abdera, Gorgias dari Leontini, Prodikos dari Keos, Thrasymakhos dari Khalsedonia, Hippias dari Elis, atau Euthydemos dari Khios.

“Ini bukan perjumpaan biasa,” bisikan itu memenuhi ruang telinga Miriam. Lembut, namun akan memaksa dirinya agar mampu mengimbangi isi pikiran Gus Ahmad.

Siang terik itu laksana suasana “European Age of Enlightenment”. Dipastikan akan berisi pertarungan ujaran-ujaran tingkat tinggi, menembus tatananan diskursus biasa.

“Ayolah tunjukkan pada dirinya!” bisikan nafsu mulai membanjiri relung lembut hati Gus Ahmad.

“Jadi kita Gus?” tanya itu jadi rengkah sebuah kedalaman persiapan retorika yang akan dilecutkan Gus Ahmad.

“Tentu,” jawabnya singkat. Tasbih di tangannya makin cepat putaran sentrifugalnya. Tak kalah dengannya, Miriam juga memutar cepat rosario mungil di tangannya.

Bacaan-bacaan lirih saling mendesisi memenuhi ruangan yang mereka ciptakan, mirip dengan demokrasi di Indonesia yang penuh sesak kdengan konsultan lembaga survei yang menawarkan konsep canggih guna memenangkan mereka yang bayar.

Keduanya, Gus Ahmad dan Miriam beradu suar keshalihan, kepintaran, lantas menetapkan harga mahal untuk sebuah pencarian sesuatu yang mahal juga.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kampung panas itu, putaran setrifugal bebutir tasbih dan rosario saling beradu. Dua tolok ukur berbeda yang menyepakati sesuatu adalah persepsi-persepsi liar berdasarkan kepentingannya sendiri atau kelompoknya masing-masing.

Maka dari itu, daya persuasif kata-kata menjadi sangat penting untuk meng-ada-kan apa yang tidak ada, dan sebaliknya. Retorika butir rosario dan tasbih, adalah alat mengagumkan sekaligus mengerikan yang memunculkan efek relativisme moral.

“Jam berapa dia datang?” tanya Gus Ahmad sambil menghentikan putaran tasbihnya.

Belum sempat terjawab oleh Miriam, sebuah truk Unimog beroda tinggi mendekat mereka. Berhentinya putaran tasbih dan datangnya truk itu, seakan melerai ujaran-ujran diskursus tingkat tinggi yang hampir saja meledak.

Tak lama kemudian, beberapa tubuh tegap berloncatan turun dari truk, memindahkan barang-barang yang ditumpuk rapi oleh Miriam di samping mobilnya yang terparkir itu.

“Kita berangkat sekarang?” tanya seorang yang army looks banget itu.

Tanpa menjawab, Gus Ahmad langsung bergabung dengan para tegap menaiki truk Unimog, sedang Miriam bersiap memacu mobil sport-nya itu.

Mentari semakin condong ke barat, meninggalkan titik-titik paralak yang bersejajar dengan garis khat ul istiwa’ (katulistiwa). Panasnya makin menjadi-jadi di titik remuk redamnya. Panas yang dielus oleh lapisan ozon, agar lembut diterima makhluk bumi.

Tiga jam perjalan darat sudah berlalu. Kini, kedua moda angkut darat itu merayap di daerah yang berketinggian subalpin. Tak ada kesulitan bagi generasi mobil-mobil yang terkayakan oleh teknologi kombusi dan sistem terpadu mode merayapnya.

“Ketua adat sudah dihubungi?” tanya Gus Ahmad kepada sopir truk yang berpangkat balok merah tunggal itu.

“Sudah, Gus.”

Lapangan kecil desa Bremi, Probolinggo, Jawa Timur, yang beku itu menjadi lahan parkir mobil-mobil mereka. Beberapa motor butut juga tampak berjajar tak rapi.

“Apakah kalian siap?” tanya ketua adat setempat yang berpakain ala resi Majapahit yang dipadu dengan aksen-aksen modernitas adibudaya. Standardisasi yang sudah lapuk oleh zaman.

“Dulu, ada 40 orang pangeran dari berbagai kerajaan di masa Majapahit membawa upeti, naik ke gunung itu untuk mempersunting Dewi Rengganis,” kata ketua adat yang membuka pembicaraannya.

Tampak Gus Ahmad dan Miriam duduk berseberangan, sepertinya Miriam mencuri-curi pandang.

“Bagaimana, Gus?” sebuah pertanyaan dari ketua adat yang sepertinya akan menjadi bagian penyimpul operasi rahasia ini.

“Itu adalah ghonimah, rampasan perang!” jawabnya singkat gemetaran, sambil jemarinya terus-menerus memutar tasbih yang kini putaran sentrifugalnya tak secepat tadi. Jemari Gus Ahmad kedinginan oleh suhu subalpin tersebut.

Sama halnya dengan Miriam, hanya saja kedinginannya agak hangat dengan bebas menatap wajah bermimik semit Gus Ahmad yang menggairahkan itu.

Duduknya sudah tidak tenang lagi, beberapa kali menggeser, beberapa kali mengubah posisi kaki, beberapa kali terllihat sesak nafasnya. Beberapa kali juga melihat ke bawah, seolah ingin menembus halangan yang menutup matanya, untuk jatuh di titik pengharapannya, yang basah itu.

“Miriam, bagaimana?” tanya ketua adat lagi. Miriam terpaku, tak konsentrasi, hati dan pikirannya hanya tercurah untuk wajah ganteng itu.

“Miriam!!!” Gus Ahmad membantu atensi ketua adat yang tergerus oleh kelindan birahi yang sudah mulai menjalar di relung-relung nafsu Miriam.

Sepertinya kelindan birahi juga melanda Gus Ahmad. Namun, sekali lagi putaran tasbih itu menutupi segalanya.

“Ehh, iya, apa?” jawabnya seakan menertawakan pertanyaan serius religius dari ketua adat.

“Bagaimana menurutmu?” ketua adat mengulangi lagi.

“Tentang itu?” Miriam memastikan. Gus Ahmad sudah ketir-ketir menanti jawaban Miriam.

“Iya,” balas ketua adat yang mulai mengantuk oleh usia senja dan hawa dingin pegunungan itu.

“Itu adalah harta kudus, mereka menguduskannya dari rampasan perang untuk menyemarakkan rumah Tuhan, di saat rampasan-rampasan ini telah dimenanangkan, mereka akan menyerahkannya untuk pembangunan rumah Tuhan!” Miriam tiba-tiba bersemangat bak khotbah mingguan itu.

Suasana mendadak hangat, begitupun Gus Ahmad matanya sedikit tebelalak mendapat serangan dari Khotbah Miriam.

“Ah, sama saja, di kepercayaanku juga begitu, tak perlu sesemangat itu mengucapkannya,” bisik yang mendongkol di benak Gus Ahmad. Kali ini dia kalah, kesalahan menjawab dengan singkat sekali tadi.

“Kenapa tadi tidak kuimbangi dengan penjelasan tentang kemuliaan ghanimah (harta rampasan perang) yang di Khaibar, di Badar,” kembali bisik itu mengiris-iris kekecewaan kekalahan retorisnya.

“Kalau Pak Komandan?” tanya ketua adat sambil mata nanarnya memandangi komandan yang sedari tadi menyimak serius ala pemetaan militer itu.

“Semua bentuk kekuasaan selalu membuat hukum dengan mengikuti kepentingan yang lebih kuat, baru kemudian hukum dideklarasikan sebagai adil, ini wilayahku, jadi lanjutkan!!” jawab sang komandan tegas.

“Upeti yang terkubur bersama reruntuhan di puncak itu adalah harta karun yang dikutuk., terserah kalian sajalah,” ketua adat menutup seremonial operasi rahasia itu.

“Maaf pak ketua adat, nilai moral dan hukum tidak pernah bersumber dari sebuah tuntutan moral atau hal magis, juga tidak berasal dari kewajiban inheren dalam tindak kontrak itu sendiri,” Komandan itu membela diri.

Memang benar adanya, beberapa kesaksian kutukan dari penduduk kaki gunung baik penduduk Bremi atau Baderan, ada arca yang saat dipindahkan ke tempat lain, tiba-tiba arca tersebut pindah sendiri ketempatnya semula.

Namun, di sisi lain, ada saja warga yang berani mengambil arca lainnya untuk dijual ke pengepul, dan entah apa yang terjadi dengan warga tersebut, sulit juga untuk diketahui dan dilacak nilai kebenaran kutukannya.   

Kini, hanya tersisa puing-puing bangunannya saja di puncak itu, dan di beberapa kawasan yang jarang terjamah pendaki.

“Kalian pulang saja!” perintah komandan kepada anak buahnya yang mengiringi operasinya itu. Keputusan yang sangat tiba-tiba sekali. Beberapa peralatan taktis ikut diangkut ke truk untuk kembali ke markas.

Yang tersisa dua sekop lipat, sebuah bungkusan rapi yang tak tahu apa isinya dan satu senapan laras panjang.

Hari itu juga, komandan, ketua adat, Gus Ahmad, dan Miriam yang mengklaim dirinya keturunan Dewi Rengganis berangkat ke kawasan yang sudah ditentukan, yaitu: 7º 58.325' S dan 113º37.438' T.

Sebuah titik koordinat yang selama ini dijaga ketat oleh seragam loreng yang ber-insignia “Bintang dan Gapura” itu.

Seharian penuh mereka berjalan denagan susah payah menuju titik yang diburu tersebut.

Akhirnya, sampailah mereka di hamparan luas yang berupa vegetasi savannah hijau nan dingin menggigit tulang. Pada sisi luasan itu, terlihat susunan bebatuan andesit yang memanjang membentuk alur yang bergurat-gurat.

Itulah puing landasan pesawat terbang yang pernah difungsikan oleh penjajah, baik Belanda ataupun Jepang. Di tepi-tepinya juga ada reruntuhan menara pengawas dan barak-barak militer.

Rombongan tampak kepayahan mendirikan tenda di dekat titk koordinat tersebut.Mentari meredup tanda senja datang. Kesunyian savannah yang bernama Cikasur itu, hanya terusik oleh suara burung merak yang sedang birahi mengejar pasangannya.

Beberapa babi hutan tampak mulai menggali akar-akar rumput savannah untuk menemukan “bawang laki”, jenis umbian yang banyak tersimpan di lebat rumput savannah.

Umbian itu sangat manjur sebagai kudapan afrodisiak (pembangkit gairah seks) yang kuat untuk mendukung persetubuhan dengan pasangannya.

Kalau dilihat susunan dan kekuatan ekspedisi ini sangat rapuh dan ceroboh sekali. Gus Ahmad dan Miriam memang masih belia. Namun, mereka berdua bukanlah persona yang biasa di zona penuh tekanan.  

Kepercayaan diri mereka berdua hanya mengandalkan sisi religus yang kadang belum tentu dapat bersurvival di zona mengerikan tersebut. Mereka berdua selalu menganggap Tuhan akan menyelesaikan segalanya sesaat itu juga.

Sedang ketua adat yang tua renta itu, juga mengandalkan bantuan para penguasa gaib gunung, yang tak jarang juga meminta persembahan.

Dan yang paling parah, komandan militer itu tampak tambun sekali, sepertinya sudah lama tidak bersentuhan dengan kesemaptaan fisik ala militer. Ekspedisi ini ia anggap enteng-entang saja, bak acara membuka peresmian lapangan tembak.

Terlalu lama hari-harinya yang hanya duduk di belakang meja untuk memberikan komando-komando kepada anak buahnya. Kini, dengan keserakahannya, memulangkan kekuatan taktis yang sedianya ikut, para serdadu muda yang cocok untuk ekspedisi ini.

Perkiraan penggalian lubang yang hanya sedalam foxhole ala pertahanan infantri garis depan itu benar-benar meleset.

“Sialan! Hanya tulang!’ umpat komandan.

“Sudahlah kita pulang saja!” Miriam yang menggigil itu mulai putus asa. Lupa sudah tentang rosario dan puji-pujian keagungan.

“Sabar,” lirih Gus Ahmad yang ikut menggali lubang. Tampak mulai kendor semangatnya, atau memang keletihan. Hunjaman sekopnya sudah tak tentu arahnya. Beberapa kali menegakkan punggungnya sambil merintih pilu.

Kabut khas Cikasur senja itu mulai turun bergulung-gulung membentuk pareidolia monster seram yang siapa saja dalam keadaan tertekan akan menterjemahkannya sebagai hantu atau kekuatan spiritual lainnya.

Bayangan hitam di tebing-tebing batu mulai terbentuk, berbarengan dengan meredupnya sinar sang surya. Tampilannya membentuk mimetolith dengan lukis wajah-wajah bopeng yang seram.

Komandan itu masih saja terus menggali dan menggali. Sementara Gus Ahmad agak sedikit waras, naik ke permukaan, membaca doa-doa jelang malam, sambil mengumpulkan beberapa potongan ranting untuk dibakarnya, guna mengusir tusukan hawa dingin Cikasur.

Sedang ketua adat sudah tak tahu kemana rimbanya. Terakhir terlihat membakar kemenyan di pojok savannah itu. Semua susunan taktis yang direncanakan, buyar seketika di lapangan.

Keadaan alam, ambisi, cinta, birahi telah membuyarkan sebuah kesatuan tujuan. Miriam perlahan bergeser mendekat ke Gus Ahmad. Tampak berusaha menjaga kehangatan tubuhnya yang sudah mendekati ambang batas, hipotermia!

“Kita pulang saja Gus!” rengek Miriam yang mulai hangat oleh api unggun dan geloranya yang tersembunyi. Sepertinya mencari kesempatan untuk makin mendekat dan merapatkan tubuhnya ke Gus Ahmad.

Miriam sudah tak peduli dengan komandan yang ngomel sendirian di lubang itu. Sepertinya, omelan komandan itu hanya untuk menutupi gerak tangannya yang beberapa kali memasukkan sesuatu yang berkilat-kilat ke saku celananya.

Ingin sekali ia terjemahkan sensasi-sensasi ini di ruang yang ideal. Bukan disini, dekat lubang galian yang penuh nafsu keserakahan itu. Ingin rasanya cepat-cepat pulang.

“Ah, hanya tulang!!” kata-kata itu beberapa kali terucap untuk menyempurnakan keculasannya.

“Gus, ayo pulang,” kembali Miriam merengek dan nekad memeluk punggung Gus Ahmad dan bersandar lembut di situ. Sementara Gus Ahmad yang sedari tadi meniupi bara api, kaget bukan kepalang.

Maunya menghindar, namun sudah jatuh di titik “point no return” yang sangat kuasa di saat-saat ekstrem dan soliter itu.  

Miriam merasakan sensasi-sensasi aneh yang belum dia rasakan. Bergerak-gerak liar seperti kemarin saat rapat memandangi Gus Ahmad. Sensasi-sensai itu mengalahkan kerlipan yang disaku diam-diam oleh komandan tadi. Sensasi yang mengalahkan dinginnya Cikasur beserta segala komponen kengerian lainnya.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang tercekik oleh kerapatan kabut. Ternyata ketua adat muncul sambil terseok-seok dan jatuh bergulingan di rimbun rumput.

“Kita harus balik sekarang juga!” tiba-tiba serunya.

Komandan tak peduli dengan yang ada di atas. Lubang gelap itu makin meninabobokan tangannya yang terus menerus menggali. Sambil sesekali bertindak seperti tadi ke sakunya.

“Dewi Rengganis marah!” matanya melotot ke arah Gus Ahmad dan Miriam.

“Persetan Dewi Rengganis, pulanglah kalian!!” tiba-tiba saja komandan berceletuk di kedalaman galian.

Malam itu juga, Gus Ahmad, Miriam, dan ketua adat turun kembali ke desa. Dalam perjalanan turun tersebut, kembali tasbih dan rosario kedua rohaniawan itu kembali berputar normal.

Kehangatan mengiringi keduanya yang disaksikan oleh sang ketua adat.

“Kalian tahu,………?” ketua adat membuka pembicaraan setelah agak jauh dari lokasi komandan.

“Apa, Pak?” pertanyaan itu berbarengan, sepertinya sudah kompak luar dalam.

“Aku tadi berbohong,” jawab ketua adat.

Gus Ahmad dan Miriam terbengong, apa maksudnya.

“Titik koordinat yang digali tadi hanya sebagian yang dibocorkan komandan, masih ada satu lagi di puncak Rengganis,” terang ketua adat.

“Terus, kenapa Dewi Rengganis, moyangku marah?” tanya Miriam sambil terus berjalan diantara Gus Ahmad dan ketua adat.

“Itulah bohongnya, saat ku bakar dupa, diam-diam kubuka bungkusan rapi yang dibawa oleh komandan, aku penasaran, kenapa sedari berangkat sangat menjaga sekali bungkusan itu, dan isinya….” lanjut ketua adat.

“Apa isinya?” Gus Ahmad Penasaran.

“Sebuah topeng kamuflase bermimik tengkorak warna putih dan baju tempur dengan rumbai-rumbai yang mengerikan”, jelas ketua adat.

Karena sangat tertarik penjelasan ketua adat itu, Gus Ahmad tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membalik badan. Tentu saja Miriam yang tak konsentrasi ke langkah kaki akibat menyimak penjelasan ketua adat itu, langsung saja menubruk tubuh Gus Ahmad.

Gus Ahmad terlalu sigap, Miriam yang tak goyang akibat tubrukan kecil itu, membuat tangan Gus Ahmad terlalu rajin  menahan tubuh Miriam yang empuk itu.

“Maaf, ehhh,” basa-basinya.

“iya,” balasan singkat yang kalah oleh keterpakuan itu.

Ketua adat sudah tua, tak digubrisnya momen romatis yang garing itu.

“Begini……” susah sekali ketua adat memulai penjelasannya.

“Iya , Pak lanjutkan!,” seru mereka berdua, lagi-lagi bersamaan, seperti paduan suara saja.

“Kita lanjut saja jalan saja, lebih jauh dari si bangsat itu lebih baik!” seru ketua adat yang tiba-tiba terlihat ketakutan.

Akhirnya tepat pagi hari, mereka sampai di desa. Ketua adat menjelasakan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata saat anak buah komandan disuruh kembali ke markas, ada salah satu darinya menemui ketua adat secara diam diam.

Si anak buah itu menceritakan bahwa komandan telah menyusun sebuah rencana yang tidak diketahui siapapun, kecuali oleh dirinya. Komandan akan menghabisi Gus Ahmad dan ketua adat secara diam-diam yang seolah hantu melakukannya.

Komandan akan menyisakan satu yang paling lemah mentalnya, yaitu Miriam sebagai saksi kemunculan hantu yang dibangun karakternya dari topeng kamuflase yang bermimik tengkorak denga baju rumbai-rumbai itu.

Beberapa minggu kemudian, tersiar kabar menggembirakan dan mengerikan. Yang menggembirakan, gelora asmara dan birahi Miriam telah menempati posisi ideal, entah bagaimana caranya.

Yang pasti mereka berdua sehati. Lendir-lendir basah itu menyelamatkan dari nafsu yang lebih mengerikan. Keserakahan dan vandalisme.

Mereka lebih memilih membiarkan harta karun tersebut menjadi bagian dari sejarah Kerajaan Rengganis. Biarlah hantu tengkorak putih itu menjadi legenda ke dua setelah Dewi Rengganis.