Peristiwa politik yang demikian liarnya terlihat pada momen Pilpres 2019. Ada banyak hal yang terjadi di luar pikiran sadar manusia. 

Apakah ini sebuah fenomena kesadaran baru dalam berpolitik ataukah ini semacam patologi sosial? Kalau politik telah menginfasi batas-batas kesadaran dan lemahnya imun sosial masyarakat, maka wajar bila virus-virus menyerang kesadaran kebangsaan masyarakat.

Pakar kejiwaan menerangkan bahwa sumber kewarasan manusia berasal dari alam sadar dan alam bawah sadar. Secara alamiah, alam sadar manusia memahami dan menyadari adanya perangkat norma/nilai yang membuat manusia bertindak berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akal. Kondisi sadar manusia melahirkan tindakan yang bersesuaian antara akal dan norma.

Sebaliknya, perilaku manusia yang di luar batas-batas kewarasan dengan melakukan berbagai tindakan yang bisa saja merugikan orang lain dan tindakan memaksakan keinginan. Biasanya sikap dan tindakan manusia yang didorong oleh insting dan nafsu terhadap sesuatu yang tidak proporsional.

Bila membaca fenomena pilpres dan pasca-pilpres 2019, itu menunjukkan realitas para elite politik mengalami kecenderung ketidakwarasan yang diindasi oleh sikap menolak hasil quick count, malah mendeklarasikan kemenangan berdasarkan hasil quick count versi sendiri dan tidak mempercayai kredibilitas lembaga-lembaga quick count yang independen.

Untuk memahami realitas, perlu dipahami bahwa dua hal, yakni neumenon (tak tampak) dan phenomenon (tampak). Secara gamblang dan nyata terlihat dari perilaku elite politik hanya menunjukkan fenomena fisik/luar seperti sujud syukur kemenangan setelah menolak hasil quick count, seruan people power setelah deklarasi kemenangan, dan lantunan takbir Neno Warisman yang menyerupai perayaan Idulfitri, serta bermacam perilaku yang melompat dari kewarasan.

Yang tertangkap dan terlihat di pelupuk mata hanyalah fenomena luar dari perilaku elite politik. Sebaliknya, ada hal-hal yang tak tampak (neumenon) dari perilaku yang memainkan peranan, pengaruh, dan pertimbangan dalam mengambil suatu tindakan. Terkadang sesuatu yang tampak terlihat begitu natural dan lentur tampak berurutan dan berjalan logis dari satu tindakan ke tindakan lain.

Lalu, untuk menjawab fenomena perilaku elite politik mengapa berperilaku demikian, terlebih dahulu meletakkan akar dari sumber perilaku manusia yang bersumber dari alam sadar dan alam bawah sadar. Manusia yang sadar mengambil tindakan dari akal yang telah mempertimbangkan secara matang setiap tindakan yang diambilnya.

Bagi manusia yang sadar akan senantiasa bertindak bersesuaian dengan yang terlihat, terdengar, dan terasa tidak bertentangan alias sesuai dengan kenyataan. Perilaku manusia yang sadar atau waras dapat terlihat seperti ketika melihat beling di jalan manusia pasti mengambil tindakan menghindar supaya tidak tertusuk beling. Sehingga antara yang terpikir dengan tindakan bersesuaian dengan kenyataan, mencirikan seseorang sadar atau waras.

Sebaliknya, perilaku manusia yang mencerminkan ketidakwarasan dapat terlihat dengan mengambil tindakan tidak bersesuaian dengan kenyataan. Biasanya tindakan-tindakannya disangkutpautkan dengan sesuatu yang pada dasarnya timbul dari hasrat, imajinasi, dan dorongan yang berlebihan.

Mengakibatkan perilakunya senantiasa disadarkan kepada mimpi yang besar dan menjadikan hanya dirinya seorang yang mampu serta bisa mengatasi suatu perkara. Seolah bagi seseorang yang mengalami gelaja ketidakwarasan melihat sesuatu serba kebalikan dari sesuatu, seperti kondisi aman dianggap genting, kondisi damai dianggap berbahaya, kondisi serbaadil dianggap ketidakadilan, serta berbagai kondisi pembalikan lainnya.

Singkatnya, perilaku ketidaksadaran menunjukkan ketidaksesuaian dengan kenyataan. Akibat nafsu yang berlebihan mengakibatkan perilakunya bertolak belakang dengan kenyataan. Sebab bagi yang mengalami ketidaksadaran menolak kenyataan yang ada. Seakan yang nyata apa yang dipikirkan dan diinginkannya, di luar dari itu bisa dianggap bohong dan dianggap telah menyembunyikan kebenaran.

Membedah fenomena perilaku elite politik pada pilpres 2019 yang menunjukkan perilaku ketidaksadaran. Telah menjadi common sense di kalangan publik bahwa di setiap penyelenggaraan pemilihan pasti pemenangnya hanya satu kandidat. Tetapi bila ada dua kandidat yang saling bersaing, namun dua-duanya menyatakan menang, pertanyaannya, apakah itu logis?

Perilaku menolak hasil quick count independen yang menempatkan kandidatnya berada pada posisi bawah (kalah telak), tetapi malah menerima hasil quick count versi sendiri dan menyatakan kemenangan yang disertai berbagai euforia, disertai seruan kepada rakyat untuk melakukan tindakan people power. Adakah itu menunjukkan perilaku sadar atau ketidaksadaran?

Pertanyaan selanjutnya yang mesti kita ajukan dan refleksikan terkait fenomena elite politik pada pilpres 2019, yakni apa efek dari perilaku semacam itu? Apa jadinya bila aksi-aksi perilaku elite politik ditonton oleh semua lapisan umur dan menerimanya sebagai kebenaran? 

Asumsi umum mengatakan bahwa setiap sebab akan menimbulkan akibat. Bukan fenomena perilaku elite politik pada pilpres 2019 yang mesti dicemaskan, melainkan akibat yang ditimbulkannya.

Bila fenomena elite politik telah menjalar dalam pikiran masyarakat yang meyakininya dan mengendap dalam memori alam bawah sadar. Apalagi bila perilaku-perilaku tersebut senantiasa diulang-ulang dan mengakibatkan mengikis kesadaran terhadap sesuatu yang logis dan kenyataan, dengan hal-hal yang tidak logis dan tidak bersesuaian yang sebenarnya menjadi landasan kesadaran dalam perilakunya.

Secara perlahan fenomena pilpres mengendap dalam alam bawah sadar, baik individu maupun telah menjadi common sense. Yang menjadikan fenomena perilaku tersebut menjadi patologi sosial yang mengendap dalam pikiran dan tindakan setiap individu. Akibatnya hal-hal yang sadar, logis, dan nyata tergantikan dengan hal-hal yang serba berkebalikan dari yang sadar, logis, dan nyata.

Untuk mencegah menjalar dan merambatnya fenomena elite politik menjadi patologi sosial, diperlukan dedikasi dari semua kalangan memotong pikiran-pikiran dan perilaku yang tidak mencerminkan kewarasan. Menyemai benih-benih kesadaran logis pada masyarakat menjadi sangat penting. Semua kalangan penting untuk membangun suasana yang sejuk dan sikap optimis terhadap kenyataan.

Bila upaya yang maksimal dilakukan untuk menebar benih kesadaran pada semua kalangan, maka publik akan menyuarakan politik yang berkesadaran akan menciptakan suasana yang sejuk dan membuat dinamika pertumbuhan ekonomi masyarakat kian optimis menghadapi persaingan secara luas.

Kepada elite politik yang masih belum sanggup melihat hasil perolehan suara partai atau kandidat presiden usungannya, ada baiknya merenungkan ungkapan Sigmund Freud: life is not easy, hidup ini tidak mudah, tetapi dengan sikap sadar dan waras akan membuat setidaknya lebih lapang dan mudah menerima hasil pemilu.