Akhir-akhir ini Indonesia sedang digemparkan oleh beberapa kejadian yang mencengangkan. Ada bom bunuh diri gereja Katedral, kebakaran kilang minyak di Indramayu, hingga teror ukhti-ukhti di Mabes Polri. Ketiga kejadian tersebut secara berurutan terjadi dalam tempo yang relatif berdekatan: 28, 29 dan 31 Maret 2020.

Kejadian tersebut sontak membuat media masa menjadi ramai. Berbagai pemberitaan dilakukan secara intensif. Mulai breaking news hingga liputan-liputan terkini yang terus berusaha merekam keterangan tambahan terkait kejadian tersebut.

Mengecualikan kejadian kebakaran kilang minyak di Indramayu, dua kejadian teror yang terjadi seperti membangkitkan kembali trauma lama masyarakat Indonesia. Masyarakat seperti disuguhkan kembali pada memori-meori kelam masa lalu yang mengerikan. Bom Bali, Bom Tamrin, Bom Molotov dan bom-bom lainnya. Detilnya coba lihat saja pada sejarah, semua sudah tercatat rapi. Indonesia seperti sudah akrab dengan bahan peledak seperti itu.

Namun kendati demikian, bukan berarti masyarakat Indonesia menjadi kebal dan tidak takut terhadap bom yang digalakkan oleh para teroris itu. Bagaimanapun aksi merugikan seperti itu tetap saja menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Bayang-bayang yang kedepannya selalu diharapkan agar lekas usai dan tidak akan terjadi lagi.

Menyikapi hal tersebut Presiden Joko Widodo mengambil sikap tegas. Dalam jumpa persnya beberapa waktu lalu, orang nomor satu di Indonesia itu menyampaikan bahwa Ia mengutuk keras aksi terorisme yang terjadi. Pak Jokowi juga menambahkan jika aksi terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan meminta jajaran kepolisian agar dapat sesegera mungkin mengusut sampai tuntas peristiwa ini.

Hal serupa juga disampaikan Bapak mentri agama Yaqut Cholil Qoumas. ia menyerukan agar masyarakat tidak perlu takut dan khawatir. Ia meyakinkan dengan menyampaikan satu statement penting bahwa justru ketakutan itulah yang sebenarnya diharapkan oleh para teroris agar ketertiban sosial di tengah kita mudah mereka hancur leburkan. Sehingga kekacauan yang lebih besar bisa lebih mudah mereka buat. Begitu tuturnya.

Keduanya menyampaikan pesan tersebut dengan pembawaan yang tegas dan cukup intimidatif. Hal itu tentu dimaksudkan untuk meredam kepanikan masyarakat yang mulai menyebar luas, selain sebenarnya juga untuk memberikan pengertian lebih bahwa masyarakat tidak perlu takut dalam menghadapi aksi terorisme yang terjadi, meski juga harus tetap waspada.

Pernyataan seperti itu tentu menjadi penting untuk disampaikan para petinggi negara, terlebih pada situasi genting seperti ini. Sebagai orang yang memiliki integritas lebih di mata masyarakat, pernyataan-pernyataan seperti itu menjadi sangat berharga. Setidaknya untuk memberikan suplay psikis kepada masyarakat agar mereka merasa aman sebab dilindungi pemerintah.

Bagaimanapun kejadian terorisme seperti ini memang menyisakan banyak hal pilu. Dilihat dari sudut pandang lain, misalnya, aksi pongah sekawanan teroris seperti itu sejatinya telah mempertebal stigma baru pada identias agama tertentu. Islam sebagai agama yang kerap dianggap menjadi background pelaku teror seolah turut mendapat dampak yang tidak ringan.

Ada semacam sanksi sosial yang kemudian hadir dan melekat pada jati diri Islam itu sendiri. Berbagai klaim buruk, perasangka was-was, hingga hal-hal yang bersifat miring mau tidak mau harus diterima dengan sukar hati oleh kalangan muslim. Seolah-olah narasi “Islam teroris” kini seperti bangkit lagi.

Dampaknya, masyarakat muslim harus kembali membuktikan bahwa mereka bukanlah seperti para teroris yang nekat melakukan aksi merugikan itu. Mereka harus meyakinkan bahwa tidak semua umat muslim memiliki prinsip hidup seperti itu. Termasuk mengembalikan kepercayaan dunia terhadap identitas Islam yang perlahan kini menjadi tercoreng. Seolah mereka seperti punya semacam “kewajiban” tak tertulis untuk bisa mengembalikan citra baik umat Islam itu sendiri.  

Benar kata Agus Mulyadi, “Identitas apa pun yang melekat pada pada diri seseorang sejatinya berpengaruh pada beban hidup orang lain yang kebetulan punya identitas personal yang sama.” Seperti kejadian ini, pada akhirnya mayoritas umat muslim (sebagai orang yang dianggap memiliki identitas sama dengan teroris) terpaksa menjadi korban nama baik sebab aksi merugikan itu. Benar-benar bencana yang sama sekali tidak diharapkan.

Namun terlepas dari itu semua, peristiwa ini setidaknya telah memberikan pelajaran yang berarti. Sebagai manusia yang tentunya tidak mendambakan kejadian-kejadian seperti itu terulang, sudah sepatutnya jika kita membekali diri kita masing-masing dengan ilmu dan pemahaman yang cukup. Dengan pengertian kita harus memiliki dasar-dasar agama lebih agar tidak ikut salah dalam memahami konteks narasi keagamaan.

Sebab dalam kasus ini, mengutip apa yang disampaikan Ali Imron—mantan nara pidana Bom Bali 1—kebanyakan alasan para teroris bersedia melakukan aksi terornya disebabkan karena kesalahanya dalam memahami makna jihad fi sabilillah. Mereka memahami aksi teror dengan mengebom ataupun yang lain merupakan bentuk dari praktik jihad itu sendiri, dan jihad merupakan perbuatan mulia sebab dapat mendatangkan pahala yang besar dan matinya pun tergolong syahid.

Begitulah realita yang ada. Bagaimanapun ini adalah musibah, baik atau buruknnya kedepan tinggal bagaimana kita bersikap. Meski memang patut untuk disayangkan namun alangkah lebih baiknya jika kita bersama-sama menyikapinya dengan bijak. Yang paling penting, sebagai umat beragama, kita musti sadar diri untuk selalu berada di jalur yang benar.

Mari saling menjaga dengan tidak menyakaiti satu sama lain. Dengan tidak merugikan satu sama lain. Dan mari berjihad sebagaimana semestinya, yakni dengan membentengi diri dengan ilmu yang matang agar tidak ikut keliru dalam memahami konteks keagmaan. Naudzubillah min ndalik. 

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan rahmat kasih sayang Allah. Sekian.

Wassalam.