Semua manusia pasti menginginkan kebaikan, setiap manusia pasti juga menginginkan untuk selalu terbiasa berbuat kebaikan. Bagaimanapun keadaan seseorang, bagaimanapun watak seseorang, dia pasti menginginkan kebaikan dalam dirinya dan diri orang yang berada di sekitarnya. 

Saya kira, konsep ingin dipandang baik dan ingin dipandang bagus sudah tertanam didiri setiap manusia, walaupun pada kenyataannya tidak semua manusia bisa merealisasikan konsep ini pada kehidupan mereka. 

Demikian pula, setiap manusia saya kira pasti ingin terbiasa dalam kebaikan, walaupun mereka hidup dalam lingkungan yang dipenuhi dengan keburukan dan kejahatan. Saya yakin anak pencuri tidak selamanya ingin menjadi pencuri, walaupun dia besar di dalam lingkungan yang dipenuhi atau bahkan dipimpin oleh pencuri. 

Dari dua konsep di atas saya berpikir satu hal yang saling berkaitan satu sama lain, apakah kita harus memperbaiki kebiasaan atau membiasakan kebaikan?. Dua hal ini sama-sama benar adanya dan sama-sama benar untuk dilakukan. 

Untuk lebih menyederhanakan dua konsep ini, saya ingin menganalogikan kepada sesuatu yang mudah untuk dipahami. Seorang siswa yang selalu lupa untuk membawa buku pelajaran ketika berangkat sekolah, lalu gurunya pun menasihati siswa tersebut dengan berkata "lain kali bawa bukunya ya, sudah berapa kali saya mengingatkan kamu". 

Dari nasihat yang diberikan guru ini, kiranya apa upaya yang ingin disampaikan guru ini kepada murid tersebut, sang guru ingin murid tersebut memperbaiki kebiasaannya yang selalu lupa membawa buku, atau menyuruh siswa tersebut membiasakan kebiasaan membawa buku yang mana kebiasaan ini adalah suatu kebiasaan yang baik. 

Untuk menambah tajam pemahaman kita atas analogi tersebut, saya mencoba mengulas satu per satu dengan mengemukakan beberapa fenomena yang berkaitan dengan ulasan tersebut. 

Membiasakan kebaikan, titik berat dari kalimat ini adalah membiasakan, dari kalimat ini kiranya ada satu pemahaman yang kita raih, membiasakan kebaikan adalah upaya diri untuk selalu menjadikan kebaikan di depan kita atau kebaikan yang kita ketahui sebagai kebiasaan atau habit. 

Konsep ini didukung dengan pernyataan jikalau kamu ingin menjadi orang baik, maka kamu harus terbiasa untuk berbuat kebaikan, karena predikat baik ini ditujukan kepada seseorang yang terlihat kebaikannya. 

Tetapi ada hal yang membingungkan saya lagi, seorang pencuri akan dipandang baik di hadapan pencuri yang lain bukan, atau seorang pencuri akan dipandang baik oleh keluarganya yang hidup dari penghasilan dari mencuri. Apakah di sini mencuri adalah kebaikan yang terus dibiasakan sehingga pencuri ini dianggap orang baik, sekurang-kurangnya oleh orang disekitarnya. 

Saya mendapat jawaban yang cukup memuaskan dari salah satu dosen saya, beliau mengatakan bahwa kebaikan itu memang bersifat relatif, artinya setiap orang berhak mengklaim dirinya benar atau baik, akan tetapi ada kebaikan yang bersifat mutlak adanya karena disetujui oleh siapa pun, baik berTuhan ataupun tidak dirinya. Satu contoh sederhana, menolong sesama merupakan kebaikan yang disetujui setiap orang tidak mungkin diperdebatkan lagi kemutlakan darinya. 

Ketika kebaikan yang bersifat relatif itu pun bisa saja berubah menjadi mutlak, maka seperti itu juga keburukan atau kejahatan. Saya rasa semua orang akan mengatakan bahwa mencuri itu adalah buruk, walaupun dia seorang pencuri. Saya yakin dalam diri pencuri pasti menyadari bahwa mencuri adalah hal yang buruk, akan tetapi karena keterpaksaan yang dialaminya, maka dikesampingkan lah rasa itu. 

Saya kira ini dapat menjawab pertanyaan saya tadi, bahwa pencuri tidak merasa bahwa mencuri adalah kebiasaan baik, akan tetapi keterpaksaan lah yang membuat mereka selalu membiasakan kebiasaan buruk ini. 

Memperbaiki kebiasaan, titik berat dari konsep ini adalah memperbaiki, satu pemahaman sederhana yang kita dapatkan adalah memperbaiki kebiasaan merupakan upaya untuk mengubah kebiasaan yang sudah ada dalam diri ke arah yang lebih baik. 

Artinya hal kebiasaan ini sudah ada dalam diri kita, tetapi kita ingin meningkatkan kepada hal yang lebih baik, berbeda dengan konsep awal yang memasukkan sesuatu hal yang baru untuk dijadikan kebiasaan. 

Hal ini didukung dengan satu pepatah Arab yang berbunyi perbaikilah dirimu maka orang lain akan berbuat baik kepadamu. Saya kira tidak berlebihan jika kita maknai pepatah tersebut dengan perbaikilah kebiasaan mu maka orang lain akan terbiasa berbuat baik kepadamu. 

Dari penjelasan tentang memperbaiki kebiasaan di atas, ada satu fenomena yang ingin saya sampaikan sebagai penjelas dari konsep memperbaiki kebiasaan. 

Sebagai mahasiswa yang  juga pengajar di pondok pesantren, saya memahami betul bahwa di beberapa pondok pesantren ada yang menekankan tentang penggunaan bahasa resmi/ asing dalam setiap percakapan sehari-hari, termasuk pondok saya. 

Akan tetapi ada kendala yang sangat umum dirasakan, yaitu susahnya mengatur dan mendisiplinkan semua santri untuk berbahasa resmi setiap hari. Pertanyaan saya mengapa hal itu bisa terjadi. 

Pertama, marilah kita telaah konsep dari perintah berbahasa resmi ini dalam kehidupan santri, ketika mereka masih duduk di ranah santri baru, konsep yang diberikan adalah membiasakan kebaikan, karena hal ini berkaitan dengan memberikan kebiasaan baru bagi mereka. 

Setelah beberapa tahun, mereka pun menjadi santri lama, ketika mereka sudah ada di ranah ini seharusnya kebaikan yang disampaikan kepada mereka pada saat santri baru sudah menjadi kebiasaan, jadi saat mereka sampai di ranah santri lama, konsep yang diberlakukan adalah memperbaiki kebiasaan dalam artian meningkatkan kebiasaan yang sudah ada. 

tetapi pada nyatanya, mereka belum menjadikan kewajiban berbahasa itu sebagai kebiasaan, sehingga ketika mereka sampai pada ranah memperbaiki kebiasaan, mereka bingung apa yang harus diperbaiki, karena kebingungan mereka inilah terjadi penyelewengan atas kewajiban untuk memakai bahasa resmi. 

Dengan segala paparan yang saya tulis sebelumnya, maka saya kembalikan jawaban dari analogi pertama saya kepada pembaca, apakah guru tadi menyuruh siswanya untuk membiasakan kebaikan atau memperbaiki kebiasaan. 

Tulisan ini penuh dengan opini pribadi saya, oleh karena itu, saya menyadari betul bahwa pasti ada beberapa orang yang tidak sepemikiran dengan saya, karena saya bukanlah seorang ilmuwan yang memberikan suatu pengertian terhadap sesuatu, lalu diajarkan kepada khalayak ramai melalui buku media lainnya. 

Syukron