Aku masih terngiang-ngiang bacaan tadi malam. Sebuah buku tentang falsafah dan petuah Jawa. Kuakui dengan sejujurnya, tak lebih banyak yang kuketahui dari budaya Jawa. Meskipun aku terlahir dari kedua orang tua yang nJawani. Eits, aku tidak berhenti belajar untuk tahu walaupun sedikit demi sedikit.

Sebelum menjelaskan tentang tulisan yang berhasil menarik perhatianku itu, aku ingin bercerita sedikit. Tentang penggunaan "aku" dan "saya" dalam tiap tulisan coba-coba di Qureta ini.

Penyebutan "aku" adalah bentuk ketidakinginan ada jarak antara si penulis ini dan pembaca. Aku selalu ingin akrab dengan pembacaku. Dan, ini tulisan santai-santai saja (informal). Tidak melulu seperti di lembaga formal.

Yang namanya "jarak" selalu menciptakan perbedaan ruang dan berujung menyakitkan, apalagi jarak pada Long Distance Relationship (LDR), hehe

Tulisan sebagai sarana untuk saling sapa ketika lisan tak mampu terucap. Maka itu, komunikasi bukan hanya bentuk bunyi. Aku selalu ingin dekat dengan kalian meskipun tanpa bunyi yang terdengar dari suaraku.

Lagi pula, untuk sebuah tulisan coba-coba dan penuh kesubjektivitasan seperti ini, rasanya terlalu "kurang ajar" bagiku untuk merasa sok tahu. Pembaca adalah sahabat dan "kita" telah menjalin persahabatan melalui interaksi tulis-baca ini. Semoga saja demikian.

Lalu "saya"?

Bukan berarti ini beralih menggurui. Beberapa tulisan yang "sedikit" formal rasanya harus menghormati aturan yang formal pula. Dan, aku jarang menulis dalam bentuk formal. Kenapa? Aku lebih suka segala sesuatu yang santai dan tak "terikat" aturan.

Hm, lanjut kepada topik awal. Tulisan yang membuatku tercenung kurang-lebih intinya begini: Siapa aku?; Hidup untuk apa?; Apa yang kucari?

Nah, cukup tiga pertanyaan untuk membuat pusing kepala. Sebenarnya, aku juga tak terlalu memperdalam falsafah dan petuah-petuah. Aku lebih suka langsung "aksi" tanpa basa-basi.

Ya, sekadar membaca untuk menambah pengetahuan kupikir tidak ada salahnya. Aku terlanjur berasumsi bahwa rasanya tidak terlalu kasar jika aku mengatakan falsafah sebagai "basa-basi". Kenapa? Karena segudang kata pelipur lara ketika duka sedang menyapa itu tiada gunanya. Tidak bakal mempan istilah kasarnya.

Misalnya gini, ketika aku patah hati. Lalu, aku mencari falsafah untuk menenangkan hatiku di buku-buku atau mesin pencari Google. Ada respons yang muncul: Ketika hatimu dipatahkan oleh seseorang, itu artinya dia bukan yang terbaik untukmu.

Dari falsafah tersebut, tidak bisa dikatakan salah. Tapi, pas hati sakit, kecewa, marah, dan segala campurannya; wejangan tadi tidak ada gunanya. Aku masih tetap patah hati tuh, tidak serta-merta sembuh dengan alasan 'dia bukan yang terbaik untukku'. Faktanya memang gini. Iya toh?

Maaf ya, aku ambil contohnya tentang percintaan. Karena memang persoalan cinta dan perasaan paling rumit dan tak mudah dimengerti.

Anggapanku mengenai falsafah tidak sepenuhnya benar. Ya, namanya manusia. Benar dan salah melekat pada makhluk yang "katanya" punya pikiran dan hati ini. Uniknya, kategori tersebut hanya bisa ditemukan orang lain. Orang lain paling tahu letak kebenaran dan kesalahan orang lain, tanpa melihat diri sendiri, hehe.

Ternyata semua falsafah dan petuah tidak bisa dipukul rata. Ada falsafah yang menciptakan perenungan tersendiri untukku. Ini pun bukan sebagai penilaian terhadap orang lain, aku berusaha menilai diriku dulu.

Mengutip KBBI via daring, falsafah yakni anggapan, gagasan, dan sikap batin yang paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat; pandangan hidup. Sedangkan petuah adalah keputusan atau pendapat; fatwa; pelajaran (nasihat) yang baik. Jadi, falsafah dan petuah adalah serangkaian wejangan yang mengarah kepada kebaikan.

Siapa aku?

Ya, langsung kebingungan aku ditanyai "siapa" diri sendiri. Ternyata aku sendiri mengenal diriku tak lebih dari sekadar nama. Jadi, aku sering heran terhadap orang lain yang lebih bisa menjelaskan "siapa" orang lain, daripada diri sendiri. Apakah yakin sudah seperti yang disebutkan?

Belum tentu. Bisa jadi pun kita hanya mengenal orang lain sebatas nama. Ini berarti, kita tak boleh sembarangan dan "kurang ajar" menilai orang lain.

Dengan adanya pertanyaan sederhana nan dua suku kata tersebut, maka terbentuklah upaya mencari jawaban. Proses ini menjadi amat panjang meskipun pertanyaannya sangat singkat. Karena akan memutar ulang memori ingatan dari waktu ke waktu.

Sungguh luar biasa upaya mengenal diri sendiri. Tiada terduga sebelumnya jika pertanyaan paling susah di dunia ini adalah mengenai diri sendiri. Bagiku demikian.

Dari proses membongkar lagi ingatan yang sudah bersawang dan berdebu, tidak juga ditemukan jawabannya. Yang kulakukan hanya menertawai diri sendiri. Tak habis pikir, bagaimana orang lain bisa secepat itu mendeskripsikan diriku? Sedangkan aku kesulitan seperti ini hanya untuk berkenalan dengan "aku".

Memaksa mencari jawaban tidak akan berpengaruh lebih besar selain kesia-siaan. Konon katanya, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan membawa pada kebaikan. Alih-alih menemukan jawaban, justru menambah tekanan terhadap diri. Sebaiknya woles saja dulu, nanti juga akan tahu sendiri jati diri yang sejati.

Hidup untuk apa?

Untuk apa sih tiap hari bernapas? Rasanya ini juga bukan pertanyaan "biasa". Pertanyaan mendasar justru paling susah dicari jawabannya. Dan, uniknya itu berkaitan dengan diri sendiri.

"Mencari" diri sendiri saja susah, seharusnya "mencari" orang lain lebih susah. Seharusnya memang begitu, tapi kenyataannya apa? Ya, inilah ironisnya hidup.

Jawaban dari diriku sendiri saat ini adalah hidup untuk berguna bagi orang lain. Nah, timbul lagi pertanyaan baru, "Berguna yang bagaimana?"

Sudah. Begitu terus; ular-mengular pertanyaan demi pertanyaan. Tapi, tak apa-apa. Karena demikian rasa penasaran kita akan memantik kerinduan untuk "berdua" saja dengan diri sendiri. Untuk apa? Untuk mencari jawaban atas falsafah dan petuah yang tidak sepenuhnya seperti yang kuasumsikan.

Apa yang kucari?

Banyak hal yang kucari. Salah satu paling prioritas adalah segala hal tentang kebahagiaan. Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua orang ingin.

Hanya saja, bukan melulu bahagia yang menghampiri. Untuk itu, yang kucari tidak selalu berujung temu. Muncullah masalah baru, ketika keinginan tak terpenuhi, aku harus bagaimana?

Perlahan, aku memahami bahwa masalah yang timbul dari pertanyaan menuntut mencari penyelesaian. Hikmahnya, tidak setiap pertanyaan menghasilkan jawaban; terkadang juga menimbulkan masalah baru.

Jadi, dari ketiga pertanyaan yang berhasil mencuri perhatianku itu, dapat diketahui bahwa diri sendiri tidaklah sederhana. Ternyata aku belum "kenal" dengan diriku sendiri. Rasanya tidak mungkin aku lebih mengenal orang lain, apalagi terlalu fasih mendeskripsikannya.

Berasumsi juga tidak selalu baik. Nyatanya falsafah dan petuah hidup dari orang terdahulu sangatlah berguna untuk kehidupan kita. Hanya saja waktunya mungkin kurang pas.

Misalnya, jangan menasihati orang yang sedang patah hati dengan kata-kata terlalu muluk-muluk. Meskipun yang diucapkan itu benar adanya. Sebaiknya jangan.

Kenapa?

Karena harus melihat situasi dan kondisi untuk melihat nilai guna suatu hal. Seorang yang patah hati hanya butuh didengarkan keluh kesahnya, bukan wejangan yang malah membuatnya semakin terpuruk. Dia akan paham nilai guna wejangan saat patah hatinya sudah pulih kembali.

Seiring berlalunya waktu, ada banyak kejadian yang akhirnya menjawab ketiga pertanyaan di atas. Pasti ada jawabannya. Kenapa tidak ditemukan jawaban secara instan? Iya, untuk membentuk kedewasaan orang-orang yang mau berpikir.

Sebab ini kehidupan, bukan mie instan yang bisa cepat saji begitu saja.

Rujukan:

Krishna, Anand. 2012. Javanese Wisdom. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.