Penulis
4 minggu lalu · 794 view · 3 min baca · Keluarga 74892_36146.jpg
Foto: Brilio

Membesarkan Anak Tak Semudah Membuatnya

Setiap kita pernah menjadi anak dan merasakan pengalaman yang berbeda ketika masih kanak-kanak. Beberapa dari kita malah sudah beranak, bahkan anaknya sudah memiliki anak (cucu). Namun seberapa peduli kita pada anak? 

Ada yang mengatakan: "buat anak sih gampang,, tapi jaganya itu yang tak gampang." Ungkapan itu ada benarnya.

Faktanya, anak-anak masih dalam ancaman predator seksual, stunting, kekerasan fisik, bahkan korban bullying. Fakta lainnya, dominasi kejahatan terhadap anak-anak dilakukan manusia dewasa, manusia yang harusnya menjaga anak-anak. Mirisnya lagi, pelaku kejahatan terkadang orang terdekat, termasuk ayah atau abang kandung.

Karenanya, negara harus lebih kerja keras. Jangan anggap remeh kejahatan terhadap anak. Keseriusan harus segera dibuktikan. Tidak cukup sebatas janji-janji, sementara anak-anak korban kejahatan terus bertambah. Upaya pencegahan sangat minim bahkan bisa dikatakan nirusaha. 

Kalaupun sudah belum maksimal, pencegahan kekerasan terhadap anak baik fisik maupun seksual belum bisa dikatakan berjalan. Karena faktanya, kekerasan masih terjadi di institusi pendidikan. 

Pertanda ruang publik belum aman bagi anak-anak. Teror yang dibiarkan terjadi. Seolah negara absen di sana. Belum lagi kasus kekerasan yang terjadi di rumah tangga. Lalu usaha yang sudah dilakukan untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi apa?

Anak-anak kerap diabaikan dalam regulasi kita. Semua baru bicara anak-anak ketika sudah ada korban. Merasa prihatinlah, mengutuk pelaku, dan ucapan politis lainnya. Dan semua itu tak berguna bagi anak-anak yang telah menjadi korban.

Bahkan baru-baru ini pelaku kejahatan terhadap anak malah diberi keringanan hukuman. Sebuah kemunduran dalam penegakan hukum. Padahal kita ingin pelaku kejahatan terhadap anak berkurang. 

Kenyataan itu hendaknya memberi satu tekad kepada para orang tua. Jangan terlalu berharap pada negara yang hanya sibuk mengurus politik. Seolah-olah demokrasi hanya milik manusia dewasa; anak-anak hanya objek dalam demokrasi.

Para orang tua harus memiliki semangat menjaga anak sebagaimana mereka membuatnya. Hebat di atas ranjang harus sejalan dengan hebat menjaga anak. Menjaga anak tak semudah memasukkan sperma ke dalam vagina. 

Benar bahwa anak butuh materi, namun ada yang lebih penting dari itu. Pertumbuhan jiwa dan fisik serta otak anak hal penting yang sering terlupakan. Padahal ketiganya menentukan masa depan seorang anak.

Mereka harus memiliki fisik yang kuat. Memiliki gizi yang cukup sehingga terhindar dari stunting. Selain itu, jiwa mereka harus merdeka sehingga mampu berpikir kritis. Ditopang dengan otak yang terus berkembang.

Kita saksikan bersama, kerap kali anak-anak menjadi 'korban' kelalaian orang tua mereka. Mulai gizi yang tak cukup, jiwa yang terabaikan, dan otak yang tak dilatih. Dalam beberapa kasus, anak-anak mendapatkan gizi yang cukup, namun kekurangan sentuhan jiwa orang tua. 

Anak-anak lebih difokuskan menghafal ketimbang diajarkan nilai-nilai kebaikan. Terkadang masa bermain mereka hilang karena keegoisan para orang tua. Para orang tua menuntut berlebihan, mereka harus menjadi seperti yang diinginkan orang tua.

Cita-cita mereka disesuaikan dengan selera orang tua bukan sesuai bakat mereka. Anak-anak tak ubahnya robot yang diprogram para orang tua. Akibatnya mereka begitu mudah menjadi korban kekerasan seksual maupun pelecehan tanpa berani melaporkan.

Intelektual mereka tidak berkembang sebagaimana harusnya. Bagi saya, ini ancaman masa depan bangsa. Di era kompetitif, harusnya intelektual anak berkembang dengan baik. 

Lalu apa yang bisa dilakukan para orang tua, masyarakat, maupun negara? Rumah tangga sebagai institusi pendidikan pertama memiliki peran penting. Para orang tua harus menjadi guru pertama bagi anak-anak. Masyarakat mesti memastikan ruang publik aman bagi anak-anak.

Pemerintah harus tegas terhadap pelaku kejahatan terhadap anak, tanpa melupakan aspek pencegahan. Jika ada densus teror mengapa tidak dibentuk pula densus anak-anak. 

Densus itu nantinya akan mengawasi para predator seksual anak maupun kejahatan terhadap anak lainnya. Selama ini selalu menunggu korban melaporkan baru diambil tindakan. Harus diubah pola pendekatan dalam memberantas kejahatan terhadap anak.

Pemerintah juga harus memastikan anak-anak yang dibebani kasus perceraian orang tua maupun poligami, mendapatkan haknya. Regulasi ini penting disusun dan dilaksanakan. Anak-anak yang tidak mendapatkan nafkah dari orang tuanya karena perceraian atau poligami harus mendapatkan haknya.

Jika hak-hak mereka tidak diberikan karena orang tua bercerai atau poligami, pemerintah wajib menghukum para orang tua. Biasanya seorang ibu terpaksa membesarkan anaknya tanpa nafkah dari mantan suami yang menikah lagi.

Saya kira ini salah satu kejahatan kelamin. Masih marak terjadi dan anak menjadi korban utama. Jokowi harus tegas, tidak boleh ada toleransi untuk penjahat kelamin. Jangan dibiarkan, seolah-olah kawin hanya soal ranjang.

Tanggung jawab itu yang sering diabaikan si tukang kawin. Anehnya pemerintah mendiamkan praktik tersebut. Sekali lagi, keegoisan para manusia dewasa telah menyebabkan anak-anak telantar. Kalau hanya soal memasukan sperma ke vagina, saya kira remaja baru puber pun bisa.

Satu hal yang harus terpatri dalam diri manusia dewasa, membesarkan anak itu tak semudah membuatnya!

Artikel Terkait