24603_45459.jpg
Cerpen · 4 menit baca

Memberi Nama Anak Laki-Laki

Erul biasa ia di panggil. Saat itu sedang bingung – bingungnya untuk memberi nama anak laki – lakinya yang baru lahir. Ia sempat mengubungiku, meminta saran nama anak yang hendak ia beri untuk anaknya. Terus terang aku bingung, ini baru pertama kali aku dalam situasi seperti ini.

Memang saat kami masih kuliah di kampus yang sama, kami sering kali menghabiskan waktu di warung kopi sambil bercerita tentang apa saja sembari menunggu maghrib datang. Ia begitu antusias ketika topik pembicaraan seputar Filsafat. Entahlah topik Filsafat memang mempunyai daya tarik tersendiri bagi Erul. Ia bukan mahasiswa jurusan Filsafat begitupun denganku, kami sama – sama mahasiswa Ekonomi yang kebetulan begitu tertarik dengan Filsafat.

Pernah suatu ketika saat Erul coba bertanya tentang nama anak laki – laki jika kami sudah menikah nanti. Erul bilang “Suatu saat kalau aku punya anak laki – laki akan aku beri nama Rausyan Fikr” aku diam saja tak menghiraukan apa yang ia bicarakan. Aku pun tak begitu tahu apa dan siapa itu Rausyan Fikr. Tapi kayaknya keren juga itu nama. Aku tidak menanyakan langsung artinya, cuma mengangguk – angguk saja ketika Erul berbicara.

Kami memang gemar menghabiskan waktu ngopi berdua di pinggir sungai belakang Kampus UMM, selain murah dan suasanya yang enak membuat kami betah berlamaan di sana. Erul sangat suka mengajak ngobrol ibu penjual kopi dan gorengan disana. Sesekali ia bertanya perihal nama yang cocok untuk anak laki – laki pada ibu penjual gorengan.

“Bu, kira – kira kalau anak laki – laki cocok di beri nama apa?”

Opo to le, kamu itu masih kuliah. Jangan mikir yang jauh – jauh deh” Jawab ibu penjual gorengan.

“Bukan begitu bu, cuma jadi refrensi nanti kalau aku punya anak laki – laki”

“Refrensi – refrensi opo maneh le. Memangnya, kamu sudah punya calon opo ora?” Ibu penjual gorengan tetap tidak mau menjawab yang tanyakan Erul

Ibu penjual gorengan memang pandai membuat Erul kesel. Ia tampak tak menghiraukan apa yang dikatakan Erul. Memang benar kata Ibu penjual gorengan, kita terlalu jauh dalam berpikir tentang hal – hal yang tidak berguna sekalipun.

Aku coba nimbrung dalam pembicaraan mereka “Kasih nama yang ada Muhammad nya saja Rul. Misalnya, Muhammad Aris Totalian, atau Muhammad Thegreat” Cetusku sambil cengengesan.

Tiba – tiba ibu penjual gorengan merespon apa yang aku ucapkan “Iki opo maneh, kalau kasih nama itu yang apik, artinya juga apik biar kelak sesuai dengan namanya. Totalian opo, memangnya mau notal kasih nama Totalian”

Ibu penjual gorengan memang lucu dan suka melucu pada kami, ia tak keberatan di ajak obrol apa saja oleh kami terutama Erul. Ia suka sekali bercerita tentang putrinya yang dapat beasiswa kuliah di perguruan tinggi Negeri di Jogja, entahlah dapat beasiswa dari jalur apa yang pasti Ibu penjual gorengan sangat bersyukur.

Ibu penjual gorengan memang tak bisa memberi banyak pada putrinya, kalau ia dapat untung lumayan dari hasil jualan kopi dan gorengan ia sisipkan untuk di tabung kalau sudah kiranya cukup akan dikirim ke putrinya meskipun putrinya tak pernah meminta karena ia sudah mandiri dan punya pekerjaan paruh waktu di Jogja sana. Intinya ia memang ingin sekali memberi walaupun sedikit.

Pernah suatu hari putri Ibu penjual Gorengan pulang dan ikut ibunya jualan kopi dan gorengan, saat itu kebetulan kami sedang ada di tempat. Setelah kami pesen dua gelas kopi hitam dan beberapa gorengan kami duduk di tempat biasa kami duduk. Sebelum pesanan kami datang biasanya kami membaca buku. Saat itu buku yang di bawa Erul bukunya Ahmad Norma Seni, Politik, Pemberontakan buku yang memaparkan pemikiran – pemikiran tentang dunia seni di awal abad ke-20 hingga pascaperang dunia kedua dari Albert Camus dkk.

Tak lama berselang, yang melayani kami bukan Ibu penjual gorengan sendiri tapi putrinya, terus terang kami kaget selama ngopi disana tak pernah sekalipun kami dilayani oleh wanita ini. kamipun baru pertama kali melihat putrinya walaupun Ibu sering bercerita. “Monggo Mas kopinya” Ia mempersilahkan kami.

“Makasih mba, tumben aku lihat” Jawab Erul.

“Iya Mas, baru bisa pulang jenguk Ibu, maklum sedang sibuknya sama tugas kuliah. Ini saja untung bisa pulang satu minggu” Terangnya.

“Ambil jurusan apa” tanya Erul lagi

“Aku ngambil jurusan pendidikan Seni Rupa, Mas”

“Seni?” Kata Erul mempetegas ucapannya

“Iya Mas, memangnya kenapa”

“Wah kalau soal seni, aku paling Cuma tahu Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso Dan Vincent van Gogh, Masaccio, Titian, Giotto Di Bonde” ucap Erul sok merendah.

“Hehe iya Mas, memangnya sampean jurusan apa Mas?”

“Jurusan Ekonomi Pembangunan, Dik!”

“Oalaaaah, kirain jurusan Seni Rupa juga” Jawabnya keheranan

Aku diam dan menyibukkan diri tidak mau ikut dalam pembicaraan mereka. Kubiarkan Erul melayangkan rayuannya pada Putri penjual gorengan. Aku akui ia tidak cantik tapi manis dan cukup berwawasan ketika Erul coba mengajaknya berbicara tentang seni dan Filsafat. Sepertinya Erul mulai tertarik padanya.

“Dik, kira – kira nama yang cocok untuk anak laki – laki apa?” lagi – lagi Erul melontarkan pertanyaan yang sama pada orang yang baru dikenalnya.

“Lho kok tiba – tiba tanya begitu Mas?” Jawab

“Cuma ingin tahu saja, dik.”

“Aku belum kepikiran sih Mas. Kasih nama Vincent van Gogh, Pablo Picasso atau Davinci saja Mas” Jawabnya sambil tersenyum sumbringah.

Aku tertawa saja mendengar ia menjawab seperti. Erul pun ikut tertawa dan ia pun ikut tertawa bareng kami.

Sebelum kami pulang, kamipun berkenalan walaupun tadi sempat ngobrol panjang lebar seperti orang yang sudah lama kenal tetapi kami belum tahu namanya. Ternyata namanya Laily Rahmawati, ia di panggil Leli.

Setelah kami membayar Leli balik ke tempat Ibunya dan Erul terlihat agak berbeda dari biasanya, rupanya Erul benar – benar tertarik padanya. Erul menyempatkan untuk menghampirinya kembali dan meminta nomor Hand phone nya.

Pasca kejadian itu Erul semakin intens berkomunikasi dengan Leli hingga akhirnya mereka berjodoh dan saat ini Erul sedang bingung karena dia akan mempunyai anak laki – laki. Bingung akan memberi nama apa, akhirnya di mengubungiku dan aku dengan sedikit bercanda memberi ia saran untuk memberi nama anaknya “Anwar Sadat, Muammar Al – Khadafi atau Husni Mubarok” kataku sedikit tertawa.