Sebelum kejadian bom di gereja Oikumene Samarinda yang menelan korban jiwa seorang anak, di Medan, ada kejadian aksi terorisme yang cukup menyita perhatian. Pelaku bom Samarinda, merupakan eks terpidana kejahatan terorisme dan diduga aktif dalam jaringan terorisme yang masih ada di tanah air. Beda dengan IAH (17), seorang pemula yang mencoba beraksi, dan untunglah ketika itu masih bisa dicegah.

Sulit dipercaya, IAH (17), tersangka pelaku teror bom di Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph, Medan, Sumatera Utara, tanpa merasa takut, bisa merencanakan dan melakukan teror demikian. Meski tidak berhasil mewujudkan apa yang sebelumnya diniatkannya karena aksinya segera digagalkan oleh jemaat, namun tidak kurang seorang pastor ( imam katolik) sempat terluka oleh pisau dapur yang juga sudah dipersiapkan oleh pelaku sebelumnya.

Berdasarkan pengakuannya kepada petugas, ia melakukan aksi itu lantaran disuruh oleh seseorang yang tidak ia kenal dan juga diiming-imingi uang. Namun, ada kesulitan mencerna pengakuan demikian, sebab untuk apa lagi uang bagi pelaku, jika toh ia harus mati bunuh diri?

Dalam keterangan selanjutnya, yang bersangkutan mengatakan belajar dan terinspirasi terorisme dan kelompok garis keras dari internet. Ia juga bahkan belajar merangkai bom dari internet. Menurut penjelasan Kepala BIN, Sutiyoso, IAH memang mengidolakan ISIS, namun hubungan pria 17 tahun itu dengan ISIS masih hanya sebatas simpatisan, bukan jaringan. Di ransel si pelaku ada gambar ISIS, ada tulisan ' I Love Al-Baghdadi'.

Wajah sepolos itu dengan usianya yang masih muda itu terinspirasi dengan tindakan terorisme serta pemimpin teroris, kok bisa?

Tindakan yang bersangkutan tentu tidak mewakili  pemahaman siapapun yang masih bisa menggunakan akal sehat. Namun apa yang dilakukan oleh yang bersangkutan, tidak kurang membuat kita bertanya, kenapa ada orang yang mau melakukan tindakan demikian? Mengapa ada banyak orang yang bersedia menjadi korban dan dikorbankan, serta membuat banyak orang lain menjadi korban  demi melakukan apa yang diyakini oleh orang lain?

Mengapa calon-calon korban ini  tidak pernah bertanya, mengapa harus menyuruh dirinya dan orang lain? Kenapa bukan mereka yang melakukannya sendiri? Andai tindakan itu benar akan mendapatkan seperti apa yang dijanjikan, mengapa  bukan mereka yang mengambil kesempatan itu  duluan? Mengapa harus menyuruh orang lain?

Banyak hal yang mempengaruhi seseorang sehingga  menerima sesuatu tanpa melalui proses nalar yang baik atau akal sehat. Di sinilah  pentingnya pengetahuan. Pengetahuan akan membuat orang menjadi cerdas. Cerdas untuk menilai, menimbang, menerima, dan memutuskan, serta melakukan sesuatu hal, termasuk paham atau pemikiran.

Pengetahuan ini tentu harus dibingkai oleh kebenaran, dan tentu kebenaran yang sifatnya universal bukan parsial. Karena apa yang benar pada sekelompok orang bisa jadi tidak demikian pada kelompok lain.

Di sinilah diperlukan kecerdasan sosial, ketika kita hidup bersama dalam satu lingkungan, wilayah, negara, dan dunia yang lebih luas. Kecerdasan ini tidak datang dan terjadi begitu saja, itu peroleh dari pendidikan atau pengajaran. Pengalaman melalui interaksi sosial dan juga warisan budaya, tradisi leluhur yang diturunkan dan masih dilakoni.

Pengetahuan inilah yang membentuk seseorang dan menjadikannya cerdas, termasuk dalam kehidupan sosial yang sudah pasti menuntut kecerdasan.

Dalam konteks IAH, Ini sebenarnya persoalan kita semua, bukan hanya seorang IAH. Ia hanya korban, korban dari kesalahan banyak hal, yang pada akhirnya telah membentuk yang bersangkutan memiliki suatu konsep berpikir yang demikian. Itulah yang diketahuinya, itulah yang diyakininya dan itu juga kemudian yang dilakukannya.

Pertama; kita masih belum sepakat tentang apa  itu terorisme. Bahkan, pada satu atau beberapa peristiwa teror, secara terselubung masih ada pihak-pihak yang berupaya melakukan pembenaran atas tindakan si pelaku. Ada yang menyebutnya sebagai konspirasi pihak tertentu untuk suatu maksud. Dan biasanya, tindakan tegas dan keras yang dilakukan oleh aparat terhadap para pelaku mendapat protes keras dari kelompok ini. 

Kita bisa melihat kebenaran parsial yang hendak dipaksakan, layaknya kebenaran universal yang harus diterima oleh satu masyarakat sosial. Meski tidak ikut serta, namun protes mereka akibat penindakan oleh negara merupakan wujud persetujuan mereka terhadap aksi si pelaku.

Tentu ini menjadi masalah dalam suatu relasi sosial. Bahkan kehadiran negara dalam menindaknya sering kali dicurigai, padahal justru negara tidak boleh absen dalam situasi demikian, ketika ada nilai parsial yang hendak dipaksakan melalui tindak kekerasan, maka negara harus bertindak mencegah dan mengatasinya.

Seandainya kita  sebagai satu kesatuan sosial bisa menghentikan terorisme, tentu negara melalui aparatnya berupa Densus 88, BIN, Polri dlsb, tidak perlu turun tangan dan melakukan tindakan represif terhadap aksi terorisme. Namun karena kita ternyata tidak mampu, lalu siapa yang akan menindak dan menghentikannya?

Apa harus kita biarkan merajalela? Seperti teriakan mereka yang menuntut Densus 88 dibubarkan. Lalu siapa yang akan menangani terorisme? Jika mereka bisa mencegah dan menghentikannya, tentu Densus 88 tidak akan pernah ada dan diadakan.

Bahkan, sering kali mereka yang bersuara keras menentang tindakan Densus 88 justru belum berbuat apa-apa untuk menghentikan terorisme. Tentu, kita tidak memerlukan Densus 88, andai kita sebagai kesatuan sosial, mampu memberantas dan menutup pintu bagi para pelaku teror.

Andai mereka tidak lagi mendapat tempat, tidak lagi menemukan kesempatan, tidak lagi memperoleh simpati, tidak ada lagi yang membela,  tentu mereka tidak akan pernah berpikir untuk ada dan melakukan aksinya di sini.

Berikutnya; masih banyaknya berkeliaran konten yang bermuatan terorisme di internet, dan bisa diakses dengan bebas. Sebagaimana pengakuan si pelaku yang belajar merangkai bom lewat internet,dan juga terinspirasi oleh Al Baghdadi lewat internet.

Apa yang salah dengan kominfo, Intelijen? Hal ini menjadikan banyak orang seperti IAH menjadi mangsa empuk, juga mereka-mereka yang labil dan tidak cukup mampu menggunakan akal sehat dalam memilah-milah informasi akan menjadi korban kemudahan mengakses informasi terorisme lewat internet.

Informasi ini sampai level tertentu bisa berhasil membentuk pemahaman seseorang dan meyakininya sebagai suatu kebenaran. Dengan sedikit pemicu, pengetahuannya ini sangat bisa menggerakkan yang bersangkutan untuk melakukan apa yang diyakininya. Dan ini tentu sangat membahayakan, dan sudah pasti akan merusak relasi dan harmoni sosial, ketika si pelaku tidak lagi mampu menggunakan kecerdasannya dalam kehidupan sosialnya.

Selanjutnya; dalam hidup bersama kita masih saling curiga satu sama lain. Antara satu kelompok dengan kelompok yang berbeda masih menyimpan rasa tidak percaya, walau kadang disembunyikan atau disamarkan. Mengapa harus ada dusta di antara kita?

Demikian juga dalam hidup berbangsa dan bernegara, kita masih belum merasa sebagai saudara sebangsa setanah air. Bahkan kita bisa dengan mudahnya terhasut dan terpancing untuk bermusuhan dengan sesama saudara kita sebangsa hanya oleh hasutan dan apa yang terjadi di negara lain. Kenapa?

Saya tidak yakin bahwa si pelaku kenal dengan pastor Pandiangan yang hendak dijadikannya target, demikian juga si pastor yang tidak mengenal si pelaku. Akan tetapi, bagaimana bisa si pelaku memiliki niat yang demikian kepada si pastor yang sama sekali tidak dikenalnya?

Apa yang membuatnya merasa benci dan merasa perlu untuk mengeyahkan si pastor  (dengan kelompoknya )? Terkecuali sebelumnya mereka pernah terlibat perselisihan, mungkin masih bisa dicerna akal sehat. Ini, kenal pun tidak, namun bisa memiliki hasrat demikian. Sungguh mengerikan!

Di sini kita bisa mengerti bahwa si pelaku sebenarnya hanyalah korban. Bagaimana ia dan banyak saudara kita yang lain tidak terjebak dalam tindakan terorisme jika kita sebagai satu kesatuan sosial belum bisa menyepakati apa itu terorisme. Jika konten yang mengandung terorisme masih mudah diakses.

Jika kita, dalam hidup bersama masih saling curiga. Jika kita dalam hidup berbangsa masih bisa begitu mudah dihasut oleh pihak luar dan kejadian di luar sana yang tidak ada kaitannya sama sekli dengan kita sebagai satu bangsa.

Semestinya, kita bisa menghentikan orang-orang seperti IAH menjadi korban, jika kita dalam kehidupan sosial bisa memberikan input kebenaran-kebenaran universal. Menutup akses konten yang mengandung muatan terorisme untuk masuk  dan mendiami  pikiran siapapun. Dengan demikian, mereka tidak dibentuk oleh konten-konten demikian, dan juga kebenaran-kebanaran parsial, tetapi kebenaran universal yang kokoh, yang akan  membuat siapapun menjadi cerdas.

Pada akhirnya, dalam kehidupan sosial yang menuntut kecerdasan, kita semua  menjadi cerdas. Sesuatu yang sangat diperlukan dalam relasi sosial guna membangun harmoni. Kita pasti bisa!