Salah satu kebiasaan saya adalah duduk menikmati sore hari ditemani teh panas dan camilan sekedarnya. Lebih lengkap ditambah dengan gawai untuk kenikmatan yang sempurna. Ketika sedang melihat lihat you tube, mata saya terhenti tentang berita vaksin Covid 19.

Kita tahu sendiri lah bahwa saat ini pemerintah sedang gencar gencarnya melakukan vaksinasi. Tetapi bukan tentang berita program vaksinasi yang menarik perhatian saya saat itu, tapi sebuah video tentang seorang kepala puskesmas pria yang berteriak teriak ketakutan ketika disuntik sampai dipegangi beramai ramai.

Saya jadi heran kok bisa jadi setakut itu ya dengan jarum suntik. Padahal saya dengan jarum suntik sudah sangat biasa karena biasa “mriang” atau demam. Saya jadi teringat juga dengan kepala sekolah saya yang pernah bilang lebih baik “padu” atau bertengkar daripada harus disuntik.

Ingatan saya juga melayang ke peristiwa beberapa hari silam saat istri saya berteriak teriak ketakutan. Setelah saya datangi dengan membawa alat pukul, ternyata hanya dilewati tikus kecil saja. Padahal dengan binatang lain seperti ayam, kucing dan kelinci tidak mengenal takut.

Ternyata orang dewasa dapat dihinggapi oleh rasa takut atau tidak berani dengan hal hal yang sepele. Hal yang mungkin bagi orang lain biasa saja. Saya yakin rasa takut itu pasti disebabkan oleh berbagai factor. Salah satunya adalah kondisi keluarga. Bagaimana orang tua mendidik anaknya dan kondisi sosial keluarga sangat mempengaruhi mental seseorang.

 Rasa takut ini tidak sebatas takut dengan jarum suntik, tetapi juga takut atau tidak percaya diri untuk memulai suatu hal positif, takut berbicara atau mengemukakan pendapat di depan umum, takut untuk salah dan lainya.

Mental pemberani terbentuk dari keluarga yang mengajarkanya. Mental pemberani yang terbentuk dari keluarga akan lebih mendarah daging dan bertahan lama daripada pengaruh lingkungan atau kondisi terpaksa. Oleh karena itu, sangat penting bagi keluarga terutama orang tua untuk membentuk mental pemberani dari seorang anak.

Mengajarkan anak untuk berani mngemukakan pendapat, berani untuk berkompetisi dengan yang lainya sangat penting untuk menumbuhkan mental berani. Selain itu, selau memberi feedback yang positif terhadap anak juga tidak kalah penting. Keluarga yang harmonis juga akan berpengaruh terhadap mental anak.

Keluarga yang tidak harmonis akan berpengaruh pada mental anak. Perceraian, kekerasan dalam rumah tangga akan membuat jiwa anak tertekan. Kondisi tersebut akan terbawa bahkan ketika anak itu telah dewasa. Keraguan, perasaan minder, tidak berani mengambil sikap akan selalu terbawa.

Oleh karena itu, saya berpendapat penting bagi orang tua untuk menyadari hal ini. Menjaga mental anak sangat penting untuk perkembangan jiwa anak tersebut. Memang anak bisa belajar dari lingkungan, tetapi itu butuh waktu dan hasilnya tidak akan maksimal. Dibandingkan jika sedari dini mereka terlatih mentalnya di dalam keluarga yang harmonis.

Saya tidak bermaksud menyimpulkan bahwa anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis tidak memiliki mental berani. Mereka juga mempunyai tetapi biasanya kea rah negative.

Saya biasa mengamati perilaku murid saya yang berasal dari keluarga harmonis dan broken home. Anak broken home umumnya memiliki gangguan psikis. Sikap berani mereka biasanya terwujud dalam kenakalan remaja, kemalasan , pemarah dan lain sifat negatif lainya.

Walaupun mental dapat dididik di lingkungan fornal, tetapi peran keluarga dalam mendidik pondasi mental anak tetap tidak tergantikan. Anak yang mentalnya terbentuk dari keluarga akan lebih siap dan berani dalam bertindak dan akan terbawa sampai mereka dewasa.

Sedangkan yang tidak terbentuk mentalnya dari keluarga, penyesuaianya akan lebih sulit. Anak akan selalu ragu ragu dalam menganbil suatu tindakan. Pendeknya menjaga mental anak dan melatihnya untuk berani memulai sesuatu akan membentuk sikap berani anak tersebut sampai mereka dewasa.

Sifat berani juga dapat muncul karena terdesak dan pengaruh lingkungan. Sifat terdesak ibaratnya seperti hewan yang jika terdesak atau kepepet, akan muncul sifat beraninya. Situasi yang tidak memberikan pilihan lain bagi seseroang akan menimbulkan keberanian.

Misalnya seorang kepala keluarga yang terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja, sementara dirumah anak dan istrinya butuh makan, dia akan kepepet untuk mencari pekerjaan apapun supaya dapat penghasilan. Selain itu lingkungan sosial sesorang akan mempengaruhi keberanian seseorang.

Jika secara individu seseorang tidak berani melakukan sesuatu, dengan bersama sama keberanian seseorang akan muncul contohnya adalah demonstrasi, aksi massa dan lainya. Selain itu dalam suatu lingkungan, keberanian akan muncul sebagai bukti bahwa sesorang sama dengan lainya atau tidak mau dianggap remeh.

Sosial dapat juga berupa pendidikan formal dan informal. Pendidikan informal dapat berupa keluarga dan lingkungan sedangkan pendidikan formal berupa sekolah baik dari jenjang pendidikan dasar sampai menengah. Pendidikan formal menjadi salah satu wadah untuk mendidik mental siswa.

Dalam kegiatan belajar mengajar, menyuruh siswa untuk tampil ke depan, bertanya, menjawab dan mengemukakan pendapat adalah pendidikan mental. Selain itu kegiatan ekstrakurikuler juga membentuk mental siswa untuk berani mengaktualisasi dirinya.